Cerpen: "Diambil Sahabatku"

Sudah tiga tahun semenjak aku mengenal dan juga mencintainya. Sampai sekarang, sampai detik ini, aku tak akan pernah bisa melupakan wajahnya, dan itu pun selalu pada waktu hari sudah menjelang malam, ataupun pagi, dan juga baik itu pada saat aku sedang merasakan sedih, serta senang. Sebuah harapan yang sudah tercipta sejak pertama kalinya aku menatap dia, memang adalah sebuah kekuatan yang sangat besar, untuk aku merasa sangat terikat sekali dengannya. Yah, walaupun begitu..... tetapi mengapa cinta ini harus bertepuk sebelah tangan?

Fendy, aku hanya bagaikan pembantu rumah tangga untuknya hingga kini. Namun itu pun karena aku lah yang ingin menjadi seperti itu, yang benar-benar tiap ia selalu menginginkan sesuatu, pasti aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan hal tersebut, seperti pada waktu ia pernah menginginkan sebuah sepatu baru di hari ulang tahun-nya yang ke-17, aku pun mau untuk menabung dari hasil uang jajanku tiap harinya, hanya untuk memberikan sepatu yang ia mau tersebut. Dan hal-hal seperti ini masih terus terjadi walau aku sungguh tersadar, kalau ia tak akan pernah mau untuk memilikiku. Namun tetap, selama ia masih belum memiliki pacar selama tiga tahun ini, sungguh harapan itu masih ada. Aku masih menunggunya untuk tersadar, kalau apa yang sudah aku lakukan itu, adalah karena atas dasar cinta, ya, sungguh sebuah cinta yang sesungguhnya.

Hahaha.... Bodoh sekali aku jika masih bisa berbicara seperti ini. Yah, soalnya siapa yang sangka, kalau sekarang aku malah harus menjadi makin menderita semenjak kehadiran dari salah seorang sahabatku, Lea. Yup, tak usah panjang-panjang lagi, jadi selama sebulan sejak ia balik dari Taiwan, untuk menikmati waktu libur dari semester satu kuliahnya, kami pun sempat jalan bareng, lalu tiba-tiba saja bertemu dengan Fendy, dan langsung deh, mereka menatap dengan pandangan saling suka. yang lalu, ternyata tanpa sepengetahuan aku, mereka berdua itu sempat berjalan berdua di sebuah Mall di keesokan harinya. Dan kemudian, mimpi paling terburuk-ku pun akhirnya menjadi kenyataan.


***

Satu tahun kemudian.....

Krrriiinnnngggggg.....!!!!

"Ya, halo?" 

"Maudy, undangannya udah nyampe kan di rumah kamu?" Tanya Lea yang sepertinya sedang tergesa-gesa.

"Iya, udah kok Le. Btw, selamat yah atas pernikahan kamu sama Fendy. Aku turut bahagia deh." Kataku yang harus diisi dengan banyak kekuatan berbohong. Dan nanti aku juga harus berbohong lagi kepadanya, mencari-cari alasan, agar aku bisa tak datang ke pernikahannya itu.

"Oh, bagus deh. Hmm... Aku boleh minta bantuan kamu gak buat pernikahan aku nanti?"

"Hah? Apa itu Le?"

"Dari kemarin-kemarin itu aku udah mikir, kalau yang paling baik jadi pengiring aku itu ya kamu, Maudy. Kamu mau yahh.... Walaupun kita cuma bersahabat dari SD sampai SMP."

Oh Tuhan?! Aku harus jawab apa ini??!! 

Tiba-tiba suasana pun menjadi hening sejenak.

"Halo? Halo Maudy? Kamu masih ada disana kan??"

"Eh i-iya Lea. Hmm.... gimana yah.... Masalahnya aku juga gak tahu nih bisa datang apa enggak. Soalnya di tanggal segitu aku sebenarnya udah beli tiket ke Singapura. Aku udah beli dari enam bulan lalu, soalnya waktu itu lumayan agak murah harganya." Bohongku yang lalu sambil buang nafas.

"Hah?! Haduhhh......... Masa kamu gak datang sih ke pernikahan aku? Ayolahh..... Cuma kamu nih yang bisa nenangin aku sebelum aku ngucap janji ke Fendy. Jujur deh, sekarang aku merasa kurang yakin untuk menikah dengan dia. Aku tiba-tiba merasa belum siap, padahal waktu dia ngelamar aku itu, aku rasanya senang sekali, yang bahkan sampai nangis waktu kemarin itu."

Bagus deh, lebih baik kamu ngerasa gak siap terus, lalu pernikahan kamu batal deh Lea. Hahaha....

Keadaan pun kembali hening.

"Halo???"

"Eh, ha-halo Leaaa..... Waduh, gimana yah. Liat aja deh nanti ya. Aku juga bingung banget nih."

"Lah, kok begitu Maudy?? Gini deh, nanti aku ganti uang kamu yang ke Singapur itu. Beneran deh, aku sangat sangat sangaatttt butuh bantuan kamu disini!"

"Jangan Lea. Gak usah sampai segitunya juga. Ya, pokoknya nanti deh ya liat aja. Aku mikir-mikir dulu." 

"Please.... Tinggal seminggu lagi nih. Aku butuh kepastian kamu sekarang. Aku benar-benar gak tau lagi harus minta tolong sama siapa, dan cuma kamu yang paling mengerti aku Maudy. Ayolah..... Ini sungguh hari yang paling penting buat aku. Aku bakal nikahin laki-laki yang bener-bener aku cintai kali ini. Sumpah deh Maudy, aku itu udah mau setia sama dia. Dan walau kami memang sering suka berantem, tetapi dia itu sungguh pria yang bertanggung jawab. Dia juga sering ngalah ke aku. Haduuhhhh........ tapi yang terpenting sekarang adalah aku butuh kamu Maudy. Aku butuh kamu untuk yakinin aku kalau dia ini adalah laki-laki yang benar buat aku. Sekarang aku sungguh seperti perahu yang sedang terombang-ambing di tengah badai lautan. Tolong Maudyy....!"

"Ih, kamu kok bawel sekali yah." Kataku kesal.

"Hah? Maksud kamu??"

"Iya, kamu itu lebay banget deh. Orang lain tuh mana ada yang kayak kamu. Ini kan cuman pernikahan, ya kamu jalanin aja lah. Repot banget sih."

"Kok kata-kata kamu jadi seperti......."

"Seperti apa?!"

"Ah lupakan deh. Mungkin kamu sekarang lagi sibuk kali yah. Nanti kalau kamu udah gak sibuk, kamu sms aku ya, nanti aku telpon kamu lagi."

"Jah, siapa yang lagi sibuk?? Aku itu sekarang malah lagi tidur-tiduran sambil baca majalah tauk. Jangan kepoh deh!"

"Maudyyy..... Kamu kenapa?? Kenapa kamu jadi kasar begini ke aku??"

"Ya soalnya kamu lebay banget sih. Habis itu kamu juga udah........"

Waduh?! 

"Hah?! Udah apa Maudy?? Aku udah apain kamu memangnya??"

"Gak. Lupakan saja. Ah, udah deh ya, sekarang aku mau pergi dulu. Kamu siapin aja pengiring yang lain yah, soalnya aku udah pasti gak bakal bisa datang ke pernikahan kamu nanti."

?!

Dan lagi, keaadan pun kembali hening. Hingga akhirnya Lea mengatakan sesuatu kepadaku, yang sungguh buat aku menjadi terkejut.

"Kamu suka sama Fendy ya...? Sudah berapa lama, Maudy?" Tanyanya yang langsung menyentak jantungku secara tiba-tiba ini.

Oh Tuhan.... Apakah ini adalah saatnya untuk aku jujur ke orang lain?? Tapi ini adalah sahabat aku yang akan menikahi Fendy. Oh Tuhan..... Bunuh lah aku.

"Halo Maudy? Halo?"

"Eh iya halo.... Hmm.... Kenapa tiba-tiba kamu ngomong seperti itu??"

"Maudy..... Aku ini udah kenal kamu sejak kecil. Aku tahu saat-saat dimana kamu sedang jatuh cinta ke orang, dan aku juga tahu kalau kamu itu adalah tipe cewek yang akan selalu setia sama orang yang sedang kamu cintai itu, seperti si Gunawan, yang sekarang lagi di Australia itu."

"Jangan sebut-sebut nama dia lagi deh. Aku udah berhasil ngelupain dia soalnya."

"Jadi, kamu sudah berapa lama suka sama Fendy?"

Aku pun tarik nafas sejenak, lalu akhirnya kusebutkan hal tersebut....

"Empat tahun! Puas?!"

"Oke Maudy, sekarang aku benar-benar sedang berada di posisi yang sangat salah di hadapan kamu. Dan aku ingin minta maaf kalau aku yang malah jadi pacarnya Fendy sekarang. Sungguh Maudy, aku minta maaf. Tapi aku juga ingin bilang sama kamu, kalau Fendy itu bukan lah laki-laki yang baik buat kamu. Dia tak pantas buat kamu, Maudy."

"Jih!! Kamu lagi ngeledekin aku ya?! Seneng ya ngejahatin sahabat kamu sendiri pake kata-kata kamu tadi?!"

"Bukan Maudy, bukan.... Kamu harus tahu ini. Hal kenapa aku bisa menikah cepat sama dia, disaat usia aku sama dia sekarang masih 21 tahun. Ya, kamu dan beberapa orang lainnya pasti sudah tahu lah ya kenapa."

"Ada sih orang yang sempat bilang soal 'itu'. Tetapi aku gak percaya ah. Soalnya Fendy itu kan memang pewaris dari kakeknya yang kaya raya itu, jadinya dia sudah pastinya mapan untuk nikahin kamu. Ckck... Enak ya kamu, bisa dapetin cowok yang kaya kayak dia."

"Gak, Maudy. Kamu harus percaya kalau aku sudah hamil sejak tiga bulan kemarin! Dan itu juga karena dia yang dengan nafsunya, memperkosa aku sehabis dia kasih aku obat tidur!!!!"

?! 

"Fendy itu adalah pria yang sangat bernafsu sekali, Maudy. Dia sudah berkali-kali main sama banyak cewek sejak dia SMA. Dan bahkan sejak kami lagi pacaran aja, sebenarnya dia sering sekali serong di belakang aku. Oleh karena itu lah kenapa aku sering berantem sama dia. Apalagi karena aku yang terus bersikukuh sama dia untuk minta dia agar tidak meniduri aku sebelum menikah nanti, yang tapi sayangnya, dia itu seperti sudah menjadi binatang yang sudah buta karena nafsu. Ya, sebab itu lah aku butuh bantuan kamu, karena aku benar-benar ada rasa tak ingin menikahi laki-laki keparat seperti ini! Walaupun dia mau bertanggung jawab, tetapi aku sekarang malah memiliki rasa jijik ke dia, yah, walaupun cinta juga masih ada sih. Ah!!! Aku benci hal ini!! Aku bisa gila lama-lama, Maudy!!!"

Hmm.... Aku sungguh terkejut saat mendengar kenyataan dari Fendy ini, yang sudah pastinya aku sangat percaya sama kata-katanya Lea itu. Aku tahu disaat ia jujur dan sedang tersiksa, karena ia memang adalah sahabat terbaik aku.

Namun sekarang lebih baik aku tutup saja telepon ini, karena aku juga sedang shock berat, dan aku tak ingin berbicara sama siapa-siapa dulu.

Klik!


***

Empat tahun sudah, berhasil aku lewati hanya untuk mencintai laki-laki yang salah. Laki-laki yang tak punya harga diri, dan memang sudah tercipta-hanya untuk selalu menyakiti banyak hati perempuan. Yah, aku lah salah satunya, walaupun aku tak pernah sekalipun ditiduri olehnya seperti wanita-wanita yang lainnya itu.

Jadi memang, selama ini aku sudah berhasil dibohongi oleh pesonanya. Dan ketika sahabat aku datang lalu menjadi kekasihnya, yang sekarang mereka pun pada akhirnya sudah menikah, sebenarnya perasaan aku ini masih tetap sama ke dia. Yup, aku masih suka sama dia, walau sekarang mungkin akan menjadi makin menipis karena aku sudah sampai di Singapura kini, dengan harus membeli tiket yang harganya itu reguler, atau dengan kata lain 'mahal', bukanlah promo seperti yang sempat aku katakan ke Lea.

Namun, sama seperti Gunawan dulu, jalan satu-satunya agar perasaan aku ini bisa hilang ke orang yang aku suka adalah, dengan tak melihatnya lagi dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan kalau pada waktu itu beruntungnya aku, Gunawan lah yang pergi menjauh dengan sendirinya karena paksaan dari orang tua-nya untuk ke Australia tersebut, tetapi untuk kali ini, aku lah yang mengalah pada Fendy. Aku akan meneruskan kehidupanku di negara yang memiliki simbol kepala singa ini. Dan aku pun pastinya akan mencari cinta yang baru disini, dengan tentunya tidak terlalu gila seperti yang dulu-dulu.

Lalu, jika ada yang bertanya soal bagaimana hubungan persahabatan aku dengan Lea, yah, pada waktu aku tutup telpon, keesokan harinya aku langsung mendatanginya, untuk mendengarkan keluh kesahnya yang sudah benar-benar fatal itu. Namun tetap, untuk di hari pernikahannya, kubiarkan diriku menjadi pemain antagonis pada saat itu. Kubiarkan Lea menghadapi kebimbangannya sendiri. Karena aku pun tahu, kalau Lea masih mencintai Fendy. Dan lambat laun pastinya Fendy akan berubah ke Lea, soalnya mereka ini benar-benar adalah sepasang kekasih yang intinya adalah masih memiliki kata 'cinta' itu. Yup, kehidupan mereka berdua pastinya akan sangat bahagia nantinya.

Sedangkan aku, aku hanyalah salah satu dari wanita yang sedang kesepian.... Dan sedang berkelana di sebuah negara yang belum pernah aku singgahi ini.

Semangat Maudy!!

*The End*

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath