Tentang Film "12 Angry Men"

Melihat sebuah film yang dimana hanya berada di satu lokasi saja, dan apalagi cuman berada di ruang tamu yang sangatlah kecil, bisa dibilang sangat memungkinkan untuk membuat pikiran pertama orang menjadi berkata "membosankan!". Namun bagaimana jika kita saksikan terlebih dahulu tentang sebuah adegan yang sanggup untuk berada di posisi ke enam dari 250 film terbaik versi IMDB.com. Bisakah film yang berjudul "12 Angry Men" ini menjadi sebuah sajian yang sangat menghibur, atau lebih dari itu?? (Oh ya, gua pun lupa bilang kalau film ini juga hanya berwarna hitam dan putih).


Adalah dua belas juri yang tak pernah disebutkan namanya (tapi di akhir ceritanya akan ada dua saja yang tersebut) yang diwajibkan untuk mengambil keputusan soal bersalah atau tidak-nya seorang terdakwa yang dikatakan telah membunuh ayahnya sendiri. Dua belas orang ini tentunya memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda yang dimana berarti-pemikiran mereka pun berbeda dalam kasus yang sudah diusut di pengadilan sebanyak beberapa kali ini.

Dan saat mereka semua diminta untuk berkumpul di dalam satu ruangan dan berdiskusi, sesuatu pun terjadi.

Juri pertama yang mengambil peran sebagai "pemegang kendali" segera melakukan tugasnya untuk langsung meminta melakukan vote dengan cara tunjuk tangan dari kedua belas pria ini. Dan tak disangka, ternyata hanya ada satu pria yang menyatakan kalau terdakwa tersebut "tak bersalah". Sehingga hal tersebut langsung mengundang protes massal dari kesebelas orang yang lainnya.

Namun, yang dilakukan oleh satu orang ini sebenarnya adalah hal yang benar. Karena saat itu, hanya dia lah yang memiliki "keraguan" akan kasus yang sudah diusut berkali-kali tersebut di pengadilan. Dan ia pun memberikan banyak argumen dan juga beberapa bukti lainnya yang ternyata sanggup untuk menimbulkan perdebatan dan juga membuat juri-juri lainnya menjadi sejalan pikiran dengannya.

Menariknya, di tengah ruangan yang sangat panas tersebut, karena cuacanya memang sedang luar biasa panas dan apalagi kipas anginnya juga mati, emosi pun terpakai di dalam proses adu argumen itu. Membuat mereka semua menjadi "terlihat jelas" akan sifat dan karakter dari diri mereka masing-masing. Seperti ada yang penyabar, suka tersinggung dan berteriak besar, lalu juga hanya ikut-ikutan saja, dan masih banyak lagi. Mereka semua memiliki perannya masing-masing, dan itu sama-sama penting.


Kita pun selain diperlihatkan mengenai amarah para pria yang berusia di atas 50-an ini, kita juga akan diajak berpikir soal kasus dari terdakwa itu. Soal memecahkan sekali lagi, setiap bukti yang sudah ada, saksi-saksi dari orang lain, yang dibuat sedemikian rupa-sehingga menghasilkan satu kesatuan yang pasti agar dapat menimbulkan "keraguan" baru. Dan hal tersebut sebenarnya cukup membuat film ini menjadi tontonan yang berat juga, karena membuat para penonton menjadi harus berpikir lebih dalam mengenai kasus yang terjadi.

Yang terpenting, intinya adalah keputusan kedua belas juri ini akan sah jika mereka semua benar-benar berkata kalau terdakwa tersebut bersalah atau tidak bersalah. Jika ada satu, yup, hanya satu yang berbeda argumen, maka keputusan tersebut tidaklah sah. Dan ini lah yang menjadi tantangan dari seorang pria yang berusaha mengajak para juri lainnya menjadi harus bijaksana dalam mengambil keputusan. Tidak hanya ikut-ikutan semata, atau melihat sesuatu dari permukaannya saja. Tetapi mencoba untuk membahas hal-hal kecil yang sebenarnya terlewatkan dan juga dianggap biasa saja, padahal hal tersebut penting sekali. Soalnya semua ini mengenai nyawa seorang anak berumur 18 tahun yang jika ia bersalah, maka ia akan duduk di kursi listrik.

Dan "keraguan" adalah satu-satunya kunci agar keputusan "tidak bersalah" tersebut bisa tercapai, bukan karena memang mereka tahu yang sebenarnya. Just a "doubt" yang mampu meluluh lantahkan semua pikiran yang sudah ada....



Hahaha.... menyenangkan memang jika habis melihat sebuah film yang memiliki naskah yang solid dan terjamin untuk latar yang kecil dan meragukan tersebut. Apalagi untuk para pemainnya yang sudah bermain dengan sangat hebat, dengan sudah memperlihatkan banyak sekali karakter yang begitu mantap ke para penontonnya. Menjadikan film ini bukanlah sebuah film yang membosankan walau apalagi balutan warna-nya itu hitam putih pula.

Luar biasa memang untuk film yang berada pada tahun 1957 ini. Yang juga berhasil menjadi nominator Oscar sebagai film terbaik. Dan pada akhirnya, mampu untuk membuat para pemainnya menjadi terkenang seumur hidup karena eksistensi mereka untuk bermain total di film ini....


Thanks untuk Sidney Lumet dan juga Reginald Rose sebagai pencetus ide dalam pembuatan film ini. Sungguh sangat BRAVO!!!

Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath