Cerpen: "Bodoh atau Tidak"

Ini adalah sebuah kisah yang sangat gila, tentang penyebab dari aku, Fera, yang pada akhirnya mencoba untuk terus mengejar seorang laki-laki yang begitu aku idam-idamkan. Dan mungkin bisa juga dikatakan sebagai kisah yang begitu bodoh, karena aku memang sudah melakukan banyak hal yang bodoh untuk pria yang pernah kudapatkan ini.

Kita bisa panggil ia dengan Hendra. Seorang pria berkulit putih dengan rambut berwarna merah pucat. Dia ini adalah kakak kelasku, yang pernah aku temui semasa aku sedang berkuliah. Dimana ia sudah semester 7, sedangkan aku masih semester 3.

Dan saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku pun langsung mempunyai mimpi yang begitu besar, yang terus terikat sampai di urat nadiku ini.

...

"Maaf, bangku ini kepake apa engga?" tanya seorang laki-laki yang tak kukenal kepadaku, disaat aku sedang bersama teman-temanku di satu meja makan.

"Engga kok. Ambil aja." jawabku yang tanpa sadar, sewaktu tiba-tiba saja mata kami bertatapan, aku menjadi tak bisa berhenti tersenyum, soalnya ia juga tersenyum di depan mukaku ini. Oh, dalam hati aku berkata,"God!! Idaman gue mampus inihh!!!" 

Saat ia sudah pergi, teman-temanku pun langsung kebingungan waktu melihat mukaku. Soalnya mungkin pancaran mukaku saat itu begitu sangat berbeda kali yah hahaha.

"Elu napa Fer? Kita kan lagi ngebahas soal Nyokapnya Sari nih yang lagi meninggal. Kok senyam-senyum terus sih lu??" tanya Tania yang begitu penasaran. Dan memang, saat itu semua teman-temanku sedang berwajah serius sebab sedang merencanakan suatu cara untuk menghibur teman kami yang sedang berduka. Aku pun langsung mencoba untuk menghentikan kebahagiaanku ini.

"Gak apa-apa kok. Yuk terusin ajah. Jadi kita pergi nih nanti?"

Hahahaha..... sungguh, aku menjadi tak fokus pada hal yang sebenarnya begitu penting ini. Soalnya Sari adalah satu geng-ku, dan kami juga sering sekali curhat-curhatan sejak awal masuk kuliah. Yah, bisa dibilang teman yang sangat akrab dehh.

Namun memang apa daya, saat itu aku pun benar-benar hanya ingin bertemu dengan laki-laki itu lagi. Sungguh sangat ingin bertemu dia lagi deh sumpah!!

...

Itu lah pertemuan pertama kami. Yang begitu singkat, tapi ujung-ujungnya malah membuatku menjadi begitu menggebu-gebu agar bisa dapat bersama dengannya lagi kini.

Oh ya, tentang bagaimana kami bisa jadian. Singkat ceritanya, kami ternyata memang ketemu lagi beberapa hari kemudian saat sedang berjalan-jalan di kampus. Dan dia dengan gentle-nya, langsung saja menyapaku sambil bertanya,"elu yang waktu itu di kantin kan yah?" Aku pun langsung menjawab iya sambil terus tersenyum kembali.

Dan bla bla bla..... kami ngobrol banyak. Lalu mulai tukeran nomor hape. Terus dia sms aku duluan, tanya,"lagi apa?" Dan banyak ngobrol lagi di sms sampe aku harus beli pulsa melulu karena langsung habis tiap dua hari sekali. Lalu dia ngajak makan sekali, yang dimana begitu indah banget waktu itu. Kemudian, jeng grejeng!!! dia nembak aku!!

Ceeesssssssssss...........!!!!

Berawal dari minta bangku, eh dia malah yang kemudian duduk di sebelah kursiku. Hahaha.... Aku bahkan tak percaya kalau saat itu adalah kenyataan yang begitu indah. Hingga........

Yup, hingga aku tersadar kalau ada seorang laki-laki yang masih aku cintai selama bertahun-tahun lamanya (tepatnya waktu aku berada di kelas dua SMA. Berarti empat tahun deh.). Walau aku tak pernah mendapatkannya, dan dia juga sepertinya biasa-biasa saja kepadaku, namun karena kami masih saja ketemu tiap sedang berada di dalam organisasi Event Organizer kami (ya, aku kerja di sebuah EO bersama dengannya), ya sudah, rasa-rasa ingin mendapatkannya itu masih terus menggebu-gebu dengan begitu kuatnya! Dan hal ini lah yang akan aku bawa langsung ke dalam kisah bodohku berikutnya.

...

Namanya Wendy. Sejak SMA kami selalu sekelas, dan ia pun selalu duduk di sampingku. Tiap harinya kami bisa dibilang selalu bertukar pikiran, berbicara hal-hal apa saja mengenai kehidupan. Bahkan sampai kami terkadang suka berdebat. Namun itu adalah masa-masa indahku bersamanya semenjak SMA. Hingga akhirnya kami pun malah terlibat ke dalam satu EO yang sama, yang dimana setiap setahun suka ada empat atau lima event yang akan kami pegang. Dan itu berarti, aku dengan Wendy akan selalu bertemu dan kembali lagi mengobrol banyak hal (yup, walau sudah lulus, tapi kami masih saja bisa seru-seruan berdua).

Hingga akhirnya datanglah Hendra, yang mampu mengalihkan perhatianku selama empat bulan lebih dari gambar-gambar di otak mengenai Wendy. Yang lalu, setelah itu aku pun tersadar akan sesuatu. Tentang dimana aku adalah perempuan yang bodoh, yang terus berharap akan sebuah keajaiban dari Tuhan kalau suatu hari nanti Wendy akan menembakku. 

Dan berbekal dengan kebodohan tersebut, akhirnya malah aku menjadi kaku terhadap Hendra. Aku menjadi tak minat untuk bertemu dengannya lagi. Apalagi untuk membalas sms serta mengangkat teleponnya. Karena aku menjadi begitu galau sebab harapan terbesarku untuk Wendy ini.

...

"Kamu lagi kenapa Fer? Kok sekarang kamu tak mau bertemu denganku lagi, bahkan ngobrol denganku?" tanya Hendra sewaktu akhirnya ia datang ke rumahku tanpa persetujuanku terlebih dahulu lewat SMS.

"Gak apa-apa kok. Aku hanya sedang males aja ngapa-ngapain." Waktu itu hatiku sebenarnya ingin berkata,"Minta putus cepetan fer!!!"

"Oh, kamu pasti lagi BT yah karena tugas dari kampus hehe. Aku tau kok. Oleh karena itu, nih aku bawa ginian untuk hibur kamu." Katanya sambil mengeluarkan sebuah piano kecil dari dalam tas-nya. Dan aku sungguh baru tau kalau ia bisa bermain piano saat itu.

"Kamu bisa bermain piano?"

"Iya donk. Maaf ya baru bilang."

Kemudian, saat ia sudah menyalakan piano kecilnya tersebut, ia pun langsung mendentingkan banyak nada. Yang kalau boleh jujur, ia ini bisa dikatakan sudah sangat pro. Terlihat dari kecepatan jarinya pada waktu sedang memainkan lagu yang ceria, yang terkadang malah bisa membuatku tersenyum saat melihat permainannya itu.

"Nah gitu donk. Kamu kan kalau lagi senyum itu benar-benar lucu deh."

Saat ia berkata itu. Aku langsung teringat kembali akan Wendy. Laki-laki yang benar-benar bisa memantulkan segala kebaikan hatinya Hendra. Yang lalu, aku secara blak-blak-an berkata sesuatu yang menyakitkan untuknya.

"Hendra. Aku ingin stop pacaran sama kamu. Aku sudah ada laki-laki yang begitu aku cintai sekarang. Aku gak ingin melihat kamu lagi mulai dari kamu keluar dari rumahku." Ya, aku sudah berperan menjadi antagonis sekali di depan mukanya saat itu.

Hendra pun terdiam. Ia seperti tak tahu ingin ngomong apa untukku dengan muka lesu-nya itu. Dan secara perlahan, ia segera memasukkan kembali piano kecilnya itu ke dalam tas. Yang lalu, ia menatapku.

"Fer. Aku mungkin bukan yang terbaik untuk kamu. Dan jika memang kamu ingin kita berdua pisah sekarang, disaat yang benar-benar mengagetkan aku ini. Baiklah. Aku akan dukung keputusanmu. Aku tak akan sms kamu lagi, bahkan bertemu denganmu. Thanks for everything...."

Kemudian, ia pergi dari rumahku. Dan aku hanya duduk terdiam, tak tahu soal apa yang habis aku perbuat waktu itu. Yang kemudian, aku segera sms Wendy, dan mengobrol seperti biasanya untuk menghilangkan suasana aneh tersebut.

...

Keputusan bodohku untuk berhenti berhubungan dengan Hendra bisa dibilang sebagai suatu petanda kalau akan ada nasib yang buruk yang akan menimpaku berikutnya. Soalnya aku memang sudah merasakannya. Dan hal tersebut terjadi pada waktu dua bulan kemudian, yang dimana akhirnya aku jujur tentang perasaanku di depan muka Wendy.

...

"Wendy, kamu udah nonton Film Loving You apa belum?" tanyaku ke Wendy sewaktu kami sedang makan berdua sehabis pulang dari rapat WO pada malam hari.

"Belum sih. Kenapa emangnya ama tuh film?" katanya sambil melahap sup sapi pesanannya tersebut.

"Ya.... Tu film bener-bener jleb! banget deh di hati. Tau gak sih, kalau pemeran si cewe itu, ia sampe nangis bukan main karena belum bilang perasaannya ke cowo yang dia suka, yang pada akhirnya meninggal. Itu sungguh menyakitkan!"

"Itu akhir ceritanya yah?"

"Iya. Bad ending deh...."

"Waduh, elu sih udah jadi spoiler dong ya ke gua hahaha.... Padahal gua mau nonton tuh film besok sama temen gua."

"Eh iya?! Sory sory!! Gua lupa.... Walah-walah...."

"Gak apa-apa. Selow aja hahaha...."

Lalu, aku pun menjadi terdiam sejenak. Karena jujur, otak serta dadaku saat itu sedang terasa panas sekali. Sebab aku harus jujur dengannya saat itu juga! Dan gara-gara Film Loving You itu lah aku jadi termotivasi untuk jujur disaat yang aku gak tau tepat atau tidaknya.

"Wen, gimana kalau aku bilang kalau aku tak ingin jadi seperti tokoh perempuan di dalam film itu?"

"Ya udah, elu ungkapin lah ke cowok itu sekarang." Katanya yang sudah tak menatapku lagi karena keasyikan melahap sup-nya itu.

"Oke. Gua suka sama elu Wen." Dan makanan yang masih ada di mulut Wendy pun langsung muncrat ke depan.

"Hah??? Lu lagi becanda yaa???"

"Kagak Wen. Ini jujur dari dalam hati gua sejak dulu."

"Maksud lu. Elu suka gua tuh udah lama banget?!" Sekarang ekspresi mukanya seperti sangat kaget bukan main.

"Iya. Kok elu jadi kaget gitu Wen?"

"Waduh gawat ini Fer. Maaf banget nih sebelumnya. Tapi gua harus bilang dengan cepat. Kalau hubungan kita gak bisa sedekat seperti ini lagi mulai dari sekarang."

Aku pun yang sekarang menjadi kaget bukan main.

"Hah? Kenapa?!

"Soalnya gua pernah ngalemin hal seperti ini. Dan dari pada gua terusin, yaitu terus deket sama elu seperti makan-makan kayak gini, yang bakal buat elu nanti jadi makin berharap sama gua. Ya betul, berharap. Kita lebih baik tak usah bertemu lagi yah, kecuali pada waktu rapat. Agar perasaan lu ke gua cepet hilang. Sory ya Fer, gua ngomong kayak gini soalnya gua juga mau bantuin elu. Gua gak mau musuhan sama elu. Tapi memang biasanya harus seperti ini."

Dan aku menjadi mengeluarkan air mata. Walau sambil tersenyum juga sebab aku merasa sudah melakukan hal yang bodoh, mengenai Hendra.

"Hahaha...... waduh Wendy-wendy..... Elu udah bener-bener buat gua hancur loh sekarang. Hahaha...."

"Maaf ya Fer. Gua sama sekali gak maksud gini. Soalnya gua memang gak ada perasaan yang bisa elu harepin."

"Iya-iya. Makasih ya atas kejujuran elu, dan menganggap ini bukan sebagai hal yang menjijikan buat lu. Hahaha...." Kataku sambil mengelap air mataku yang seakan terus saja mengalir.

"Yang penting, kita tetap profesional ya di EO kita. Jangan lupa kalau tadi kita baru aja ngebicarain event yang berikutnya. Jangan sampe elu nge-galau terus hehehe...."

"Oke-oke. Tapi lebih baik sekarang gua pulang dulu ya. Nih duitnya." kataku sambil kasih duit buat bayar makanan pesananku yang masih setengah belum kuhabiskan. "Bye...."

....

Tuhan itu adil. Ya, sangat lah adil Dia itu. Sampai-sampai aku lah yang menjadi korban dari segala kebodohanku itu. 

Tetapi, aku bilang kalau aku bodoh itu sebenarnya tak sepenuhnya benar juga ya. Soalnya ini lah yang aku alami, yang aku rasakan. Yang tak akan pernah orang lain mengerti mengapa aku bisa melakukan hal-hal yang bakal semua orang bilang kalau aku itu bodoh.

Aku ngomong seperti ini karena aku sempat curhat ke salah satu temanku, dan dia dengan seenak jidatnya main bercuap-cuap mengenai keputusanku tersebut yang terus dikata-katai-nya. Padahal aku hanya ingin didengarkan saat itu. Ckckck....

Ya sudah deh. Pokoknya intinya aku, setelah pulang dari adegan kejujuranku dan kejujurannya Wendy, aku pun langsung menangis semalaman di kamarku sambil melihat fotonya Hendra, dan juga sambil mencoret-coret banyak buku tulis kosongku karena aku sudah stress. Yang lalu, aku juga segera mengirimkan SMS ke ketua EO-ku, kalau aku ingin mengundurkan diri. Walau pada awalnya ketua dan bahkan Wendy sendiri terus memintaku untuk tetap stay, tapi sayangnya, ada kekuatan yang lebih besar yang sanggup untuk aku bahkan menghancurkan karirku tersebut. Ya kalian sudah tahu lah ya, yaitu: " untuk tak ingin melihat muka Wendy lagi!!"

Soalnya aku juga masuk di EO itu sebenarnya hanya karena untuk Wendy. Jadinya kalau memang tak ada keajaiban dari Tuhan untuk merestuiku dengan Wendy, ya sudah, bye-bye juga EO tersayangku!

Yang lalu, selanjutnya adalah masa-masa dimana aku yang menjadi mengejar-ngejar Hendra. Baik itu dengan mengirimkannya SMS yang tak pernah ia balas, dan telpon yang selalu ia reject. Bahkan di kampus pun, sesekalinya kami bertemu, ia langsung mengalihkan arah haluan. Seperti benar-benar ingin menjauhiku.

Dalam hati, aku pun berkata,"Aku sudah menjadi monster!"

...

Jujur, aku sungguh ingin berbicara dengan Hendra lagi, dengan memintanya sebuah kesempatan kedua, yang tak akan pernah aku sia-siakan sampai seterusnya aku menjadi nenek-nenek!

Itu semua karena aku benar-benar menyesal. Ya, sangat-sangat menyesal. Karena setelah aku menghentikan untuk melihat muka Wendy, ternyata aku baru sadar kalau aku sudah menolak sebuah hadiah terindah dari Tuhan untukku. Yang dimana sudah Ia berikan disaat aku sudah begitu sakit sebab terus mengejar Wendy dengan begitu lamanya. Padahal seharusnya aku lebih fokus ke Hendra waktu itu!!

Ah pokoknya, aku akan berusaha untuk mendapatkan kembali Hendra. Aku benar-benar ingin mendengarkannya bermain piano kembali untukku. Yup, aku akan berusaha keras! Walau ku kini tak tahu soal bodoh atau tidaknya aku melakukan hal seperti ini.

Semoga saja ia masih suka sama aku.....

-TAMAT-

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath