Sunday, December 2, 2012

Tentang Film "Life of Pi"

  Lagi-lagi film besutan seorang sutradara pemenang Oscar, Ang le, yang pernah membuat sebuah kisah cinta sesama jenis yang memilukan tersebut, berhasil membuat gua menjadi terpukau kembali dari film terbarunya kini. 

Selama dua jam lebih, gua sudah berhasil dibuatnya menjadi terhanyut-di dalam indahnya sebuah gambar sinematografi yang cantik, lalu juga jalan ceritanya yang real dan berisi kehangatan dari yang namanya "kepercayaan".

Yup, sang penulis novelnya, Yann Martel, pun tahu benar bagaimana cara membuat sebuah cerita yang cukup sensitif di tengah-tengah kehidupan yang sebenarnya masih banyak yang belum bisa menerima akan yang namanya perbedaan, dan salah satu yang terbesarnya adalah: tentang "agama".


Dan kita dapat melihat sewaktu tokoh utamanya diperkenalkan di film ini. Yaitu Piscine Molitor Patel, atau biasa dipanggil dengan nama pissing (sewaktu kecil), yang lalu berubah menjadi Pi (sewaktu ia berada di tahun berikutnya, setelah ia pikir-pikir soal bagaimana ia bisa merubah nama panggilan sebelumnya menjadi lebih baik).

Sejak kehadirannya awal kali, kita pun dapat langsung melihat sewaktu ia dicekokkan dengan cerita-cerita dari Agama Hindu yang memiliki jutaan dewa. Yang kemudian, ternyata Tuhan malah membawanya menjadi mengenal akan sosok Yesus sewaktu kakaknya, Rafi, sedang iseng menyuruhnya meminum air suci di Gereja. Namun bukan hanya kedua agama itu saja, sebab Agama Islam pun juga ia pelajari. Ketiganya seakan sudah berhasil memberikan-nya sebuah hidayah yang berbeda-beda. Yang pastinya, saat muncul tontonan yang membahas soal ketiga agama ini, para penonton pasti akan langsung tersentak, dan pasti (lagi) akan saling berargumen ria, baik itu sama temannya, maupun di benak-nya sendiri. Itu adalah hal yang tak bisa dari pungkiri lagi jika dilihat dari kenyataan yang ada sampai sekarang.

Namun tenang saja, film ini bukanlah akan membahas tentang agama saja secara terus-menerus. Tetapi lebih kepada kisah hidup yang pada akhirnya sanggup untuk membuat seorang penulis novel menjadi harus memilih apakah ia akan percaya Tuhan atau tidak. Soalnya, kita sendiri akan melihat kalau Pi ini sungguh memiliki kisah hidup yang luar biasa, dan hal itu terjadi ketika keluarganya yang memiliki kebun binatang, memutuskan untuk pindah rumah, dari India, ke Kanada.


Disaat langit seakan menjadi sebuah pantulan dari amarah Sang Khalik, sehingga membuat laut menjadi berderu kencang, dan tentunya menjadi alat pembunuh yang kuat. Pada akhirnya, sesuatu yang luar biasa pun menimpa kehidupan dari Pi ini (wualah, malah membuat embel-embel kek gini gua :p). Dimana ternyata, perahu yang ditumpanginya menjadi tenggelam, dan ia sendiri harus berada di dalam sekoci seorang diri di tengah-tengah badai yang mampu untuk membuat semua dari isi kapal meninggal.

Dan masalah tak sampai disitu saja. Soalnya di dalam sekoci ini, Pi juga ditemani oleh orang utan, zebra, hyena, dan yang terakhir, seekor singa yang ternyata malah memakan Hyena yang telah membunuh zebra dan orang utan yang sebelumnya menemani Pi pada awalnya. Yang kemudian, baru dimulailah sebuah cerita yang mengenaskan, sekaligus indah, waktu Pi sedang berada di atas lautan selama berminggu-minggu lamanya bersama dengan seekor binatang buas yang dinamakan Richard Parker tersebut.


Disini, I mean, di atas lautan yang luasnya tak terkira itu, kalian semua yang belum menontonnya benar-benar harus tenang saja. Sebab kita akan diberikan sebuah pengalaman menonton yang memukaukan mata. Dan hal tersebut dapat terlihat dari pengambilan gambar yang cantik, yang dimana, kita bisa melihat banyak sekali binatang laut yang bisa menyala-nyala dalam kegelapan, lalu juga seperti pantulan yang indah di lautan, dari langit yang sedang berada di sore hari. Sungguh seakan, disaat alurnya sedang santai, kita bisa dirileksasikan dengan gambar-gambar tersebut, yang lalu, tak kalah juga dari saat alurnya sedang menanjak tinggi, kita akan diberikan efek komputer yang sudah mampu menghajar mata para penontonnya dengan hebat sekali.


Dan semua itu akan kembali lagi ke sebuah kepercayaan yang dari awal sudah gua katakan. Tentang bagaimana bedanya rasionalitas dengan sebuah iman. Dan ada banyak sekali pesan-pesan moral dari yang namanya kehidupan, yang bakal kita temukan di film ini. 

Yah, gua benar-benar salut untuk Ang le yang kembali lagi berhasil menciptakan sebuah pengalaman menonton yang menarik dari Film Life of Pi ini. Khususnya soal cerita yang sungguh luar biasa, yang juga dibaluti dengan pengambilan gambar yang tak akan pernah terlupakan.


Thanks
Gbu