Tentang Film "DREED"

Hal pertama yang membuat gua senang ketika menonton Film reboot berjudul DREDD ini adalah kehadiran dari Olivia Thirlby yang dulunya pernah bermain dalam Film JUNO. Karena tak disangka kini ia sudah masuk ke dalam tahapan yang lebih tinggi dengan peran yang cukup penting selain Karl Urban yang memanglah sang pemeran utama tersebut.

Namun bukan lah gua akan membahas soal Olivia disini. Itu hanya karena gua senang saja saat bisa melihat mukanya yang cantik dan mempesona tersebut, apalagi dengan rambut blondenya kini. Sungguh ia seakan sedang menjadi permen yang manis diantara para pria berwajah kasar yang bakal terus kita lihat.


DREDD, yang juga berasal dari komik terkenal ini, bercerita tentang kehidupan masa depan di bumi yang dimana sudah sangat rapuh, yang bahkan sampai ada banyak sekali penjahat yang berkeliaran. Menjadikan pemerintah membentuk sebuah organisasi pertahanan yang lebih besar dari polisi dan tentara sekalipun. Yaitu seorang judges jalanan, yang siap menghukum setiap penjahat yang ditemuinya, baik itu dengan langsung mengeksekusinya atau memenjarakannya tanpa melewati pengadilan lagi. 

Dan adalah seorang judges bernama Dredd yang pada satu hari, ternyata ia malah mendapatkan sebuah masalah yang sangat besar. Yaitu: terkunci di dalam sebuah apartement dengan para penjahat kelas kakap yang siap untuk membasmi dirinya atas perintah dari sang kepala yang biasa dipanggil dengan sebutan Ma-Ma. Dan disaat yang bersamaan pun, Dredd sedang ditemani oleh seorang judges baru bernama Anderson (Olivia Thirlby), yang dimana ia ini bisa dikatakan memiliki kemampuan khusus namun sayangnya masih baru dalam hal bunuh-membunuh.

Semua hal yang terjadi itu sebenarnya disebabkan oleh narkoba yang bernama Slo-Mo, yang disaat ada yang menghisapnya, ia akan merasakan kenikmatan dalam lambatnya waktu. Yup, semua yang dilihat dan dirasakan akan serasa lambat selambat-lambatnya. Dan menyenangkannya, para penonton juga dapat melihat secara langsung gerakan slow motion tersebut yang juga diberikan banyak sinar-sinar kecil yang memanjakan mata. Yah walau tak memanjakan selalu sih. Soalnya kita juga akan melihat daging-daging manusia yang terobek secara slow motion disini. Karena memanglah kekerasan yang ditampilkan itu sungguh tingkat tinggi. Dan secara frontal kita semua dapat melihat bagaimana Judges Dredd dengan sadisnya menghajar para penjahat tersebut lewat senjata dan pukulan mautnya.


Mungkin untuk segi cerita, sudah kita ketahui kalau sangat mirip dengan Film Indonesia, The Raid. Tapi tenang, film ini sama sekali tak ikut-ikutan. Karena pembuatannya saja pada waktu sebelum Film The Raid dibuat. Jadinya benar-benar kesamaan yang tidak disengaja.

Dan jika gua ingin membandingkan kedua film ini. Yah untuk gua, Film Dredd dan The Raid sama-sama memiliki kekuatannya masing-masing. Kalau Dredd, ia memiliki efek komputer yang luar biasa. Sedangkan The Raid, ia memang full action dengan penjedaan yang benar-benar cepat, berbeda dengan Dredd yang diberikan cukup waktu untuk mengobrol banyak terlebih dahulu dalam penjedaan sebelum terjadinya baku hantam yang menimbulkan nyawa melayang.


Yah intinya, untuk Film Dredd sendiri sudah sangat menghibur gua. Dengan segala efek slow motion, adegan kekerasan tingkat tinggi, dan tetek-bengek lainnya, yang penting film ini telah memberikan pada gua sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan.

Dan kalau boleh jujur, gua tak akan lupa soal adegan terakhir yang sungguh mengerikan dari film ini. Karena itu adalah seperti sebuah mimpi yang sangat teramat buruk jika benar-benar sampai terjadi ckckck....

Thanks
Gbu

N.B: Btw gua tak akan lupa soal kehadiran dari Lena Headey yang berperan menjadi Ma-Ma disini. Wanita yang pernah menjadi istri dari Leonidas (300) dan juga seorang Sarah Connor dalam Sarah Connor Chronicles (terminator tv), benar-benar sudah berperan dengan hebatnya kembali di film ini. Walau kalau boleh jujur, gua sangat iba dengannya waktu ia pada akhirnya dibunuh. 


Ternyata sama sekali tak pengaruh buat gua jika mukanya yang cantik itu sudah dibuat sedemikian rupa hancurnya. Simpati tetap ada untuknya... :p

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath