Tentang Film "Rectoverso"

Kalau boleh jujur, Film Indonesia adalah salah satu jenis film yang paling jarang gua tonton selama ini. Hanya beberapa film saja yang bisa mengambil hati gua pada waktu gua sempat melihat trailer, judul serta review filmnya. Bahkan, sampai sekarang pun gua sama sekali belum menonton Film Habibie Ainun plus 5 Cm. yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia saat kemarin itu. Walaupun film-nya memang bagus, tapi sayangnya gua serasa terlalu malas untuk menontonnya. Karena sekali lagi, ini semua adalah masalah hati, dan untuk di minggu ini, hanya ada satu Film Indonesia yang sanggup mengambil hati gua dengan cepat, yaitu sebuah film yang berjudul "Rectoverso".


Mengapa film ini sampai sanggup untuk mengambil hati gua? Padahal film yang ber-genre omnibus ini juga disutradarai oleh lima orang aktris cantik Indonesia yang "sama sekali" belum pernah menekuni profesi menjadi sutradara. Yah, sebenarnya singkat sekali jawabannya. Hanya satu kalimat yang tertera di trailer dan juga poster-nya, yang pada akhirnya mampu untuk membuat gua menjadi langsung jatuh hati dan ingin sekali untuk menontonnya, yaitu: "Cinta yang tak terungkap".

Hahaha.... memang karena kalimat tersebut adalah salah satu dari pengalaman pribadi gua, yang sungguh menyakitkan, yah, pada akhirnya gua pun langsung dengan cepat menontonnya pada Hari Jumat kemarin. Dan senang sekali, ternyata ceritanya memang begitu manis, sedih, dan menyakitkan, sesuai dengan ekspektasi gua. Namun tentunya, karena ini adalah lima film pendek, jadinya gua pun akan sangat membandingkannya pada saat sudah selesai menontonnya. 

Dan langsung saja, gua akan memberikan review singkatnya dari lima film yang berasal dari kumpulan cerpen karya Dewi 'Dee' Lestari ini.

1. Malaikat Juga Tahu (Sutradara: Marcella Zalianty)


Tentunya bagi orang-orang yang sangat menggemari lagu yang berjudul sama dengan film ini, yang dulu sempat dinyanyikan oleh Dewi Lestari, pastinya kalian akan dengan mudah bisa menebak cerita dari film ini. Karena dari video clip lagu-nya yang dulu pun sangat sama dengan apa yang akan disajikan di film ini, yang bahkan, aktor utamanya, Lukman Sardi pun juga ikut terlibat kembali disini, menjadi seorang pria dewasa yang menderita autism.

Ceritanya adalah, Abang (Lukman Sardi), ia ternyata juga memiliki rasa 'cinta' sama seperti manusia normal lainnya, dan itu ke salah seorang penghuni kos di rumah ibu-nya. Nama wanita tersebut adalah Leia (Prisia Nasution), dan mereka berdua sempat berkali-kali memiliki momen yang indah, seperti pada waktu sedang tiduran di atas rumput, untuk melihat bintang-bintang di langit. Yah, mereka berdua ini bisa terbilang sangat akrab, dan Leia pun sangat mengerti Abang. Namun semuanya berubah menjadi pelik pada waktu adiknya Abang, Hans, tiba-tiba pulang dan pada akhirnya mampu untuk mendekati Leia, serta membuat hubungan mereka berdua ini menjadi lebih dalam. Dan hal tersebut adalah sebuah mimpi yang paling buruk untuk Abang, yang sudah benar-benar memperlihatkan kepada para penontonnya, kalau rasa cintanya itu juga bisa berubah menjadi sebuah sakit hati yang paling menyedihkan di dalam kehidupannya.

2. Firasat (Sutradara: Rachel Maryam)


Kali ini kita akan melihat sebuah kisah dari seorang perempuan bernama Senja (Asmirandah), yang dimana ia ternyata memiliki sebuah kemampuan yang khusus, yang dapat melihat sebuah kejadian yang buruk di dalam kehidupan orang lain, dan itu selalu terjadi pada saat ia sedang bermimpi. Yah, itu adalah sebuah firasat, dan beruntunglah, di dekat rumahnya pun ada sebuah klub bernama firasat juga, yang isinya adalah kumpulan dari orang-orang yang juga sama memiliki kemampuan khusus seperti Senja tersebut.

Di dalam klub ini, ada seorang pria yang sekaligus juga pemimpin dari klub tersebut. Namanya adalah Panca (Dwi Sasono), dan Senja pun jatuh cinta kepadanya. Namun cinta-nya itu ternyata malah berubah menjadi sebuah ketakutan sewaktu ia tiba-tiba saja mendapatkan firasat kalau Panca akan meninggal sebentar lagi.

3. Cicak di Dinding (Sutradara: Cathy Sharon)


Kehidupan malam Jakarta, sebuah klub, bir, dan seks bebas, akhirnya mampu untuk mempertermukan Taja (Tio Pakusadewo) dengan seorang wanita cantik bernama Saras, pada waktu tiba-tiba saja Saras (Sophia Latjuba) sedang menatap Taja dari kejauhan, saat Taja sedang minum sendirian di dalam sebuah klub pada malam hari. 

Dan setelah pertemuan singkat dan seksi dari mereka berdua pada waktu malam itu, ternyata secara kebetulan pun, mereka berdua pada akhirnya bisa bertemu kembali di dalam sebuah kafe beberapa hari kemudian. Dan itu adalah sebuah momen yang sungguh manis, yang terlihat melebur sekali di antara tatapan mereka berdua. Namun sayangnya, semua itu harus berakhir sewaktu Taja mengetahui kalau Saras adalah sang calon istri dari rekan kerjanya sendiri.

4. Curhat Buat Sahabat (Sutradara: Olga Lydia)


Dibuka dengan sebuah curhatan di dalam sebuah kafe, itu lah yang dilakukan oleh Amanda (Acha Septriasa) di hadapan sahabatnya, Reggie (Indra Birowo). Dan sudah sejak lama Reggie menjadi teman curhatnya Amanda, dari segala keluh kesah-nya terhadap para pria yang pernah masuk di dalam kehidupannya.

Kisah-nya simple, sebuah curhatan dan juga beberapa kisah flash back di masa lalu. Namun pada saat Amanda sedang memutuskan untuk bernyanyi di dalam kafe tersebut, semua rahasia pun menjadi terungkap.

5. Hanya Isyarat (Sutradara: Happy Salma)


Kisah yang ke-lima ini juga sama simple-nya dengan yang ke-empat. Sebuah curhatan yang dilakukan oleh lima orang backpackers bernama Tano, Dali, Bayu, Raga, dan salah seorang perempuan yang dipaksa ikut, bernama Al (Amanda Soekasah).

Sejak awal cerita, Al sudah menegaskan kalau ia sedang jatuh cinta. Dan laki-laki yang sempat ia cintai itu adalah Raga, yang ternyata harus menjadi sebuah angin belaka pada saat mereka berlima sedang saling curhat di malam itu.


***

Ada banyak rasa sakit, air mata, plus sebuah kenyataan yang pahit di film ini. Dan semua itu sangat melebur dengan baik, sebab di film ini pun diisi dengan para aktor dan aktris yang sungguh berkualitas, plus satu hal lagi yang paling penting, yaitu: soundtrack-nya. Karena coba saja kita lihat dan dengar, lagu yang dibawakan oleh Glenn Fredly disini, yang dimana ia yang kali ini menyanyikan lagu "malaikat juga tahu", dan itu sangat pas saat dimainkan di film ini. Atmosfer-nya yang begitu pedih sungguh terasa, apalagi saat aktor Lukman Sardi sedang bermain dengan begitu baik pada saat ia sedang mengalami rasa sakit hati sebab kepergian wanita yang sungguh ia cintai-nya itu. Hal tersebut benar-benar adalah sebuah momen yang paling menyayat hati di keseluruhan film ini.

Namun gua harus jujur bilang, kalau kisah yang paling gua suka itu adalah kisah yang sedang dirasakan oleh tokoh Al di "Hanya Isyarat". Rasanya itu sangat sedih pada saat Amanda Soekasah sedang mengungkapkan kalau ia sedang jatuh cinta, dan cintanya itu hanyalah sebatas sebuah punggung dari seorang pria, yang hanya bisa ia lihat, namun tak bisa ia gapai dan juga nikmati. Itu adalah sebuah pengalaman pribadi yang memang paling menyakitkan di dalam kehidupan ini....

Yah, lima film ini tentunya sama-sama memiliki nilai plus dan minus-nya masing-masing. Dan memang perlu diakui untuk usaha kerja keras yang sudah dilakukan oleh lima orang sutradara muda dan cantik-nya disini, yang sama-sama belum sekalipun menekuni profesi tersebut, namun setidaknya mereka sudah berhasil menghasilkan sebuah karya yang mampu untuk dicintai oleh para penontonnya. Lalu tak lupa juga untuk seorang Lukman Sardi yang sudah berperan dengan sangat baik di film ini, yang mampu memperlihatkan sebuah rasa cinta dan juga sakit hati dari seorang penderita autism. Dan tetap, "Hanya Isyarat" adalah sebuah kisah yang paling menyakitkan, yang harus menjadi raja-nya di film ini (buat gua pribadi hehehe).

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath