Cerpen: Pilihan

Hari-hariku semakin sulit disaat aku sedang dihadapkan dengan pilihan yang sangat menyebalkan seperti ini. Sampai detik ini pun aku sama sekali tak tahu harus memilih yang mana di antara kedua hal yang sama-sama penting di dalam kehidupanku. 

Amerika atau kah Singapura yang harus kupilih? Kedua negara ini sungguh sangat jauh untukku jika aku harus memilih kedua-duanya. Karena tak mungkin setelah aku mendaki ilmu di tanah Uncle Sam itu, lalu aku juga harus pulang ke Singapura untuk hidup bersama kekasihku, John, yang sudah tiga tahun kami berpacaran. Hhhh..... andai saja aku terlalu bodoh sehingga tak mendapatkan beasiswa untuk belajar ilmu peran, atau mungkin seandainya juga aku tak terlalu mudah termakan kata cinta yang tulus dari John pada saat kami masih SMA dulu, pastinya aku sekarang ini tak punya pilihan apa-apa. Hanya satu tujuan tanpa beban yang harus aku tuju untuk kehidupanku berikutnya.

...


"Halo John. Kamu kenapa telpon aku malam-malam begini?" tanyaku setelah aku mengangkat telpon darinya. Sekarang aku sedang berada di dalam kamarku sambil mengepak semua pakaian dan barang-barang yang harus kubawa, dan tanpa tahu akan besok harus memilih negara yang mana.

"Aku tahu kalau kamu sekarang sedang gelisah karena kedua pilihan ini. Aku sekali lagi benar-benar ingin kamu tahu, kalau aku akan tetap sayang sama kamu dan tak akan selingkuh jikalau kamu memilih pergi ke Amerika besok. Ingat lagi soal impian kamu Maudy."

"Dan kamu juga harus ingat lagi ya kalau aku tak suka hubungan yang long distance. Aku benci hal itu! Aku tak mau terus merindu sama seperti dulu saat kamu harus liburan bersama keluarga kamu ke Bali selama dua minggu. Aku hampir aja ingin beli tiket ke Bali waktu itu kalau saja aku tak ingat soal ulang tahun adikku."

"Iya Maudy, tapi ini kan hal yang besar buat kamu. Kamu sudah berusaha untuk dapat beasiswa ini sejak kamu SMP. Kamu sudah jatuh cinta terhadap Hollywood, dan tubuh kamu pun sudah kamu permak sampai akhirnya se-proposional itu. Untuk hubungan kita, kalau memang jodoh, pasti kita bakal kembali bersama lagi deh. Aku yakin itu."

"Oh, jadi kamu kira kalau selama kita berhubungan, aku sama sekali tak berusaha untuk menjaga hubungan kita agar tetap harmonis?! Kamu lupa kalau aku sudah sangat sering bersabar jikalau kamu sedang bermain game online dan tak pernah menjawab telponku karena lagi autis-autisnya kamu?! Dan, apa maksud kamu 'kalau memang jodoh, pasti kita bakal kembali bersama lagi'?! Kamu mau putus sama aku?!?!"

"Bukan Maudy, bukan. Inget ya, kita sudah membahas ini sebelumnya. Yang pertama, kamu jangan sekalipun bilang kalau kamu saja yang sudah berusaha dan membuat kata-kata sepertinya aku yang paling berdosa disini. Kita harus tetap equal, karena aku juga sudah berusaha menghadapi emosimu yang terus-terusan meledak itu. Yah, aku cuma tak ingin ribut atau berdebat apa-apa deh sama kamu. Dan aku juga tak bermaksud untuk putus sama kamu. Maksud aku, kalau nanti kita berjauhan, ya kalau Tuhan bakal kasih keajaiban, nantinya aku akan pindah ke tempat kamu dan menemani kamu disana. Itu arti jodoh maksudku."

"Oke, maaf John, karena aku sudah meledak-ledak lagi. Aku benar-benar lupa karena masalah pilihan beratku ini. Jujur, aku sungguh butuh kamu John. Kamu itu sudah seperti segalanya untuk aku. Kamu itu yang nanti akan menjadi pendamping hidupku. Bukanlah karirku ini."

"Kamu mau menjadi pendamping hidup aku Maudy?"

"Iya John. Kamu mau kan menikahiku nanti?"

"Hahaha.... kamu ini.... Baru saja kita tamat SMA, sudah mikirin soal nikah."

"Jadinya kamu tak mau nih nikah sama aku nanti?! Jadi pacaran kita selama tiga tahun itu sia-sia ya."

"Enggak Maudy. Kamu jangan salah sangka lagi. Aku cuman, masih belum mikirin hal tersebut. Ya tapi aku tahu lah kamu, yang memang terlalu banyak berpikir sampai ke depannya kamu akan jadi apa."

"Hhhhh John.... aku juga sebenarnya bingung akan hal itu. Aku tak tahu bakal jadi apa kelak. Apakah jadi istri kamu, ataukah jadi artis hollywood yang benar-benar rasanya impossible untuk saat ini. Aku masih seperti dulu. Masih berharap akan keputusan orang lain, bukan aku sendiri untuk masalah seperti ini."

"Kamu harus tegas Maudy sama hidup kamu. Jangan sampai kamu malah menjadi pengikut terus. Ingat, kamu itu kepala...."

"Dan bukan ekor. Ya aku tahu hal itu. Aku cuma sedang masih menikmati apa yang masih menjadi diriku ini John hahaha...."

"Oke-oke... aku kan sudah bilang sama kamu untuk pilih ke Amerika saja. Jadinya kamu harus kesana yah."

"Enggak John. Bukan seperti itu juga. Untuk hal ini, aku sebenarnya sangat butuh satu motivasi lagi agar aku tahu harus memilih yang mana. Sampai sekarang aku soalnya masih mempertimbangkan laba dan rugi untuk kedua hal ini."

"Coba kasih tau ke aku apa laba dan rugi-nya."

"Oke, kalau aku ke Amrik, aku harus bersaing sama para wanita lainnya yang aku yakin pasti disana mereka lebih tinggi dan pintar dari pada aku. Dan itu pasti sulitnya mampus-mampusan deh. Namun, kalau aku berhasil, ya aku bakal dengan senang melakukan semua pekerjaan yang ada. Sedangkan kalau aku pilih kamu, ya sudah pasti aku bakal selalu bahagia seperti sekarang ini."

"Gak ada ruginya kalau sama aku?"

"Hmmm..... apa ya.... soalnya seolah hubungan kita ini stabil. Jarang ribut lagi. Dan aku suka itu."

"Kamu pernah gak sih berpikir kenapa kita jarang ribut?"

"Ya sesuai sama yang kamu bilang kan tadi. Kamu itu jarang membalas emosiku yang meledak-ledak. Kamu juga sabar orangnya. Dan dan, kamu juga tidak terlalu banyak menuntut. Jadinya aku bisa agak bebas deh hehe...."

"Kamu tau kenapa aku itu jarang menuntut ke kamu?"

"Ya mungkin karena itu memang sifat kamu kali. Aku tak tahu lah."

"Hhhh... Maudy Maudy..... kita itu sudah pacaran selama tiga tahun, tapi kamu sama sekali masih belum kenal aku ya."

"Maksud kamu apa sih?"

"Kamu itu memang juga suka berprasangka buruk ke aku. Tapi ada satu hal yang tak pernah kamu sangka-sangka-kan ke aku sejak dulu."

"Apa itu memangnya?"

"Kalau aku sudah berselingkuh."

Glek! Tiba-tiba jantungku tersentak bukan main. Membuat tanganku menjadi agak sedikit bergetar.

"Kamu.... sudah selingkuhin aku?"

"Iya Maudy. Lebih baik kamu meraih impian kamu saja ya. Karena aku ini bukanlah laki-laki yang baik buat kamu. Karena aku pikir juga, kamu itu selalu buat aku jadi ngerasa seperti di penjara melulu. Sifat suka meledak-ledaknya kamu itu sudah buat aku jadi pusing selama tiga tahun ini. Dan rasa cinta aku benar-benar terus terkikis hingga sekarang. Sebagai pacar kamu sebenarnya payah."

"Ka-kamu ngomong apa sih John?? Kok kamu tiba-tiba jadi begini??"

"Kamu kok bodoh sekali yah. Tapi aku sih memang tak heran soal kebodohan kamu itu. Apalagi mengenai soal menikah dengan aku. Sudah pasti aku tak akan pernah menjawabnya lah. Soalnya laki-laki yang mau menikahi kamu itu adalah laki-laki yang sangat tolol tau gak!"

"JOHN?!"

KLIK!

Dan telpon darinya pun terputus dengan cepat, pada waktu aku ingin sekali memaki-maki dirinya karena perkataan jahanam-nya itu. Membuatku sekarang menjadi tambah gelisah, pusing, geram dan bahkan membuat mata dan pipiku menjadi terasa hangat karena air mataku sudah mulai keluar. Dan kini, aku tak akan mengirimkan pesan atau menelpon si keparat itu untuk melanjutkan emosiku yang sudah membara ini. Aku hanya ingin tidur, karena Tuhan sudah memberikan sebuah petunjuk kepadaku soal aku harus pergi kemana esok. Dan Ia juga sudah memberikanku sebuah pencerahan kalau John adalah laki-laki yang memang tak pantas di dalam hidupku ini!!

Terima kasih Tuhan.....


...


Esok hari, pukul: 22.00 PM

"Halo Maudy. Sudah sampai di Amerika?" Tiba-tiba John menghubungiku dan langsung menanyakan nasibku kini. Membuatku sekarang menjadi sangat kesal.

"Ngapain telpon?!"

"Kamu jangan marah dulu Maudy. Aku kemarin itu bohong sama kamu."

"Bohong?!"

"Iya. Kamu kan katanya butuh motivasi buat kamu memilih salah satu. Itu aku sengaja biar kamu pergi ke Amrik...."

"Goblok!! Sekarang gua masih di kamar gua sendiri taik!! Dan gara-gara ketololan lu gua jadi gak dapetin apa-apa sekarang, cuma rasa sakit dari kejeniusan sial lu itu!!"

KLIK!! BAM!!

SIAL!!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath