Tentang Film: "EXCISION"


Untuk seorang gadis berusia 18 tahun, Pauline (AnnaLynne McCord), mungkin hanyalah kata "sabar" yang bisa ia tekankan untuk dirinya tersebut yang sudah berada diambang menuju kegilaan. Karena di dalam kehidupannya setelah pasca tenggelamnya ia sewaktu masih kecil, yang dikatakan sampai mati suri tersebut, ternyata kedua orang tuanya sama sekali tak peduli kalau diri anaknya telah mengalami sebuah gangguan. Sampai pada akhirnya Pauline pun menjadi seseorang yang tak bisa bergaul di lingkungan sosialnya.

Dan gangguan-gangguan yang sudah dialaminya tersebut adalah sesuatu yang bisa dikatakan sebagai bentuk "warning!" atau "tanda bahaya!". Soalnya kita akan diperlihatkan tentang apa yang ada di dalam setiap mimpinya setiap malam itu. Yang dimana secara kasat mata, pastinya akan selalu ada genangan darah, daging manusia, dan hal-hal gore lainnya, yang dibuat secara art house (jadinya berseni).


Namun, jika dibilang ia sangatlah dijauhi oleh semua orang, sebenarnya tidak juga. Soalnya ia masih memiliki seorang adik kecil yang manis dan baik hati, Grace (Ariel Winter), yang sayangnya-ia memiliki penyakit di paru-parunya tersebut. Lalu, kedua orang tua Pauline juga sebenarnya tak sampai membenci hingga terlihat antagonis bagaimana. Untuk ibunya, Phyliis (Traci Lords), walau ia cukup otoriter dalam merawat anaknya, tapi "hati"-nya pun diperlihatkan, apalagi pada waktu ia sedang berbicara dengan Pauline kalau ia tak ingin menjadi sama seperti ibunya dulu yang sangat keras saat merawatnya. Membuat hati iba sebenarnya, tetapi Pauline tak terlalu menghiraukannya, karena setiap hari adalah sebuah tekanan untuknya. Dan khusus ayahnya, Bob (Roger Bart), yaa... ia memang ayah yang baik, namun tak bisa mengontrol keluarganya sebagaimana mestinya ia berperan. 

Tapi tetaplah, kesalahan terbesar Phyliis dan Bob adalah: "tak pernah membawa Pauline ke seorang psikiater asli". Karena hingga di ending ceritanya, sesuatu yang buruk, besar, dan adalah suatu bagian dari kegilaan tiap mimpi-mimpinya Pauline pun tak disangka akan terjadi. Kita hanya bisa berharap kalau hal tersebut tidaklah nyata....


Sebelum gua nonton film ini, sebenarnya gua memiliki ekspektasi yang begitu besar untuk ukuran film horror-gore seperti ini. Karena awalnya itu gua melihat review-nya terlebih dahulu di internet, dan kebanyakan dari mereka pun memuji film ini karena tampilan horror berdarahnya itu cukup terdengar mantap. Yaa... memang sayang sekali untuk gua, ternyata untuk berbekal sebuah ekspektasi yang tinggi itu tak terlalu diperkenankan untuk menonton film ini. Karena gua sama sekali tak terpuaskan olehnya. Segala macam tampilan berdarah, yang berisi potongan tubuh manusia, walau agak unik (karena dibuat secara art house), tapi tak bisa memberikan gua rasa-rasa ketika gua sedang menonton film "SAW" atau "HOSTEL" yang memilukan tersebut.

Namun, walau memang tak harus terpuaskan. Tapi isi cerita dari film ini sebenarnya sudah cukup untuk menghibur gua sebab "hal barunya" tersebut. Richard Bates Jr (sutradaranya) pun, seperti sedang ingin memperlihatkan kalau tak ada tokoh yang benar-benar seorang antagonis asli disini. Hal tersebut bisa terlihat sewaktu Pauline yang masih bisa mengobrol dengan teman sekolahnya, tanpa adanya penolakan yang biasanya terlihat lebay yang selalu diiringi dengan pembullyan yang sangat kejam. Oleh karena itu, tokoh Pauline disini, yang memang aneh dengan gayanya yang tak suka mencuci muka dan rambutnya tersebut, bisa terlihat kalau ia masih ada sebuah kewarasan. Yang dimana ia masih bisa mengerti sedikit tentang orang lain, khususnya untuk adiknya yang sedang menderita tersebut. 

Intinya adalah, film ini akan menampilkan segala macam yang berdarah-darah di tiap mimpi Pauline berlangsung. Namun itu cuma sebentar, dan tak cukup untuk memberikan pada gua sebuah tontonan "mengerikan" yang mantap. Yang dimana pada akhirnya-gua merasa cukup tertipu dengan poster film ini yang dimana Pauline didandan menyerupai sesosok tokoh yang pada masanya itu ia sudah memimpin dengan penuh darah para gadis muda di tangannya, yaitu: Elisabeth Bathory. Namun, gua tak akan bohong juga kalau film ini sudah cukup menghibur gua. Apalagi untuk akting dari Annalynne sendiri yang keren tersebut. Yang hingga pada akhir filmnya, ia sudah berhasil mengambil perhatian para penonton untuk tak bergeming sedikitpun menyaksikan apa yang telah dilakukannya dengan segala benda tajam bercetakan darah yang ada di tangannya itu.


Thanks
Gbu

N.B: Btw disini tak disangka kalau salah satu pemeran dari Film Hostel 2 (Roger Bart) dan Film Halloween (Malcolm McDowell) juga turut memeriahkan film ini. Walau sebenarnya peran mereka ini ya hanya gitu-gitu aja sih hehe....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath