Cerpen: Santa Claus is Coming into My Home?!

Santa, Santa, kemarilah, datanglah kepadaku.... Bawakanlah aku hadiah. Biarkanlah aku berharap kepadamu di Hari Natal ini. Hingga kebahagiaan menyelimuti hatiku....

Demikianlah sedikit lirik lagu yang selalu aku bersama teman-temanku nyanyikan sejak kami masih kecil. Sebuah lagu yang kalau kata guru kami, akan membuat Santa Claus menjadi mendengarkan apa yang sedang kami harapkan. Dan sebuah kado yang selalu kami inginkan pun akan selalu tergeletak di bawah pohon natal, yang tentunya dengan syarat, pohon natal tersebut harus selalu ada di ruang tengah, dekat cerobong asap yang sudah dimatikan api-nya.

Namun, tentunya akan selalu ada kejutan untuk para anak nakal dan juga baik di setiap Hari Natal. Untuk yang nakal, ia akan mendapatkan hadiah yang paling dibencinya, sama seperti salah seorang temanku, Leonardo, ia malah mendapatkan dua dus bungkus bihun rebus instan yang paling dibencinya. Alhasil, selama sebulan, mau tak mau-ia harus makan bihun rebus instan tersebut. Itu lah akibatnya jika ia selalu mengganggu teman-teman yang ada di kelasnya, sama seperti dia juga pernah mengangkat rok sekolahku pada waktu kami sedang di kelas. Dan lalu, untuk anak yang baik, selain ia akan mendapatkan kado impiannya, jikalau beruntung-ia akan menjadi salah satu anak yang akan didatangi oleh Santa Claus, langsung di dalam kamarnya. Dan hal tersebut, adalah sebuah keberuntungan yang sungguh teramat besar, karena di setiap satu negara, akan selalu ada satu anak. Jadinya, ia yang beruntung akan ditemani oleh Santa Claus selama 15 menit, sedangkan anak-anak yang lainnya hanya bakal didatangi oleh para elf kecil yang bertugas untuk mengantarkan kado-kado spesial untuk setiap anak yang ada di muka bumi ini.

Dan pada waktu aku berada di kelas 4 SD, salah seorang temanku, Raffi, ia berhasil kedatangan Santa Claus. Dan sebuah hadiah berupa "rumah pohon" dengan teknologi mutakhir berhasil ia dapatkan. Hal tersebut pun menjadi sorotan banyak media yang ada di negaraku. Dengan cepat, ia menjadi bintang di televisi, dan semua orang selalu mempertanyakan soal sifat baik seperti apakah yang ada di dalam diri Raffi ini.

Yup, sifat baik apakah yang ada di dalam diri Raffi ini, sampai-sampai aku sempat dicampakkan olehnya, ketika sudah setahun ia menjadi pacarku pada waktu kami masih duduk di bangku SMA. Entah, manusia itu memang akan selalu berubah. Walaupun dulunya ia adalah anak yang baik, tapi waktu terus berputar, setiap dari kita berhak memilih 'menjadi apa'. Dan Raffi, sekarang ia hanyalah seorang preman yang sudah lupa akan masa lalu-nya, akan keajaiban yang pernah didapatkannya.

Lalu bagaimana denganku ini? Seorang perempuan yang sudah berusia 18 tahun, yang sedang berkuliah di bidang ekonomi, berbeda dengan teman-temanku yang kebanyakan itu mengambil dunia supranatural, dan ilmu-ilmu sihir. Yah, aku hanya merasa, suatu hari nanti dunia pasti akan berubah. Tak seperti sekarang, yang masih banyak terisi oleh keajaiban dan hal-hal magis lainnya. Aku lebih suka hal yang nyata, tentang bagaimana aku bisa berdiri sendiri, hingga nantinya akan mengurusi soal perekonomian negaraku.

Yap, sebenarnya aku sudah berpikir hal seperti ini sejak aku diputuskan oleh Raffi. Padahal dulu aku sangat ingin mengambil kuliah di bidang 'ilmu ramuan' yang bisa membuat seseorang menjadi cantik atau bahkan bertambah tua. Tetapi semenjak Raffi berkata,"lu gak pantas jadi pacar gua lagi!" Sejak saat itu lah aku tersadar, kalau yang namanya cinta, keajaiban, sihir, semua itu tak akan pernah menjadi bagian di dalam diriku lagi.

Dan hingga kini, di malam natal yang selalu diimpikan oleh banyak anak-anak yang ada di dunia. Aku sudah tak peduli lagi dengan Santa Claus dan kereta yang dibawa oleh rusa-rusanya yang bisa terbang itu. Aku hanya ingin tidur, tak peduli juga, kalau di usiaku yang ke-18 ini sebenarnya adalah usia terakhir yang bakal didatangi oleh Santa Claus. 


***

22.00 PM


"Krining Kriningg....."

"Krining Kriningg....."

"Ho ho ho ho...."

Di saat mataku yang sudah sangatlah lelah untuk terbuka, kupingku malah terus bekerja dengan giatnya. Yang lalu, pada akhirnya membuatku tersadar-kalau jendela kamarku yang ada di lantai dua ini sudah terbuka, dan udara dingin serta sedikit salju sedang mengudara di lantai kamarku. Yang kemudian, saat aku sudah membuka mata lebar-lebar, aku sangat kaget!

"Santa?!" Ia tepat berada di samping kanan tempat tidurku, sedang duduk dan membaca buku diary-ku.

"Ho ho ho.... Halo Gina."

"Pak Santa ngapain ada disini?! Dan ngapain baca buku diary saya?!" Seruku yang lalu mengambil buku diary-ku dan menyembunyikannya di bawah bantal.

"Halo Gina. Aku disini akan memberikan apa yang kamu mau, yang kamu sudah tahu pasti, tak akan ada hubungannya dengan uang, permata, atau hal-hal lainnya yang memang harus dicari oleh setiap manusia sendiri."

"Tunggu-tunggu...." Aku pun beranjak dari tempat tidurku dan masih terasa kebingungan. Apakah ini nyata atau tidak?! Apalagi ketika aku menuju ke jendela kamarku untuk menutupnya, aku pun melihat kereta dan para rusa tersebut yang sedang makan rumput ada di halaman rumahku. OMG! Aku benar-benar syok!!

"Gina, ini nyata. Kamu lah yang terpilih dari jutaan anak yang ada di Negara Hellodia, untuk tahun 2964 ini."

"Tapi tapi.... apa yang sudah saya lakukan Pak Santa?? Saya tak merasa sudah berbuat banyak kebaikan sekarang."

"Ho ho ho.... Kamu memang masih tulus sesuai dengan dugaanku. Kamu tak pernah selalu menuntut untuk setiap kebaikan yang sudah kamu perbuat selama ini. Khususnya saat kamu dicampakkan oleh Raffi. Kamu tak pernah menuntutnya untuk melakukan apa yang kamu harapkan. Kamu terus banyak memberikan cinta di dalam kehidupannya, walau memang ia adalah seorang pria yang tak pernah sadar akan hal itu."

"Gak Pak Santa. Saya pun pernah menuntutnya untuk bisa kasih perhatian ke saya disaat masa-masa pacaran kami sudah menjadi abu-abu."

"Sudah Gina. Yang terpenting sekarang adalah, aku datang untuk memberikan keajaiban di dalam hidup kamu. Terkadang, manusia itu memang terlalu banyak merendah dan merasa 'tak pantas untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik'."

"Okeh, kalau Pak Santa berpikir seperti itu.... Jadi, sekarang saya bebas nih ya ingin meminta apa saja sama Pak Santa."

"Yup, tentunya sesuai dengan peraturan yang sudah kamu tahu itu apa."

Aku pun berpikir sejenak. Melihat kehidupanku yang sekarang ini kurasa adalah sebuah 'kesepian' yang mendalam. Yah, kalau boleh jujur, aku ini memang bukan seorang perempuan yang mudah bergaul dengan siapa saja. Dan keluargaku sendiri pun kurang memperhatikanku. Apalagi ketika Raffi memutuskanku, itu adalah puncak dari kesedihan di dalam hidupku ini.

Namun, apakah aku harus meminta kebahagiaan sama Pak Santa?? Apakah ia akan mengabulkannya, yang memang sebenarnya bisa, tapi itu pun akan menjadi random-kebahagiaan seperti apa yang akan diberikan oleh Pak Santa ini.

Hmm.... atau mungkin aku minta saja ya seorang sahabat?? Yang bisa selalu mendengarkanku dan menerima setiap kegilaan di dalam kehidupanku apa adanya. Jadinya aku bisa bebas menjadi seperti apa tanpa harus berpikir 'apakah akan membuatnya menjadi annoying??'. Eh tidak-tidak.... Walaupun aku tak punya sahabat yang sampai sedalam itu, tetapi ada Henni dan juga Ravika. Walau mereka berdua kurang bisa menerimaku apa adanya, tetapi kurasa 'itu lah manusia'. Setiap dari kita pasti memiliki peraturannya masing-masing, tentang apa yang bakal membuatnya menjadi annoying, dan juga senang. Memang sepertinya bukan sahabat yang seharusnya aku pinta.

Ah aku tau! Raffi!! Yah, aku bisa minta Raffi kembali kepadaku. Eh, tapi tunggu dulu, apakah itu akan membuat hubungan kami berdua menjadi tidak natural?? Jadinya ia akan menjadi seperti robot yang bisa aku kendalikan sepuas hatiku. Bukannya sesosok manusia yang akan selalu memberikan emosi jujurnya, dan membuat kehidupanku menjadi lebih hidup. Ya, itu adalah kesalahan terbesar!

Yah, berarti tinggal keluarga yang bahagia ya. Tapi ya sudah lah.... rasanya tak perlu kupaksakan juga kalau memang kehidupan keluargaku seperti ini. Kedua orang tuaku lebih memilih 80 persen untuk bekerja dan menghidupiku dengan uang, bukan rasa cinta kasih sayang. Lagipula, untuk di umurku yang sudah ke-18 tahun sekarang, aku sudah tak peduli lagi dengan hal-hal tersebut. Nanti juga kedua orang tua-ku akan bangkrut dan dapat sangat sering bersamaku, yang sebenarnya aku juga tak terlalu suka jika memang akan terjadi hal seperti itu.

Hhhhhhhhhhhhhhhh..............................

"Pak Santa salah nih datang kesini pada waktu di umur saya yang ke-18. Saya soalnya sudah lumayan banyak mengerti mengenai 'cara bermain di dunia ini'."

"Jadinya kamu tak ingin kado apa-apa nih?"

"Kurang tahu sih saya. Soalnya saya sudah pikir-pikir, sepertinya hal yang sejak dulu saya inginkan, itu seakan sudah tak perlu lagi di usia saya yang sekarang."

Glek! Aku pun tersadar habis bicara apa. Memang tak pernah aku sampai memikirkan mengenai apakah aku butuh atau tidak mengenai pacar yang setia, keluarga yang sejahtera, bahkan seorang sahabat yang perfect. Oh Tuhan, mungkin ini adalah hadiahmu untukku di malam natal ini.

"Masih ada waktu 3 menit lagi sebelum aku pergi ke negara lainnya untuk memberikannya hadiah. Jadinya kamu benar-benar tak ada keinginan apa-apa lagi nih ya Gina?"

Kurasa ia ini tak tahu kalau aku sudah mendapatkan sebuah hadiah yang tak pernah sekalipun aku duga, yaitu: 'perubahan konsep berpikir'. Mungkin, aku bisa minta sesuatu yang lain. Yang lebih simpel.... Hmm.... atau mungkin, aku minta sebuah keajaiban lainnya saja kali yah. Yang sedang sangat aku butuhkan sekarang ini.

"Pak Santa, saya sudah memutuskan hadiah apa yang kali ini sedang saya sangat butuhkan."

"Apa itu?"

Aku pun langsung mendekati muka Pak Santa yang gendut dan banyak kumis serta jenggot putihnya itu, lalu membisikinya.

"Permintaan yang pintar sekali yah."

"Iya... lagipula tak ada di buku peraturan kan yah."

"Oke, kalau begitu, tutup matamu, dan hitung sampai sepuluh. Keajaiban akan datang kepadamu Gina.... Ho ho ho....."

Dan sesuai dengan apa yang terjadi pada anak-anak lainnya, yang sudah didatangi oleh Santa Claus, aku pun langsung menutup mata dan menghitung satu sampai sepuluh. Namun yang tak kusangka, saat aku masih menutup mata, suara alunan musik pun terdengar. Dan lagu yang terlantun dengan indahnya itu adalah sebuah bentuk nada instrumental yang berasal dari lagu yang selama ini setiap anak kecil nyanyikan.

Santa, Santa, kemarilah, datanglah kepadaku.... Bawakanlah aku hadiah. Biarkanlah aku berharap kepadamu di Hari Natal ini. Hingga kebahagiaan menyelimuti hatiku....

Lalu 'jreng!!' Ketika kubuka mata, aku melihat.... ya aku melihat kamarku tetap menjadi seperti biasa. Agak sedikit berantakan. Namun, dengan jendela yang terbuka. Yang pada waktu aku melihat keluar jendela, aku pun langsung dengan penuh kegembiraan berlari terbirit-birit menuju ke halaman rumahku. Dan memeluk para rusa dan kereta mini milik Santa Claus ini, yang ternyata sangatlah memiiki wangi kutub utara yang khas tersebut.

Arrrkkkkhhhhh.....!!!! Ini benar-benar sebuah kebahagiaan yang tak terkatakan. Walaupun pola pikirku kini sudah berubah, tetapi untuk 'hal yang terlihat' dan 'bisa dipegang' ini memang akan selalu menyenangkan. Yap, sekarang aku tak perlu lagi deh pergi dengan menggunakan kendaraan umum untuk menuju ke kampus. Dan tinggal tunggu besok saja ketika wartawan akan meliputku, yang adalah anak satu-satunya yang menaiki kereta rusa-nya Santa Claus. Hahaha......

Tetapi tunggu dulu, kali ini Santa naik apa yah untuk pergi ke setiap rumah yang sudah terpilih di seluruh dunia ini???

Tamat

N.B: Setelah Gina terbangun dari tidurnya esok hari, ia mendapati berita kalau Santa kini menggunakan pesawat terbang berbentuk UFO mini untuk berkeliling dunia. Kata Santa, memang sejak dulu ia sangat ingin menaiki kendaraan mesin-nya ini di setiap Hari Natal. Beruntunglah ia tak salah pilih anak untuk didatanginya kemarin itu. Gina adalah salah satu sosok manusia yang pantas untuk mendapatkan lebih dari apa yang selama ini ia dapatkan....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath