Cerpen: Fotografer

Sudah dua tahun aku nikmati ketika diriku ini memutuskan untuk menjadi seorang fotografer. Walaupun masih belum handal, dan juga belum memberikan banyak kepuasan untuk para klien-ku yang kebanyakan adalah anak-anak muda yang ingin difoto secara single, rame-rame, dan couple, tetapi entah, setiap bulan selalu saja ada satu atau dua orang yang meminta jasa-ku ini. Yang bahkan seperti Bulan Desember sekarang ini, lagi-lagi ada satu orang yang meminta tolong kepadaku untuk mengabadikan sebuah momen yang sebenarnya cukup membuatku terkejut. Yup, siapa sangka kalau aku diminta untuk menjadi fotografer di dalam acara pernikahan seseorang, yang aku sendiri malah menjadi tak tahu harus menjawab apa.

"Gimana? Elu mau gak nih Sel?? Temen gue udah tanyain melulu tauk." Kata teman-ku, Teresa, lewat telefon genggam.

"Haduh, gua kan belum pernah foto-foto di acara pernikahan. Lighting aja gua gak punya. Cuman ada lampu flash nih dari SLR gua. Entar ngecewain banget lagi."

"Gak apa-apa Sel. Soalnya acaranya itu juga sederhana. Jadinya dia juga butuh yang mau dibayar murah."

"Wedeh. Emangnya kata lu gue semurah apa??"

"Hahaha.... enggak-enggak. Yodah deh, lu kasih tau dulu mau dibayar berapa."

"Gua bilang mau aja belum, malah langsung mintar bayaran." Namun aku pun berpikir sejenak. Yang langsung saja keluar sejumlah mata uang yang sebenarnya aku memang sangat membutuhkannya. "Hmm.... kalau delapan ratus gimana?"

"Nahh.... Elu memang murah ya. Oke deh. Segitu yah!"

"Eh gila lu, jadinya mau tuh segitu??"

"Iyaaa.... Soalnya fotografer-fotografer yang lain tuh pada minta-nya di atas dua juta semua. Elu udah bener-bener pas deh Sel!"

"Waduh, jadinya deal ya ini. Terus juga, lu sama temen lu udah siap ya kalau nanti foto-foto-nya kaga sesuai harapan."

"Ya yang penting jangan sampe jelek banget juga lah Sel. Okeh. Datang Sabtu besok yah jam enam sore."

"Dua hari lagi dong?!"

"Iyaaa..... Pokoknya lu pake baju yang bagus dan datang dah ya. Gua caw dulu, byeee...."

Ketika temanku tersebut mematikan telefon-nya. Aku pun seperti merasa senang namun juga tertekan sekali. Kalau senangnya, karena aku akhirnya bisa dapat tambahan uang buat pergi ke Bali untuk akhir tahun ini. Sedangkan tertekannya, ya pastinya sudah pada tahu lah ya...... ini benar-benar pertama kalinya untuk aku! Entah, aku harus foto-foto apa aja nanti disana. Apalagi ini seperti dokumentasi juga, berarti aku harus banyak-banyak jepret biar tidak ketinggalan momen. Parah!

Tapi aku harus tenang. Aku harus menerima kalau pastinya aku tidak akan mendapatkan klien anak-anak muda terus. Selalu saja ada yang besar suatu hari nanti. Dan ini lah saatnya. Aku harus bisa kerja dengan baik!!

***

Hari Sabtu, pada pukul lima sore, dengan segala upaya seperti ngeliat-liat banyak foto wedding punya orang lain, lalu juga tanya-tanya ke sesama fotografer soal foto-foto jenis ini, baik, aku sudah tujuh puluh persen siap. Apalagi dengan pakaian-ku yang mungkin agak terlihat tomboy (dengan memakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam), aku yang sudah seperti para pria pekerja ini-sudah siap untuk menghadapi tantangan yang baru sekarang!

"Gila?! Lu keren banget Sellll...!!" Kata Teresa, yang tentu akan pertama kali-nya aku temui di tempat resepsi yang diadakan di Gereja ini.

"Tomboy gini malah lu bilang keren."

"Yah, elu emang masih seperti dulu ya. Masih belum ngaku kalau tubuh lu itu bagus, tinggi, putih lagi. Jadinya kalau lu pake kayak gini tuh udah keliatan kayak model banget!"

"Yah makasih deh kalau gitu hehehe.... Gak tau nih, gua tiba-tiba aja jadi pengen pake ginian. Oh ya, yang nikah mana nih belum dateng?"

"Orang-nya sih lagi kejebak macet. Ya yang pastinya elu kenal kok Sel."

"Maksudnya kenal? Siapa emang??"

"Fendy."

Aku pun tersentak. Tapi aku langsung kembali stabilkan diriku ini. "Oh dia. Dia tau gak kalau gua yang jadi fotografer-nya?"

"Iya, dia tau kok."

"Terus responnya gimana?"

"Ya katanya sih, lanjutkan saja. Soalnya bener-bener dia lagi butuh fotografer. Sory ya baru bilang sekarang."

"Iya, lu sih udah bener-bener kelewatan sebenarnya Ter. Tapi yaudah deh, kita bahas waktu pulang aja. Ini tetep acara pernikahan. Dan gua gak mau jadi perusak suasana." Padahal aku sudah benar-benar ingin pergi. Tapi sebenarnya juga tertahan karena aku memang harus menjaga ke-profesionalitas-an aku. Teresa memang tahu hal seperti ini.

Dan aku pun segera berpisah dari-nya, berpura-pura ingin foto-foto tempat dan lainnya. Yah, walau memang aku benar lagi foto-foto, tapi aku terus berharap kalau waktu sudah berada di pukul sepuluh sekarang, dimana semua acara sudah selesai, dan aku berhenti jadi profesional.

Tapi tidak. Satu jam menunggu sama seperti hal-nya empat tahun, dimana selama empat tahun juga aku dan Fendy pernah menjalin cinta. Dan hal tersebut terjadi pada waktu kami masih SMA, dan lebih tepatnya adalah: dia itu cinta dan pacar pertamaku. Dia lah yang sudah menembakku dan bahkan bilang kalau aku juga adalah cinta pertamanya. Jadi, ini adalah nasib paling buruk untuk seseorang yang malah menjadi fotografer di dalam pernikahan orang yang adalah kekasih pertamanya. Sebuah drama terbaik dari Tuhan yang sedang ingin-mungkin-menonton emosi-ku yang akan melebur menjadi apa nantinya.

Dan itu semua terjadi. Sewaktu mobil putih dengan hiasan khusus ala pernikahan datang dengan lambatnya di depan Gereja. Di tempatku berdiri pun mulai terdengar juga suara tepuk tangan banyak orang, yang bahkan-MC-nya sendiri mulai mengeluarkan kata-kata sambutannya.

"Ini dia! Fendy dan Janne!"

Mereka berdua pun keluar ketika pengapit pria mulai membukakan pintu. Terlihat sekali kedua orang yang sedang memakai pakaian konyol ala pernikahan yang berwarna hitam putih yang jelek itu. Aku pun harus segera mengabadikan kedua orang jelek ini yang terus tersenyum di depan banyak orang. Menjengkelkan!

Sebagai fotografer yang cuma satu-satunya, aku sebenarnya bebas berdiri dimana saja, mengambil dari arah mana saja, yang penting tidak mengganggu mereka berdua. Akan tetapi, ternyata mereka berdualah yang menjadi sangat menggangguku. Apalagi ketika Fendy yang tiba-tiba saja menatap dan memanggil namaku.

"Hai Sel...."

Membuatku menjadi teringat akan sesuatu pada kejadian enam tahun yang lalu.


***

"Hai, nama kamu siapa?" Tanya Fendy ketika kami berdua sedang di-MOS.

"Ini gak liat, Bekicot!" Kata ku sambil menunjuki papan nama yang sedang tertempel di dada-ku. Nama khusus yang memang habis diberikan oleh para senior ku. "Oh kamu bekicot. Kalau aku Kecoak. Salam kenal yah." Katanya sambil tersenyum. Saat itu juga sebenarnya ia masuk ke dalam kelompok aku yang terdiri dari lima orang ini.

"Kasih nama asli kalian dong. Siapa tau nanti kita sekelas." Kata Teresa. Yup, dia juga masuk menjadi kelompokku. Dan dia adalah yang paling bawel diantara kami berlima.

"Aku Fendy."

"Aku Selena."

"Aku Teresa." Peduli dengan perkenalan dari Teresa, pada saat itu mata aku dengan mata-nya Fendy terus saja bertatapan malu-malu. Membuat pada akhirnya sebulan kemudian dia menembakku dengan perkataan omong kosong-nya tentang cinta.


***

Oke, lanjut kembali aku foto-foto. Yang kini mereka berdua sudah berada di hadapan seorang pendeta. Aku pun siap-siap di dekat mereka untuk segera mengambil gambar.

"Sebelumnya, adakah yang keberatan dengan pernikahan mereka berdua ini?" Tanya pendeta tersebut.

"Iya! Saya keberatan sekali!" Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang wanita. Yang pada waktu aku tengok, ternyata ia adalah Teresa. Entah, mau apa lagi ini perempuan??

"Mengapa?" Tanya sang pendeta.

"Di tempat ini pastinya hanya banyak yang mengenal Janne. Jadinya tolong untuk Saudara Fendy, agar kami semua bisa tahu kalau kamu adalah pria yang pantas untuk mendapatkan Janne, tolong untuk beritahu ke kami semua soal seberapa besar cinta kamu ke Janne?"

Tamu-tamu yang lain pun malah ikut meng-iya-kan dengan bertepuk tangan. Membuat kedua pengantin jelek ini dan sang pendeta menjadi tertawa.

Lalu, Fendy mulai mengambil mic-nya dan berkata,"Janne adalah wanita pertama yang benar-benar sangat menjengkelkan di dalam hidup saya. Dulu, d tempat kerja kami, ia selalu saja membuat pekerjaan saya menjadi makin sulit. Bayangkan saja, pada waktu saya suruh dia fotokopi, eh dia dengan teledor-nya menumpahkan kopi ke atas berkas penting punya saya tersebut." Semua orang pun tertawa, sedangkan aku tetap foto-foto sambil menahan diri yang dimana sedang sangat gemetar ini. "Namun, sewaktu pada akhirnya ia pindah kerja, bukan sekantor dengan saya lagi. Saya sungguh merasa sangat kehilangan. Saya selalu ingat tentang betapa ceroboh, tapi terus tersenyum-nya dia. Tentang betapa polos-nya dia, yang kadang suka buat saya jadi ketawa sendiri. Hingga akhirnya saya cari tahu dengan banyak tanya ke orang-orang soal dimana ia tinggal dan juga kerja, sampai saya pun menemukannya. Yang lalu, saya tak ingin berlama-lama lagi. Saya langsung memutuskan untuk menjadikannya sebagai kekasih saya. Karena dia sudah benar-benar menjadi bagian yang sangat penting di dalam kehidupan saya. Sifatnya, karakternya, sudah terikat dengan tali yang sungguh kencang di dalam hati saya ini. Jadi, walaupun kalian semua mungkin akan menolak kami menikah disini, kami pun tak akan pernah peduli, karena tali ini sudah tak bisa lepas. Dan kalau seandainya kami harus kabur untuk menikah di luar sana, tentunya kami akan lakukan! Itu lah seberapa besar cinta saya ke Janne."

Semua orang terpaku, dan bahkan ada yang menitikkan air mata, yang lalu tepuk tangan serta sorakan mulai muncul dengan meriahnya. Yah, sekali lagi, Fendy sudah berhasil mengambil hati banyak orang di atas panggung megah-nya tersebut. Seorang aktor yang bodoh!


***

"Selena, bagaimana nanti kalau kita nikah di pantai?" Tanya Fendy, ketika ia sedang ada di sebelahku, sambil tiduran dan selimutan, serta memandang bintang-bintang di langit, di atas puncak gunung yang sungguh dingin, yang berada di halaman sebuah villa yang sudah kami sewa. Waktu itu kami sedang menikmati libur kelulusan.

"Kamu kenapa tiba-tiba ngomongin soal pernikahan. Lagi kesambet apa kamu?"

"Gini. Kita kan soalnya seumuran yah. Tapi aku tuh dari dulu ingin menikah pada waktu aku dan kamu masih muda, jadinya waktu di foto tuh muka kita gak keliatan tua."

"Hahaha.... Kamu mau nikah di umur berapa memangnya....?"

"Ya mungkin 24 tahun. Kamu mau gak?"

"Hmmm.... Boleh. Yang penting ada duitnya aja yah."

"Kamu tenang aja.... Aku sudah dipersiapin sama Papa aku untuk nerusin dia soal usaha restoran seafood-nya nanti. Jadinya abis ini aku gak kuliah, tapi langsung kerja."

"Yah, yang terbaik buat kamu aja deh gimana. Aku tetap dukung semua pilihan kamu kok."

"Bagus deh kalau kamu terus dukung aku...."

"Tapi...." Aku pun mulai menatapinya dengan serius. "Kamu ini sungguh cinta sama aku atau tidak? Yakin kalau nantinya kamu bakal nikahin aku?"

"Ya itu sudah pasti lah. Aku janji bakal nikahin kamu! Kita aja pacaran sudah tiga tahun, itu adalah sebuah prestasi yang besar. Kita ini sudah benar-benar setia. Dan itu adalah harta yang sulit untuk dicari sekarang."

"Kamu janji, dengan sepenuh hati, kalau kita akan tetap bersama selamanya?"

"Selena Feliz Ananda, ya, aku janji!"


***

Sudah dua puluh menit ketika aku berada di dalam toilet. Dengan kuat, aku mencoba untuk tidak nangis lagi walau pada nyatanya air mataku terus saja keluar karena kata-kata omong kosong-nya tadi. Sampai sekarang aku masih tak menyangka kalau dia sama sekali tak menepati janjinya.

Fendy berengsek!!

Lalu aku pun keluar setelah akhirnya air mataku berhenti mengalir dan sudah ku cuci mukaku ini. Membuat tiba-tiba Teresa mendatangiku dan berceloteh ria.

"Elu kemana aja Sel?? Lu udah ngelewatin banyak momen waktu ada pembagian hadiah dan lempar bunga. Padahal itu sangat penting loh!"

Mataku langsung menatapnya tajam, dan hatiku seakan sudah meledak-ledak. Membuatku ingin sekali menonjok mukanya dan menendang perutnya itu. Tetapi semua itu terhenti ketika tiba-tiba Fendy menghampiri kami.

"Waduh, gak apa-apa kok Ter. Selena udah kerja bagus kok. Lebih baik lu ngurusin Janne dulu yah. Dandanannya agak luntur tuh katanya."

"Oke deh kalau lu bilang gitu Fen." Dan pergilah Teresa dari hadapan kami berdua. Entah ada setan apa yang merasukinya sampai-sampai baru kali ini aku lihat dia memarahiku seperti itu. Padahal ia seharusnya sudah tahu tentang keadaan yang sebenarnya.

"Boleh aku liat foto-foto-nya?" Tanya Fendy. Tanpa aku balas perkataannya, aku pun langsung saja memberikan kamera SLR-ku ke dia.

"Hmm.... lumayan.... Dann.... ini ada yang blur nih. Aku hapus yah."

"Terserah elu deh."

"Sebenarnya kisah kita ini complicated Sel." Hatiku kaget karena tiba-tiba saja dia berkata seperti itu.

"Maksudnya? Elu mau bawa masa lalu kita lagi?!" Kataku kesal.

"Ya, mungkin ini lah saatnya untuk kamu tahu tentang kebenaran yang ada."

"Oh... jadi kamu memang sengaja ya minta Teresa untuk membuat aku jadi fotografer kamu?!" Entah, aku malah jadi ikut-ikutan ngomong 'aku kamu' ke dia. Seharusnya tak boleh!!

"Jangan salah sangka dulu Sel. Ini aku ingin jelasin semuanya ke kamu. Aku tahu kalau aku lah yang salah dan sudah menjadi pembohong jahanam."

"Jelasin apa lagi?? Kan memang kita semua sudah tahu, kalau kamu itu terlalu bego dengerin kata orang yang bilang kalau aku ini selingkuh. Kamu itu cuma manusia yang paling menjijikkan dari semua orang yang pernah aku temui!!" Air mata-ku kembali keluar saat aku ingat lagi soal kenapa ia mencampakkanku setelah empat tahun kami pacaran.

"Selena.... tolong.... Kamu butuh tahu hal ini. Kamu butuh tahu soal teman kamu, Teresa itu."

"Apa? Kenapa sama diaa....." Kataku tersendu-sendu sambil mengelap air mataku ini dengan sapu tangan.

"Setahun yang lalu, sewaktu aku berpacaran dengan Janne yang juga adalah temannya Teresa. Janne pun sempat bilang ke aku yang sungguh buat aku jadi kaget. Tentang Teresa yang adalah orang yang sudah memfitnah kamu, hingga kita berdua putus."

Hatiku pun tersentak. "Serius?! Dia yang sudah kirimin foto-foto palsu soal aku yang lagi jalan sama cowo lain dan dengan bego-nya kamu percaya?!"

"Iya Sel. Dia lah orang yang buat aku jadi manusia yang paling berengsek di dunia ini. Dan dia juga yang sebenarnya berinisiatif untuk membuat kamu jadi fotografer di pernikahan aku. Padahal aku sudah melarangnya karena pasti kamu bakal sakit hati. Maaf ya Sel, aku gagal mencegahnya."

"Tunggu-tunggu?! Jadi elu, setelah tau kalau dia udah jahatin gua, elu masih tetep kontekan sama dia??!! Memang dasar laki-laki berengsek tetap aja berengsek!!!"

"Sel..... Teresa itu teman akrab-nya Janne. Kata Janne, biar dia yang urus soal perbuatan Teresa ini. Bahkan sebenarnya, sempat aku bersama Janne pernah memarahinya dengan gila sampai-sampai dia menangis. Tapi sekali lagi, karena Teresa adalah teman akrab-nya Janne, jadi kami tetap berhubungan seperti biasa, yang jujur-aku juga sangat membencinya."

"Sudah diurus, tapi kok dia masih mau nyakitin gua lewat undangan sial jadi fotografer ini?!"

"Itu aku juga tak tahu. Mungkin dia ini masih dendam sama kamu. Atau mungkin dia memang dendam sama dunia, karena dia tak bisa dapetin aku. Ya, dari dulu itu dia juga menyukai aku. Tapi malah teman-temannya lah yang mendapatkan aku, yaitu kamu dan juga Jenna."

"Hahaha.... gua masih belum puas. Satu pertanyaan lagi. Terus kenapa elu masih tetap bersama Janne setelah tau hal berengsek seperti itu?!"

"Maafkan aku Sel.... Aku benar-benar sudah cinta mati sama Janne...." Dia pun menunduk saat berkata seperti itu, seperti sudah menjadi laki-laki yang paling memalukan di dunia ini!

Dan aku langsung saja pergi dari hadapannya. Rasanya aku sudah sangat jijik dengannya, walau aku sudah tahu soal kebenaran, yang pada akhirnya akan membuatku menjadi berencana untuk balas dendam ke Teresa!


***

Malam yang dingin, diliputi hujan yang besar. Aku pun kini sudah berada di dalam kamar, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Membuatku yang sedang duduk di atas kasur empukku, menjadi melihat-lihat sejenak hasil fotoku yang sudah kumasukkan ke dalam laptop.

Buang gak yah semuanya? Pikirku jahat tanpa mempedulikan lagi nasib fee-ku yang bakal membantu aku untuk liburan ke Bali nanti.

Drrrttttt... Drrrttttttt.....!! Dan tiba-tiba saja sebuah SMS masuk. Yang pada waktu aku lihat, ternyata ini dari si manusia penghancurk kehidupanku, Teresa.

Mau SMS apa lagi nih orang?!

"Selena! Sekarang akhirnya elu tau ya soal gua. Udah seneng belum lu karena udah tau semuanya?! Kalau gua sih seneng. Karena akhirnya gua gak perlu lagi pake topeng di depan lu yang genit itu! Yap, di dalam hidup ini, kita memang akan menjadi musuh untuk selama-lamanya. Dan ada satu hal lagi yang musti elu tau juga. Soal jasa fotografer lu yang sebenarnya jelek itu! Elu tau gak sih, kalau semua klien lu itu pada gak suka sama hasil gambar lu! Elu tuh gak ada bakat di bidang fotografi! Dan asal lu tau ya, sebenarnya semua klien lu itu adalah orang-orang yang dibayar Fendy! Ya, dia yang kasih elu pekerjaan selama ini, dan elu gak pernah menyadari hal itu. Elu cuma seorang wanita bertubuh bagus, tapi sangat bego untuk manfaatin tubuh lu itu. Tolol!!"

Hahaha.... setelah membaca SMS ini, aku pun tersadar kalau ada wanita yang lebih gila daripada aku. Kurasa hidupnya itu memang sangat menyedihkan karena tiada satu orang pun yang mau jadi pacarnya selama ini.

Yah, ya sudah deh. Memang selama manusia hidup di bumi ini, tak akan ada satu orang pun yang bakal diberikan kenyamanan yang mutlak oleh Tuhan. Momen-momen gila seperti hari ku ini pasti akan dirasakan oleh semua orang juga. Walau tentunya dengan cara yang berbeda, yang pastinya juga-dapat membuat kalian semua bisa jadi sakit hati!

Biarlah soal Teresa. Aku tak akan membalas SMS-nya itu, bahkan untuk bertemu dengannya lagi.

Dan untuk foto-foto wedding-nya Fendy dan Jenna yang ada di laptop-ku ini.

"Click!"

Semuanya sudah ku-delete. Membuatku menjadi bisa tidur nyenyak kini. Dan juga bisa memikirkan masa depan-ku yang entah bakal terjadi apa lagi setelah kuputuskan untuk tak menjadikan jasa fotografer ini sebagai pekerjaan tetapku sekarang. Yang pasti, setidaknya aku sudah lebih mengerti mengenai "cara bermain di dalam dunia nyata ini."

Ini lah kenyataan hidup. Jauhkan keajaiban dan juga harapan dari dalam kehidupan cinta mu.

Tamat

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath