Cerpen: "Ditegur Diriku Sendiri"

Malam yang begitu dingin, yang seolah-olah bisa menusuk tulang di dalam tubuhku pada pukul sebelas ini. Setelah kuputuskan untuk membuat hot chocolate di dapur sebentar, lalu kembali lagi ke dalam kamarku yang berada di lantai dua ini, kini pun aku melakukan hal yang sudah menjadi kebiasaanku, yaitu: duduk di depan meja riasku dengan sebuah kaca yang cukup lebar untuk memperlihatkan setengah dari tubuh atasku ini.

Sambil kuminum sedikit-sedikit hot chocolate buatanku ini yang memang sanggup menghangatkan sedikit tubuhku, seraya-aku berbicara dengan diriku lagi di depan cermin, sama seperti malam-malam sebelumnya, yang dimana selalu pada saat aku sedang menghadapi suatu hal yang paling buruk di dalam kehidupanku ini.

"Kamu bodoh, Anna!"bentakku pada diriku sendiri di depan cermin. "Kenapa kamu tadi tidak menyapanya saja?! Kenapa kamu harus menjadi cuek ke Fendi, hah?!"

Dan tiba-tiba saja air mataku keluar, menghangatkan sejenak pipi dan mukaku.... 

Aku sungguh teringat pada momen tadi siang. Sebuah momen yang kini sudah membuatku menjadi tambah sakit. Sebuah momen yang seakan sudah menambah beban penderitaanku sekarang. Dan sebuah momen yang seraya membuatku ingin membentak Tuhan.

"Tuhan! Kau kejam!! Kau tak pernah adil kepadaku! Dan Kau cuma ingin melihat anakMu ini selalu menderita setiap harinya. Apakau Kau sudah puas, Tuhan?!"

Semua kekecewaanku ini terhadap Tuhan ternyata makin membuat air mataku menjadi terus mengalir. Dan seperti biasa, dadaku serasa begitu sesak pada waktu memikirkan kembali akan kenyataan pahit ini. Aku benar-benar tak mengerti dengan pria. Khususnya Fendi. Mengapa ia harus memberikanku cinta pada awal pertemuan, dan lalu membuangku seperti sampah setelah setahun kami pacaran??

"Oh Tuhan..... Aku masih berharap ia bisa kembali denganku lagi. Aku sangat sayang dia....."

"Jangan memakai kata sayang, Anna!" Tiba-tiba saja sebuah suara muncul pada waktu aku sedang menundukkan kepala sambil melap air mataku ini dengan tisue.

"Hah?! Siapa itu?!"

"Ini kamu Anna. Lihat di depanmu." Aku sungguh kaget bukan main, sampai-sampai aku terpental ke belakang dan terjatuh dari bangku-ku pada waktu melihat diriku yang sedang tersenyum tanpa adanya air mata yang mengalir seperti yang sedang terjadi di mukaku ini. Kaki-ku pun langsung gemetar dan lemas sekali untuk berdiri, namun masih sanggup untuk membuatku merangkakkan diri ke tembok belakang.

"Siapa kamu?! Hantu apa kamu, hah?! Pergi!! Jangan ganggu aku!!"teriakku padanya.

Lalu aku pun kembali tersontak dan sangat melotot, pada waktu tiba-tiba saja tubuhnya yang begitu mirip denganku itu keluar dari dalam kaca. Merangkak keluar dan duduk di kursi meja riasku tersebut. Tubuhku benar-benar lemas melihat kejadian gila seperti ini!

"Kamu ngapain takut. Ini kan diri kamu sendiri, Anna."

"Setan!! Jangan ganggu aku! Pergi sana ke alam-mu!! Aku tak mau melihat kamu disini!!!!"

"Anna!!" Teriak ia kepadaku dengan raut muka kesal. Membuatku menjadi diam seribu kata. "Sudah cukup takutnya! Aku ini bukan hantu! Aku ini kamu. Dan aku harus segera membuat diri kamu ini untuk segera move on! Ngerti?!"

"Ma-maksud kamu apa??"

"Okeh. Biar aku jelasin lebih detail-nya ya. Ini mungkin adalah sebuah momen yang akan selalu menghantui kamu. Tetapi ingat, kamu-tidak-gila! Ya, ingat! Kamu-tidak-gila! Karena aku juga hanya akan muncul pada saat kamu habis melakukan tindakan bodoh."

"Wow?! Jangan bilang kalau aku memang sedang berbicara dengan sebuah khayalan yang tercipta dari otakku ini ya?!"

"Ya mungkin bisa dibilang seperti itu juga sih. Tapi gak. Yang terpenting gini sekarang. Aku itu adalah bagian dari dalam diri kamu, yang sebenarnya sudah lama ingin sekali keluar. Aku sudah tak tahan dengan diriku sendiri yang sudah dikuasai oleh kamu."

"Dikuasai aku?? Ini kan tubuh aku. Apa sih?! Aku gak ngerti!"

"Okeh. Anna..... aku ini bisa disebut sebagai jiwa pintar kamu. Selama ini aku sangat kelaparan, karena kamu selalu kasih si jiwa lonely kamu itu banyak makanan."

"Lah?? Aku gak ngerasa habis kasih makan siapa-siapa deh."

"Ini analogi, Anna! Yang penting gini deh. Sekarang adalah momen dimana kamu harus memilih salah satu hal yang penting. Yang pertama, kamu ingin kembali melakukan hal yang bodoh karena Fendi itu, atau kamu ingin kembali jadi penulis? Ingat Anna..... kamu sudah hampir sebulan cuti. Padahal tinggal sedikit lagi kamu bisa mendapatkan posisi yang bagus di tempat kerja kamu! Walaupun bos kamu sudah baik hati dengan kasih kamu liburan panjang agar katanya kamu bisa melupakan Fendi, tapi ini lah saatnya untuk kamu memakai jiwa aku kembali. Sudah cukup dengan Fendi."

"Kenapa kamu bilang seperti itu?" Air mataku kembali keluar pada waktu aku sudah mendengarkan kata-katanya. "Kalau kamu adalah aku, seharusnya kamu bisa lebih mengerti aku sekarang. Bos-ku pun mengerti kalau Fendi adalah kekasih keduaku di usiaku yang sudah mencapai 19 tahun ini. A-aku benar-benar menginginkan kekasih yang setia. Aku sungguh masih berharap sama Fendi. Aku merasa kalau masih ada kesempatan untuk aku bisa mendapatkannya kembali."

"Ya, aku mengerti. Aku itu adalah kamu. Aku tahu apa yang sedang kamu butuhkan sekarang. Aku memang tak akan memaksa kamu dan mengata-ngatai kamu. Aku tahu kalau dipaksa itu benar-benar tak enak. Sama seperti pada waktu Felicia yang pernah terlalu bawel ke kita saat Gerald mutusin kita."


...


"Kamu bodoh, Anna!! Kamu itu sangat cengeng dan gak pantas hidup!! Masa gara-gara laki-laki bejat kayak gitu aja-kamu bisa sampai nangis terus menerus sih?! Kamu tau gak, aku aja bisa move on sama si Hendra itu setelah dua hari dia putusin aku. Nah, kamu juga harus bisa dong! Masa sampai berminggu-minggu kamu jadi cewek lemah kayak gini sih. Payah!!"

"Tapi kami udah pacaran selama tiga tahun, Fel...." Kataku yang sedang menangis sambil berdekap di kasurku, dan melihat Felicia yang sedang duduk di sampingku.

"Jangan pakai tapi-tapi deh. Hidup kamu itu masih panjang. Dan masih banyak juga ikan di laut. Aku sendiri juga sebenarnya pernah pacaran sampai tiga tahun seperti kamu. Ya kamu tahu lah si Janubi. Aku bahkan masih ingat kalau dia sering ngajakin aku makan tiap malam selasa, bukan malam minggu seperti orang-orang kebanyakan. Karena dia bilang biar sepi, jadinya kami bisa bermesraan. Lalu juga aku masih ingat kalau dia juga pernah kasih aku kado cincin dari kertas buatannya, dan dia bilang kalau nanti dia bakal nikahin aku. Tetapi lihat aku sekarang. Setelah putus dengannya, aku tetap bisa move on kan. Mungkin kejadianku itu dikasih Tuhan agar bisa ngingetin orang kayak kamu, yang cuma bisa tiduran terus dan nangis kayak mayat tolol! Masa sahabatku harus seperti ini sih. Aku ogah banget dah. Lebih baik......."

"Kamu sekarang pergi, dan jangan pernah kesini lagi!"kataku memotong omongannya dengan nada mengusir dan mata melotot. Ia pun terdiam dan langsung pergi dari kamarku.

Setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi. Pertemanan (ya, aku lebih suka menyebutnya sebagai teman saja) kami pun putus sampai disitu.


...


"Jadi mau kamu apa?"tanyaku yang masih meneteskan air mata ini.

"Aku tak ingin apa-apa. Karena aku adalah kamu. Dan apa yang kamu dapat, aku juga akan mendapatkannya. Disini aku hanya hadir sebagai pengingat kamu saja. Coba deh kamu ingat-ingat lagi si Maria.

"Maria?" Aku pun berpikir sejenak. Hingga aku ingat pada salah satu tayangan televisi favoritku. "Oh si pembunuh bayaran yang keren itu. Iya hahaha..... aku memang selalu ingin jadi seperti dia. Tak pernah terbawa dengan perasaan, sehingga ia bisa mendapatkan banyak hal di dalam kehidupannya. Ia memang seorang tokoh wanita yang sangat pintar."

"Iya, dan ingat senyumannya yang jahat itu. Kita harus bisa menundukkan pria sama seperti Maria, Anna. Kita harus tersenyum sama seperti dia. Itu lah yang musti kita lakukan sekarang."

"Lah, kok kamu malah menyuruh-nyuruh aku? Bukannya kamu hadir sebagai pengingat saja."

"Hahaha.... aku ngomong seperti itu, soalnya hati kita berdua benar-benar lagi ingin jadi seperti si Maria. Sudah deh, kamu lebih baik bangun dari tidur kamu sekarang, dan memilih kembali ingin menjadi seperti apa kamu nantinya."



***


Malam yang dingin, khususnya di pembuluh darahku. Seperti ada sesuatu yang memasuki tubuhku ini sampai-sampai aku merasa sangat lemas sekarang. Namun, pada waktu mataku terbuka dengan agak rabunnya, aku segera melihat ibuku yang sedang berdiri dan berbicara dengan seorang laki-laki yang sedang memakai pakaian putih panjangnya. Lalu, saatku melihat kiri-kananku, jelas sekali, kalau ini bukanlah kamarku. 

Yah, ternyata aku masih dikasih kehidupan sama Tuhan....

"Oh Tuhan?! Annaaa.... kamu sudah bangun, nak." Kata Ibuku sambil ia memelukiku dengan eratnya.

"Maafin Anna ya Mah." Kataku yang mungkin terdengar agak redam sebab alat yang menempel di mulutku ini.

"Ibu, maaf, karena Anna sudah sadar, kami mau periksa keadaannya dulu ya sekarang." Kata pria berpakaian putih, yang sudah pasti ia adalah dokter yang sudah merawatku.

"Baik dok." Jawab Ibuku yang berdiri kembali, lalu menatapku dengan sedihnya. "Nanti kamu cerita sama Ibu ya Anna." Aku mengangguk.

Saat dokter ini sedang memeriksa keadaan tubuhku, dimana aku sudah dengan nekatnya meminum kira-kira belasan pil panadol kemarin, aku pun sungguh sebenarnya masih ingat akan mimpiku tadi. Aku benar-benar masih ingat dengan diriku yang rasanya sedang menjalar di sekujur tubuhku ini. 

Apakah aku harus melupakan Fendi dan meraih impianku? Ataukah aku masih harus tetap berharap dapat kembali melihat senyuman Fendi yang lucu itu, yang selalu melelehkan hatiku ini?

Oh Tuhan..... kurasa ini adalah momen dimana aku harus menjadi seperti si Maria. Apalagi setelah aku tahu kalau aku sudah pingsan selama 18 jam, dan tiada kehadiran Fendi yang berniat menjengukku di rumah sakit ini. Kata Ibuku, hanya teman-teman kerjaku yang semalaman berada di sampingku, namun kini mereka sudah pulang.

Yah, memang hanya diriku sendiri yang bisa memilih 'ingin menjadi seperti apa aku nantinya'. Bukan orang lain, apalagi seperti si Felicia yang sudah terlalu bawel dulu itu.

 "Thanks God, and welcome my black new chapter!" Kataku pelan, seraya dengan memakai senyuman jahat, dan sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa membalas Fendi!

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath