12.12.12: Silinder

12.12.12, sebuah kenyataan yang sangat pahit telah berhasil terdengar di kuping gua sendiri disaat gua memutuskan untuk memeriksa keadaan dari kedua bola mata gua ini. Dan pada waktu sebelum gua akan menonton Film Silent Hill: Revelation yang sudah gua berikan review-nya di post yang sebelumnya, gua pun langsung saja mengunjungi sebuah optik di dalam Mall yang bernama Pluit Village. Yang lalu, dengan banyak proses pemeriksaan seperti gonta-ganti lensa dan sebagainya, akhirnya kedapatan juga, kalau ternyata mata gua ini sudah berada di posisi "silinder".

Sudah dari kelas 1 SD gua memakai kacamata, dan beberapa kali gonta-ganti lensa. Hingga pada waktu SMA, gua pun memberhentikan pergantian lensa yang min-nya sudah mencapai di angka "6". Hal tersebut gua lakukan karena ada teori yang mengatakan kalau sering gonta-ganti lensa, nanti bakal terus naik lagi min-nya. Dan sampai gua berkuliah di semester 5, akhirnya gua bisa bertahan memakai kacamata yang sama, dan juga lensa yang sebenarnya sudah banyak baretannya.
Namun, sebenarnya gua masih memiliki kegembiraan sebab masalah mata gua ini yang hanya berupa "min", yang dimana orang-orang sering bilang kalau mata min itu masih bisa disembuhkan, bahkan di-operasi lasik. Dan juga, untuk pemakaian "soft lense" pun masih bisa gak terlalu ribet dan mahal.

Hingga seminggu kemarin, dengan hati yang menggebu-gebu dan sudah tak sabar, apalagi saat gua diminta untuk jadi MC untuk pertama kali-nya di kampus gua di dalam sebuah event yang bakal ditonton banyak mahasiswa, gua pun langsung memutuskan untuk membeli soflense di optik yang sama seperti yang ada di paragraf pertama. Yang lalu, dengan merek "edgy" dan berwarna coklat, akhirnya terbeli lah benda yang sudah gua nanti-nantikan tersebut.

Untuk pemasangan awalnya, benar-benar sangat sulit. Apalagi peraturan-peraturan yang berlaku di dalam penggunaan softlense, seperti harus mengganti air softlense secara terus-menerus tiap habis pakai softlense, lalu juga musti tetes mata saat mata sedang mengalami kekeringan. Dan untunglah, hal tersebut dibantu oleh teman gua, Angga, jadinya gua bisa lebih cepat untuk langsung pake, sehingga untuk pertama kalinya, gua bisa melihat muka gua sendiri dengan jelas tanpa kacamata. Itu adalah hal yang sangat menyenangkan!

Namun sejak awal pemasangan, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi, yang memang sudah gua rasakan di bola mata sebelah kiri. Seperti ada sesuatu yang mengganjal atau bisa dikatakan membuat gua menjadi tak nyaman sekali. Tetapi gua anggap itu sepele, karena gua pikir itu adalah hal yang biasa untuk awal pemasangan.

Hahaha.... sayangnya, saat keesokan harinya gua memutuskan untuk pakai di kampus, gua pun kembali merasakan hal yang sama, rasa tak nyaman tersebut. Dan kemudian, di hari-hari berikutnya ketika gua masih pengen pakai, soalnya gua jadi ketagihan sebab teman-teman gua yang bilang kalau gua pas sekali jika pakai softlense, ternyata rasa itu masih tetap gua rasakan. Membuat gua pada akhirnya datang kembali ke optik tersebut dan memeriksakan mata pada hari ini, dan mengetahui kalau kedua bola mata gua sudah sampai di "silinder", dan memang lebih besar di yang sebelah kiri. Oleh karena itu, gua dikatakan memang tak boleh untuk memakai softlense, apalagi softlense berwarna. Soalnya ada softlense khusus untuk mata silinder, dan itu bening, serta tentunya mahal.

...


Gua drop, merasa seperti terkena cobaan yang begitu besar, bahkan mampu untuk jadi ngerasa sedih. Bertanya-tanya mengapa Tuhan kasih hal seperti ini, disaat gua yang sedang mengejar impian untuk menjadi seorang artis, dimana mimpi ini memanglah hal yang konsisten gua jalani sejak gua SMP.

Sungguh banyak kesulitan untuk gua berada di dunia entertain tersebut. Gua soalnya memang harus tetap menjaga penampilan. Walaupun kurus, tapi musti tetep tampil oke dan bisa buat orang berkata "lu bagus Ton begini." Hal-hal tersebut adalah yang gua kejar. Yang hingga sekarang, ternyata makin terasa sulit lagi untuk gua bisa menjaga penampilan, dengan salah satu-nya adalah tak memakai kacamata.

Memang, softlense bukanlah segalanya. Penampilan tanpa kacamata juga bukanlah hal yang terlalu penting untuk di dunia entertain. Banyak orang juga yang selalu memakai kacamata, tapi ia bisa berhasil di dunia tersebut....

Yah, mungkin memang harus gua sendirilah yang ngomong hal seperti itu, bukan dari orang lain yang bisa-bisa langsung saja menggurui gua dan mengatakan kalau gua "tak bersyukur". Karena untuk sekarang, gua cuma lagi merasakan sebuah tekanan yang besar, yang memang butuh waktu untuk gua menstabilkan keadaan sehingga gua bisa cari cara untuk mencari sebuah solusi agar gua bisa tampil oke lagi di depan banyak orang dengan menggunakan kacamata yang baru, karena gak mungkin juga kalau gua pake soflense khusus silinder yang mahal tersebut. Dalam kenyataan hidup gua sekarang, duit benar-benar lagi "entah dimana ia berada".

Tadi pun sebenarnya gua juga sempat berdoa sama Tuhan, setelah sekian lamanya gua tak menutup mata dan berbicara pada-Nya. Namun seperti biasa, gua masih merasakan kesulitan saat berbicara pada-Nya disaat meram, sehingga gua pun langsung cari cara dengan membuka mata dan menjadi diri sendiri disaat sedang sendirian di dalam rumah. Soalnya kalau lagi meram pun, gua cuma melihat hal-hal yang akan lebih menekan gua, yang berasal dari dalam otak gua sendiri. Soal hal-hal yang sudah gua lakukan sehingga mata gua bisa silinder sekarang. Yah you know lah, seperti nonton film kebanyakan, di depan komputer terus, dan lain-lainnya. Sehingga untuk gua bilang "kenapa Tuhan kasih hal seperti ini" pun benar-benar rasanya jadi hambar dan tak enak. Karena jawabannya memang adalah dari dalam diri gua sendiri. Yah tetapi, walaupun gua gak nyangka juga, kalau mata gua malah masuk ke tahap silinder, bukannya nambah min-nya lebih tinggi, yang pada kenyataannya masih bisa ditolerir untuk softlense dan operasi lasik.

Sungguh BAD day untuk gua di tanggal yang sangat bagus dan sebenarnya terkenal ini (soal isu kiamat). Yang memang sayangnya, Tuhan tidak memberikan pada gua izin untuk nembak siapa-siapa pada hari ini (Lah, siapa juga orang yang bakal gua tembak haha), lalu juga Ia tak mengijinkan untuk meng-ACC soal isu kiamat tersebut, tetapi, dengan kejadian yang berbeda, soal mata silinder gua ini, Ia seperti ingin berkata sama gua,"Anton, lu itu pintar. Pasti lu bisa mengatasi hal seperti ini dengan berbagai macam cara dari apa yang sudah lu pelajari lewat pengalaman-pengalaman yang ada."

Yup, intinya memang gua harus tetap men-stabilkan diri dan mencari solusi untuk merubah penampilan diri gua menjadi yang lainnya lagi, yang tentunya tetap harus OKE hehe.... Namun, untuk sekarang memang gua masih ingin diselimuti oleh kesedihan akan kenyataan soal mata silinder gua ini. Yang walau sebenarnya musti malam ini aja, soalnya besok adalah hari pertama untuk gua jadi MC di kampus. Jadinya gua juga musti cepat-cepat cari penampilan yang baru, dengan yang tentunya "musti memakai kacamata yang lama lagi". Karena tak mungkin gua mengikuti kata-kata "beauty is a pain". Gua gak mau mata gua jadi tambah rusak karena gua rela-rela nge-MC pake softlense yang selalu buat mata gua jadi gak nyaman. Huaaaaaa......!!!!

"Tetap jaga mata kalian yahh.... Jangan jadi seperti gua....." (Beginilah yang memang sering dikatakan oleh manusia ketika sedang menjadi korban dari "kesekian persennya adalah kesalahannya sendiri" hehe. Btw gua ngomong begini karena gua juga gak patut disalahkan semuanya yah. Soalnya memang mata min itu kan juga adalah dari turunan, dan gua sudah mengalaminya sejak kecil.) 

Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath