Tentang Film "Red Lights"

Sedihnya ketika gua sedang ingin me-review sebuah film adalah, gua sudah menonton 3 DVD secara sekaligus, dan cukup confuse ingin menceritakan yang mana dulu.

Walau pada akhirnya gua sudah tau pasti kalau gua akan menceritakan film yang terakhir gua tonton. Tapi ini sungguh buat gua jadi mem-pending dulu "rasa ingin menulisnya". Karena di dalam pikiran gua, muncul sebuah pertanyaan, "bagaimana jika gua tetep ceritain soal film yang pertama?? Atau kedua??" Semuanya sungguh bentrok seperti lagi tawuran.

Wkwkwk.... daripada gua bertele-tele. Lebih baik gua tetap memutuskan untuk me-review film yang terakhir saja. Karena "sense" setelah menonton film itu kan benar-benar bukan tergantung dari film mana yang paling bagus, tapi film mana yang habis elu tonton (jadi jangan pernah lagi deh, habis nonton film bagus, eh malah lanjut nonton film yang lainnya. Membuat sense sehabis nonton film tersebut menjadi hancur lebur diambil alih oleh film yang berikutnya haha).

Jadi, langsung saja.... gua akan memberikan sebuah review dari sebuah film yang daritadi gua selalu mengingat betul-salah satu pesan moral dari film ini, yiatu: "you can't deny yourself!" (Awesome!)


Red Lights, adalah hampir sepenuhnya menyerupai sebuah film yang berjudul "The Sixth Sense" (menurut gua). Sebab alur ceritanya seakan agak lambat dan terdapat sebuah twist ending yang benar-benar meledakkan segalanya.

Dan kisah ini dimulai dari sebuah adegan yang diberitahukan secara langsung, kalau ada dua orang yang berprofesi sebagai "penghancur" para praktek supernatural yang sebenarnya hanyalah sebuah trik manusia semata. Dan mereka berdua menyebutkan pekerjaan ini dengan nama: "red lights".


Adalah Dr. Margaret Matheson dan asistennya Tom Buckley yang melakukan hal tersebut. Mereka disini dikatakan sudah sangat berpengalaman sekali dalam hal menemukan sebuah penipuan demi penipuan yang dilakukan oleh seseorang dengan cara "menyentuh kepercayaan tiap manusia".

Dan hal yang paling besar di film ini adalah pada saat mereka berhasil menemukan sebuah penipuan dari seseorang yang cukup terkenal dalam hal "melakukan praktek penyembuhan secara langsung dengan menggunakan kata-kata yang cantik". Yaa.... film ini sih seperti sedang menyindir beberapa orang yang memang secara nyata masih melakukan praktek tersebut. Tapi tentunya dengan tidak membawa-bawa sebuah agama.

Oke, berikutnya adalah, saat munculnya sebuah konflik terbesar, yang akhirnya membuat Margaret dan Tom menjadi geger. Yaitu ketika munculnya kembali seorang cenayang tuna netra legendaris, Simon Silver. Yang dimana ia pun ternyata memiliki rencana tersembunyi ketika setelah 30 tahun kemudian kembali datang ke tempat asalnya tersebut. Namun tetap kita musti menontonnya hingga selesai agar dapat menjawab segala sesuatunya itu.


Sebenarnya film ini bisa dikata sudah mengundang emosi gua. Soalnya entah, kenapa dipertengahan ceritanya itu, Rodrigo Cortes malah membuat Dr. Margaret Matheson menjadi tiba-tiba saja meninggal. Yang lalu segala penyelidikannya dilakukan oleh Tom seorang diri. Yaa... mungkin memanglah karena akting dari Sigourney Weaver itu sungguh mantap kali yah, jadinya gua gak tega melihatnya tiba-tiba meninggal begitu saja. Dimana membuat gua jadi kesal sendiri tadi saat menontonnya ckckck....

Namun gua gak bilang kalau akting dari Cillian Murphy (Tom) tersebut jelek ya. Sama-sama bagus. Dan sepertinya memang ketiga tokoh utamanya itu sudah bermain dengan begitu apiknya di film ini (termasuk Robert de niro yang sebagai Simon). Rodrigo Cortes, yang sebelumnya sudah membuat sebuah film yang dimana membiarkan Ryan Reynolds menjadi harus berada di peti mati selama berjam-jam, "Buried", sepertinya kali ini telah diberikan sebuah kesempatan besar (baca: uang banyak) dari produser untuk bisa mengambil para aktor dan aktris yang bisa terbilang "mahal" dan "langka" tersebut.

Walau yaa..... seperti yang gua bilang di awalnya, film ini hampir sepenuhnya menyerupai Film The Sixth Sense. Tapi kekuatannya tak sebesar Film The Sixth Sense yang benar-benar meledakkan segalanya tersebut di endingnya. Soalnya entah, gua merasa seperti ada yang kurang aja. Yang mungkin adalah "masih tersisanya misteri-misteri lain" ketika film ini selesai. Yang intinya adalah belum terjawabkan.

Dan alhasil, gua mengatakan kalau memanglah film ini pasti akan menjadi kurang disukai oleh banyak penonton di Indonesia. Terlihat dari hadirnya film ini yang hanya kira-kira satu atau dua minggu saja waktu itu. Soalnya untuk film beralur lambat dengan durasi hampir 2 jam ini bisa dibilang "hanya sedikit orang yang bisa menikmatinya". Dan gua adalah salah satu dari orang yang menikmatinya tersebut. Apalagi sewaktu sampai di-ending ceritanya itu. Rasanya begitu menyenangkan ketika pikiran gua ini tiba-tiba saja diledakkan oleh twist yang dimana sebenarnya itu sudah diberikan "clue-clue"nya di sepanjang film berlangsung (mantep dah!).

Dan tak lupa juga untuk salah satu kalimat khususnya yang selalu saja terkenang dalam hati sehabis menonton film ini....


"You can't deny yourself!" - Tom Buckley

Thanks
Gbu

N.B: Btw, Joely Richardson, yang berperan sebagai Monica Handsen, atau asisten dari Simon Silver ini benar-benar sudah berhasil memukau gua dengan peran antagonisnya. Karena rasanya itu gua ingin segera melihat ada seseorang yang menampar pipinya! Apalagi sewaktu adegan yang dimana ia bersama Dr. Margaret sedang ada di acara televisi. Dari caranya tertawa itu sudah sangat membuat gua emosi!! (Namun gua pun akan mengikuti cara tertawanya tersebut ketika gua sedang berperan sebagai antagonis. Yaa.... yang mungkin suatu hari nanti :p. Soalnya keren sih cara tertawa seperti Joely itu....)


"I like u Joely Richardson!!"

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath