Cerpen: "Marta: The Game"

"Kamu lagi bercandain Papi ya?!" Kata Ayahku dengan raut muka kesalnya, sambil melihat ke arahku yang sedang duduk di belakang kursi mobil.

"Ini lagi serius ya Mar. Jangan main-main!" Lanjut Ibuku yang juga dengan raut muka kesalnya melihat ke arahku yang sedang duduk tepat di sebelah kiriku.

"Beneran disini kok. Kalau gak percaya, kita masuk aja sekarang."

"Kamu udah bener-bener jadi pelacur ya sekarang! Masa di kos-an kecil kayak gini dia tinggal?!" Kata Ayahku lagi yang tangan kanannya langsung menunjuk ke arah rumah, tempat aku pernah bermain dengan Gerard. Memang tempat kos-nya itu begitu kecil, dan di perumahan yang kumuh pula. Dan aku yang sehabis mendengar sebuah kata yang sudah lama tak diucapkannya itu, aku pun hampir saja ingin melawan balik. Tapi aku harus bersabar. Kita tunggu saja tanggal mainnya nanti!

"Udah deh. Kalau kalian pengen langsung ketemu siapa orangnya. Langsung masuk aja ya." Kataku dengan nada yang agak kubuat manis.

Dan tanpa membalas kata-kataku lagi, orang tua-ku pun langsung keluar dari mobil dengan muka ketus mereka. Aku sendiri juga langsung membuka pintu mobil ini. Yang seterusnya kubawa masuk mereka ke dalam dan tanpa basa-basi lagi, langsung menuju ke kamarnya Regard.

...

"Tok tok tok!!" Kuketuk berkali-kali dan sama sekali tak ada suara langkah kaki dari dalam. Sepertinya ia sedang di luar. Dan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat menyebalkan disaat sial seperti ini!

"Mana anaknya?! Kamu bohong ya kalau dia tinggal disini?!" Kata Ayahku.

"Marta ya??" Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang memanggilku dari belakang. Yang ternyata ia adalah sang induk semang yang kelihatannya sudah berumur lima puluh tahun lebih.

"Iya, Ibu... hmm.... Ratna."

"Kamu pasti lagi cari Regard ya."

"Iya nih. Dia lagi di luar ya?"

"Waduh.... Dia kemarin sudah keluar dari kos-an ini, Marta. Kamu tidak dikasih tau dia?"

Serentak jantungku berhenti beberapa detik.

Berengsek Regard!! Berani banget ya main pergi gitu aja!!!

"Apa?! Si berengsek itu sudah pergi dari sini!!" Kata Ayahku kasar dengan nada yang cukup besar. Sampai-sampai beberapa penghuni kos menjadi membuka pintu kamar mereka dan mengintip.

"Ada apa ini Pak??" Tanya Ibu Ratna yang terkaget-kaget.

"Marta! Kamu pasti simpan nomor telpon si berengsek itu kan! Telpon sekarang!"

"Sudah Pi. Yuk kita keluar dari sini dulu." Ajak Ibuku yang terlihat malu dengan situasinya sekarang.

Sambil jalan keluar, aku segera menelpon Gerard. Dan sesuai dengan dugaanku, ternyata nomornya memang akan tak bisa dihubungi. Sudah pasti ia segera mengganti nomor telponnya untuk tak berbicara denganku lagi, sama seperti yang pernah ia lakukan terhadap mantannya itu. Memang berengsek nih orang.

"Nomornya gak bisa dihubungi Pi."

"Terus bagaimana ini?!" Tanya Ayahku yang sudah seperti orang stress (seharusnya aku yang stress sekali sekarang!). Yang lalu kemudian, ia terdiam sejenak, dan lanjut berbicara kepadaku. "Sekarang kamu tanggung akibatnya sendiri ya Marta. Daripada Papi marah-marah terus, lebih baik Papi sama Mami pulang ke rumah. Dan kamu coba berpikir soal ketololan kamu ini sambil jalan kaki ke rumah."

"Tapi Pi, kita ada di daerah yang jauh banget dari rumah!"

"Mulai sekarang, kamu jalani semuanya sendiri. Jangan minta bantuan apa-apa lagi dari kami!"

"Baik!" Tegasku langsung ke mukanya. Yang terus aku pun langsung pergi dari pada malah memohon-mohon padanya seperti anak kecil tak berguna. 

***

Benar-benar rencanaku ini berjalan cukup perfect. Ya kenapa kubilang cukup, soalnya si Gerard bodoh itu main pergi begitu saja, dan ada seseorang yang main comel soal kehamilanku ini ke semua teman-temanku. 

Siapa ya orang yang berani mati, yang udah jadi bermulut lebar tersebut?! Aku sungguh ingin bertemu dengannya! Ingin cepat merobek-robek mukanya dengan jariku sendiri ini!!

Lalu, selintas pikiranku memberikan sebuah gambar yang dimana di dalam gambar tersebut ada sesosok perempuan seusiaku, yang bisa dikatakan sangatlah aneh karena penampilannya yang nyentrik setiap ia datang ke sekolah. Dan ia sudah pasti adalah Ragilla. Si penyihir aneh yang juga bersekolah di sekolahku, dan untungnya kami tak sekelas. 

Hmm.... mungkin ia bisa memberitahukanku siapa setan yang sudah siap kubunuh itu. Pikirku percaya diri. Soalnya desas-desus mengatakan-kalau Ragilla ini bersedia dibayar berapa saja untuk melakukan tugas-tugas kotor, seperti saat ia pernah membuat ijasah palsu untuk anak yang tak lulus, lalu juga mengubah nilai-nilai ujian, dan yang pastinya, ia juga terbilang memiliki partner yang bisa dipercaya dalam mencari-tahu semua hal tentang kejadian di sekolahku.

Oh God! Dengan cepat, aku pun langsung berlari, untuk segera menuju ke pangkalan bus yang bisa membawaku ke daerah rumah penolongku tersebut!

***

Tepat jam delapan malam ketika aku akhirnya sampai di rumahnya yang besar dan megah itu.

Orang-orang bilang, kalau ia ini sudah tak memiliki orang tua lagi. Dan tante-nya lah yang menjadi wali-nya sampai akhirnya ia lulus sekolah, yang lalu semua harta warisan akan segera ia miliki seutuhnya.

"Ning nong!!"

"Siapa?" Dengan cepat suara Ragilla langsung keluar dari speaker yang ada di bawah bel, yang barusan aku bunyikan di depan pintu rumahnya ini.

"Ini Marta. Elu tau gua kan?"

"Oh si pelacur yang baru ketahuan itu toh. Tunggu sebentar." Entah, sepertinya kali ini aku benar-benar dicap oleh semua orang sebagai pelacur. Sungguh, akan kubunuh orang yang sudah memburukkan namaku ini!

"Halo Marta. Gua senang sekali dengan kedatangan elu disini." Sapa-nya setelah membuka pintu. Dan tak dapat kupungkiri lagi. Penampilannya itu benar-benar menakutkan. Dari softlense warna putihnya, lalu kulit pucatnya, rambut keriting tak beraturannya, dan tak lupa soal bekas luka di pipi-nya itu yang begitu lurus seperti habis disabet dengan pisau.

"Gua butuh jasa elu."

"Gua udah tau itu. Sudah pasti lah setiap orang yang datang kesini hanya untuk meminta keajaiban dari tangan gua ini hahaha...."

"Elu bener-bener bisa dipercaya kan??"

"Itu semua tergantung dari seberapa besar keuntungan yang gua dapat dari elu Mar hahaha...."

"Oke. Nanti gua bakal kasih seberapa banyak yang elu mau. Sekarang, gua minta ke elu untuk cari tau siapa yang sudah comel kasih tau tentang kehamilan gua ini. Bisa?!"

"Waduh, kita ngomong di dalam aja yuk. Sekalian kalau elu mau tidur disini juga boleh."

"Maksudnya??"

"Elu tahu lah maksud gua apa. Sudah pasti untuk anak yang punya orang tua kasar, yang ampe suara teriakannya tadi kedengeran di sekolah, yah gak bakal pulang ke rumah lah sekarang. Elu pasti ingin bebas di luar, dan tentunya dari tekanan-tekanan tak berguna itu."

"Yah, sepertinya elu mengenal gua dengan baik ya."

"Yup, sangat-sangat mengenal elu hahaha...."

Lalu aku pun masuk ke dalam rumahnya itu. Dimana saat kuperhatikan, sepertinya hanya terdapat tiga pembantu yang sudah tua yang tinggal disini. Yang sayangnya, kelihatan sekali-dengan memiliki pembantu yang minim tersebut untuk rumah sebesar ini, yah sudah pasti ada banyak debu yang secara kasat mata mampu kulihat di segala perabotannya. 

"Hmm.... Cukup kotor ya rumah lu."

"Inilah rumah gua hahaha...."

"Oh ya, Dimana tante lu Gil?"

"Tante gua? Hmm.... Dia lagi pergi sih."

"Dia selalu pergi ya?"

"Ya gitu deh. Elu mau tau aja ya."

"Gak. Gua cuma bayangin aja jadi elu. Rasanya pasti hampa untuk hidup sendiri seperti ini. Sampai-sampai elu selalu berpenampilan aneh dimana-mana."

"Ya, setidaknya kehampaan gua itu gak gua isi dengan tidur sama banyak cowo lah ya hahaha...."

Mendengarnya berbicara seperti itu, seharusnya aku marah. Tapi entah kenapa, aku malah menjadi tersenyum. Seakan aku benar-benar tersihir olehnya untuk akhirnya jadi merasa nyaman dengannya itu. Ah biarlah.

"Dan selamat datang di kamar tercinta gua!"

"Hah?!" Kaget aku saat melihat isi kamarnya yang jauh dari ekspektasiku.

"Kenapa lu kaget begitu? Elu kira kamar gua tuh isinya darah, tengkorak, sama organ tubuh manusia ya hahaha...."

Benar-benar kamar orang kaya ini! Ada televisi 25 inch tipis yang tertempel di dindingnya yang dibentuk dengan kayu-kayu oak, lalu jendela lebar yang adalah dinding seutuhnya di sebelah kanan tempat tidurnya Ragilla yang besar dan kelihatannya empuk sekali itu. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan sangat unik dan menarik. Mataku saja serasa ingin melotot terus melihat hal yang sama sekali tak kuduga ini!

"Yuk masuk. Dan elu boleh rileks, tiduran di ranjang gua."

"Jah. Terus masalah gua??"

"Tenang. Gua tinggal sms partner gua. Dan dia akan segera meng-email gua malam ini juga sebelum jam 12 nanti."

"Sebegitu mudahnya kah?"

"Mudah, asal elu punya teman yang mampu dipercaya. Oke, gua tinggalin lu disini dulu ya. Gua mau ambil makanan dulu. Sudah waktunya makan malam."

Aneh. Mengapa ia tak menyuruh pembantunya untuk mengantarkan makanan ke kamarnya ini. Ah, ya sudah lah. Aku tidur dulu saja sejenak sekarang. Hari ini benar-benar sangat melelahkan. Kehidupan ini memang sungguh tak pernah terduga.

...

Oh Tuhan, jikalau Engkau masih memberikanku kehidupan setelah aku membuka mata nanti. Baiklah, aku akan melanjutkan bernafas dengan memakai caraku sendiri tentunya. Engkau sudah cukup memberikanku banyak permainan akan perasaan dan tenaga dalam diriku. Yang walau memang itu untuk meningkatkan kekuatanku. Tapi rasanya sekarang sudah cukup. Sudah waktunya lah aku yang menjadi dalang akan permainan yang sedang terlaksana ini. Terima kasih Tuhan.....

Bersambung...........

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath