Tentang Film "Dead Man Walking"

Dua jam sudah, saat gua memutuskan untuk menonton film yang berjudul "Dead Man Walking".

Namun jangan salah sangka. Ini bukanlah film tentang zombie-zombie yang suka makan otak manusia. Melainkan sebuah film yang lebih mengenai tentang realita kehidupan. Yang dimana berarti-memiliki unsur drama yang begitu kuat.


So, kisah pun dimulai ketika seorang Sister Helen Prejean tiba-tiba saja mendapatkan sebuah panggilan pertamanya untuk melayani seorang tawanan yang akan segera mengalami hukuman mati. Dan tawanan tersebut bernama Matthew Poncelet.

Awal pertemuan mereka berdua ini, ternyata malah membuat Sister Helen menjadi mau untuk membantunya agar bisa mendapatkan naik banding, dengan mencarikannya seorang pengacara. Dan itu semua disebabkan karena Sister Helen percaya pada Matthew, kalau hanya teman-nya lah yang telah membunuh kedua anak muda yang sedang bercinta di dalam hutan.

Namun tunggu sebentar. Ini bukan film tentang detektif-detektif-an ya. Walau memang ada persidangan yang sudah membuat kedua pengacara menjadi mengeluarkan kata-kata pintar mereka, tetapi film ini tidak memfokuskan pada hal seperti itu. Melainkan lebih ke unsur moral, atau bisa gua bilang adalah "rasa kasih" terhadap sesama. Dan hal tersebut dapat kita lihat dari Sister Helen ini.

Bayangkan, betapa bencinya masyarakat saat mengetahui kalau Sister Helen turut mendukung Matthew yang sudah di-cap sebagai monster pembunuh. Bahkan kedua orang tua dari kedua anak yang dibunuh pun menjadi ikut mengecam Sister Helen dengan kesalnya saat di persidangan.

Bukan berarti Sister Helen tak mendukung keluarga yang sedang berduka itu. Karena ini adalah tugas pertamanya, yang lalu-ia pun segera mengunjungi kedua orang tua yang sudah mengecam-nya itu tanpa adanya rasa kesal. Namun yang terjadi berikutnya ternyata, ia tetap dikecam sewaktu diketahui kalau ia yang akan menemani Matthew hingga di akhir hayatnya.

Tidak adil memang. Tapi apa daya, Sister Helen memang memiliki hati yang begitu besar. Walau tekanan-tekanan sedang datang membara, tetapi ia tetap kukuh memegang prinsipnya soal "apa yang harus ia kerjakan di bumi ini". Dan gua sangat menyukai hal tersebut. Yang ternyata sudah mampu membangkitkan spirit di dalam hidup gua soal "kasih antar sesama manusia", yang juga sudah pernah dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sewaktu Ia sedang berada di dunia ini. Dimana Ia telah membuat para pendosa menjadi tetap merasakan kalau mereka masih bernilai di mata Tuhan.....

Jadi (kembali ke film-nya hehe), saat kalian sedang menonton film ini. Mungkin awal-awalnya kalian akan kebingungan soal beberapa hal. Tetapi tenang saja. Saat sudah berada di akhir cerita, kalian akan langsung diberitahukan dengan pas. Sama seperti pemberitahuan mengenai arti dari judulnya tersebut-"Dead Man Walking".


Gua sungguh sangat suka dengan film ini, yang katanya diambil dari sebuah buku non fiksi, dimana film ini pun disutradarai oleh Tim Robbins, yang juga pernah menjadi tawanan di dalam Film The Shawshank Redemption yang sungguh bagus itu.

Yah kalau boleh dibilang, gua sudah terlarut dalam emosi sejak menontonnya tadi. Bukan hanya dari jalan ceritanya saja, melainkan dari luar biasanya akting dari para aktor dan aktris utamanya disini, yakni Sean Pean dan Susan Sarandon. Dimana Susan Sarandon pun pada akhirnya berhasil mendapatkan satu buah Piala Oscar, sebagai seorang perempuan yang terlihat pure, penuh dengan kasih, tanpa harus terlihat terlalu rohani.

Yah, ini sungguh adalah salah satu film yang sangat baik untuk pembenahan diri sendiri. Yang akan segera kita lihat dari kehidupannya Matthew Poncelet-yang sudah tahu tanggal kematiannya disini. Dan beruntungnya ia, karena bisa mendapatkan sebuah kado yang indah dari Tuhan sampai di akhir hayat kehidupannya.


Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath