Cerpen: "Marta: The Truth!"

"Marta, elu tenang aja. Walau lu suatu hari nanti misalnya sampai kena sakit aids, gua bakal terus suport lu kok. Walau juga banyak orang nanti yang bakal benci sama lu, gua tetep bakal berusaha buat lu jadi ngerasa bahagia. Ini janji gua!"

"Halah. Bullshit banget lu Jen. Terlalu mendramatisir dah hahaha...."

"Itu beneran lohhh.... Yang penting mah, sekarang lu kasih tau gua donk. lu lagi ada masalah apa sih??"

"Sory Jen. Gua masih ga pengen orang lain tau soal ini. Kalo gua udah siap aja ya baru gua kasih tau."

"Yehh... sumpah deh. Gua penasaran habis! Kasih tau donkk... nanti gua traktir makan ayam betutu kesukaan elu dehh..."

"Hmmm..." Aku berpikir sejenak. "Yaaa.... sory ya sekali lagi Jen. Sekali nda tetep nda..."

"Ah lu mah ga asik."

"Hahaha.... tenang aja. Lu pasti bakal tau kok. Hmm... ya udah deh ya. Gua tutup dulu telponnya. Gua harus pergi nih."

"Dasar lu. Yodah. Gua mau tau secepetnya ya!"

"Sip dehh...."

Tut tut tut tut.....

Setelah aku mengakhiri pembicaraan antara aku dengan Jena, sahabatku. Sekarang lebih baik aku segera bersiap-siap. Aku harus memastikan ini sekali lagi!

"Martaaaaa..... Mami buatin kamu ayam betutu kesukaan kamu nih. Buruan ke bawah!" Panggil ibuku dengan keras dari ruang makan. Ini memanglah jam makan siang keluarga kami, yaitu jam 12 pas. Dengan sangat menyesal, aku harus kembali menaruh makan siangku tersebut di kotak makan. Gak apa-apa deh jika nanti jadi dingin.

"Kamu mau kemana? Gak makan siang bareng Papi sama Mami lagi?" Tanya Mami-ku saat aku sudah sampai di ruang makan.

"Gak bisa Mi. Soalnya Marta ada janji yang penting banget. Kalo sampe batal janji, Marta bakal kena sesuatu dehh...."

"Sesuatu seperti apa emangnya Mar?"

"Yaa... ini rahasia Marta deh. Hehehe...." Jawabku sambil berusaha untuk menutupi hal ini.

"Waduh kamu ini. Masih SMA aja udah pake rahasia-rahasia-an segala ya sama Mami Papi." Lanjut Papi-ku yang sambil fokus membaca koran dan minum kopi.

"Iya nih kamu. Ada apa sih Mar? Kan dari kecil semua unek-unek kamu selalu kamu kasih tau ke Mami."

"Iya Mi Pi.... Tapi ini Marta rahasiain dulu deh ya. Nanti janji deh Marta bakal kasih tau. Oke?"

"Yasudah sana. Nanti malah telat beneran kamu. Nih Papi kasih ongkos."

"Gak usah Pi. Uang jajan Marta masih buat bulan ini masih banyak kok."

"Beneran nih ga mau?" Tanya Papi-ku yang sekarang melihatku dengan mata seriusnya seperti biasa.

"Iya Pi benerrr...." Jawabku yang sekarang terlihat sangat buru-buru.

"Yasudah. Lagian Papi juga kasih ongkosnya lewat transfer kok. Nanti kamu cek ATM ya, udah keterima apa belum...."

Ibuku yang sedang menyendok nasi terlihat tersenyum mendengar kata Papi-ku ini.

"Ya ampun Papii...."

"Udah-udah. Kamu pergi gih sekarang. Ati-ati ya...."

"Oke Pi." Aku pun langsung berjalan menuju pintu keluar.

"Jangan ke tempat yang ga bener ya Martaaa....!"

"Iya Miiii....."


***

Siang hari yang begitu panas, disaat aku sedang menaiki motor skuter matic-ku ini. Rasanya itu benar-benar seakan aku sedang dipanggang oleh sesuatu. Yang pastinya rambut panjang-ku ini akan menjadi lepek setelah aku buka helm nanti.

Hhhh.... hingga akhirnya setengah jam kemudian. Sampailah aku di tempat tujuan. Yaitu: sebuah rumah sakit yang memang selalu menjadi langganan keluargaku sejak kecil Yang dimana setiap tiga bulan sekali, keluarga kami selalu check-up disini dengan seorang dokter ganteng bernama Robert. Yup, ia ini memanglah dokter kesukaanku. Aku selalu saja menggebu-gebu setiap orang tuaku menyuruhku untuk segera check-up dengannya.

Namun kini bukanlah ia yang akan kutemui. Melainkan dokter lain, yang bernama Dian. Seorang wanita yang sudah berumur 40 tahunan, dan ia ini dikhususkan untuk bekerja di bidang ibu-ibu hamil.

Ya Tuhan.... apakah aku ini benar-benar hamil??


***

"Dokter! Saya mohon dengan sangat ya Dokterrr....!! Jangan sampai ini ketahuan sama orang tua saya. Dan orang-orang yang saya kenal!!" Pintaku dengan penuh harap dihadapan Dokter Dian yang sedang menatapku prihatin.

"Marta. Lama kelamaan pasti rahasia kamu ini akan terbongkar. Lebih cepat lebih baik Marta..."

"Jangan Dok! Tolonggg..... Saya butuh waktu!"

"Baiklah kalau memang kamu inginnya seperti itu. Yang penting, sekarang kamu harus lebih hati-hati ya. Karena sudah ada kehidupan di dalam perut kamu...."

Tiba-tiba aku menangis. "Makasih Dok.... Aku gak ingin mereka tahu. Atau mereka akan kecewa habis sama saya nanti...."

"Mereka pasti bakal tetep terima kamu apa adanya kok. Kamu jangan ngomong begitu lagi ya...."

"Dokter gak hidup di keluarga saya... Saya tau jelas siapa orang-orang terdekat saya. Mereka hanya sekumpulan manusia yang suka pakai topeng. Saya sudah tahu itu sejak saya kecil Dok...."

"Oke-oke. Saya mengerti.... Yang pasti, kamu tahu kan siapa ayah dari anakmu ini?"

"Iya Dok. Saya tahu...." Jawabku sambil mengusapkan selampe ke pipi dan mataku yang sudah basah sekali.

"Lebih baik kamu cepat meminta pertanggung-jawabannya. Karena ini benar-benar adalah masalah yang sangat serius."

"Iya Dok... Hari ini saya akan menemuinya."


***

Setelah aku cuci muka di kamar mandi rumah sakit sehabis keluar dari ruangan praktek-nya Dokter Dian. Sekarang aku sudah siap untuk menuju ke parkiran motor. Tetapi sayangnya, sesuatu malah menghentikanku. Dan itu sudah pasti adalah karena tiba-tiba saja Dokter Robert berpapasan denganku.

"Hey, kamu sedang apa disini Marta?" Tanyanya sambil menebar senyumnya yang indah tersebut. Membuat hatiku terpana.

"Ah, cuma lagi nyari obat aja kok Dok." Jawabku yang agak salah tingkah.

"Memangnya kamu lagi sakit apa nih? Sepertinya bulan kemarin waktu kamu check-up, kamu seperti gak ada satu virus yang nempelin kamu deh."

"Ya kita mana tau Dok, kalo tiba-tiba Tuhan kasih kita virus yang gak terduga."

"Contohnya?"

"Ya virus anak muda Dok. Virus cintaa hehehe...."

"Waduh kamu ini udah main cinta-cinta-an aja ya. Belajar dong...."

"Iya Dok. Ini saya habis ini mau ke perpus sekolah kok. Mau ngerjain tugas."

"Nah gitu dongg.... Gadis manis kayak kamu harus pintar juga ya."

"Sip Dok. Oke deh... Aku pergi dulu yaa...."

"Sipp.... Kamu ati-ati ya...."

Hahaha.... Entah, aku ini seperti keserupan atau apa. Padahal baru saja aku merasa sangat sedih. Tapi sekarang hati-ku malah berbunga-bunga sebab kehadirannya tersebut. Memang deh, pangeran berkuda putih seperti dia itu selalu mampu membuatku menjadi mabuk!

Hhhhhh.... Kuharap Dokter Robert adalah ayah dari anakku ini......


***

Malam harinya, dengan suasana yang sebenarnya sudah sangat kacau. Aku pun berusaha untuk tenang. Hingga akhirnya kuingat Tuhan. Hingga sebuah doa pun aku panjatkan....

Ya Tuhan, jika ini memanglah rencana-Mu. Aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku akan membesarkan perutku ini, sampai ia lahir.

Untuk sekarang Tuhan, aku harap Engkau selalu menjagaku. Jangan biarkan aku jatuh dari motor besok dan seterusnya. Jangan sampai bayi ini keguguran. Aku sudah terlanjur sayang dengannya....

Ya walaupun aku masih belum memberitahukan ayah aslinya. Tapi mungkin aku sekarang akan menjadi orang yang baik hati untuknya. Akan aku berikan waktu selama sebulan untuk dirinya bisa hidup bebas seperti anak muda lainnya, yang tak ada pikiran yang sampai seberat ini. Semoga Engkau, Tuhan, terus memberkatinya. Biarkan ia punya sebuah pekerjaan yang gajinya benar-benar besar untuk kehidupan keluarga kami ke depan-nya nanti.

Oh Tuhan, kuserahkan semuanya dalam tangan-Mu. Amin!

Lalu, aku pun tertidur di ranjang hangatku, di malam yang sedang dihujani banyak sekali tetesan air yang seperti menyerupai kemarahan alam di luar sana. Ah biarlah. Anakku ini lebih penting!


***

Next day, hari dimana aku akan kembali lagi bersekolah di Hari Senin. Dimana aku akan bilang ke guruku kalau aku sedang tak enak badan sehingga aku tak bisa mengikuti upacara bendera yang melelahkan tersebut. Untunglah, kali ini memang aku tak berbohong. Ini serius, berasal dari apa yang ada di dalam perutku.

"Ah saya tidak mau mendengar alasan kamu lagi Marta! Cepat sana baris!" Bentak Ibu Biologiku, Bu Juno.

"Tapi Bu.... Ini seriuss!! Saya benar-benar tak bisa kecapaian sekarangg...."

"Memangnya Ibu tak tahu apa kalau dari dulu itu kamu suka boong. Walau kamu ini memang pintar di kelas, tapi ini adalah salah satu sifat yang harus kamu ubah mulai dari sekarang. Itu lah gunanya sekolah."

"Baik. Kalau Ibu tak percaya. Nanti tanggung resikonya sendiri ya."

"Kamu mengancam?!" Katanya sambil sekilas melototiku. Ia ini memanglah guru yang paling garang diantara yang lainnya. Gajah pun mungkin akan ditebasnya jika berani untuk menginjaknya.

"Tidak Bu..." Jawabku yang lalu menunduk dan terdiam di tempat.

Setelah itu ia akhirnya pergi. Dan sekarang aku hanya menunggu saja sampai bibirku menjadi pucat karena kelelahan ini. Biarlah nanti ia dipecat karena sudah membuatku harus menjadi seperti ini. 

"Martaaaa...... ayo sekarang kamu tepati janji kamu yaaa...." Tiba-tiba Jena datang menghampiriku dengan tatapannya yang seakan sedang kelaparan akan rahasiaku.

"Kan gua bilang kalau gua udah siap. Elu gak denger ya kemarin..." Kataku yang tak menatapnya.

"Ayolah Marrr..... Aku benar-benar kepingin tau nihhh.... Kita kan soulmate dari kelas satu sampai akhirnya kita masuk IPA nih sekarangg...."

"Ih lebay lu! Pokoknya kalau gua bilang nanti ya nanti yaaa...."

Ini nih malasnya aku dengan Jena. Memang sih kemarin itu aku yang lagi pusing tujuh keliling soal kehamilanku, tiba-tiba aja malah nelpon dia karena aku seperti butuh untuk didengarkan. Tapi sewaktu setiap aku dengar suaranya. Sudah deh...... aku gak mau kasih tau apa-apa.

"Ah payah nih Marta...." Katanya sambil terlihat murung sebab nada bicaraku tadi sedikit keras mungkin. Biar deh... biar dia diam!

...

Sepuluh menit kemudian, akhirnya sampailah tubuhku di titik dimana akan mengancam kedudukan Ibu Juno. Semoga saja Tuhan selalu memberkatinya....

Gedubrak!!!


***

Seperti sebuah pita film yang rusak sewaktu aku terbangun dari tidur, atau pingsan yang sepertinya cukup lama ini. Soalnya aku sama sekali tak mengingat kenapa aku bisa berada di ruang UKS sekolah ini sejak pertama kalinya aku membuka mata.

Namun, secara jelas aku bisa mendengar pembicaraan kedua orang yang sedang berada di luar tirai tempat tidurku ini. Dan sepertinya, salah satu orang tersebut adalah kepala sekolahku, Bapak Prajoko.

Mereka berdua ini benar-benar sedang membicarakan suatu hal yang sangat mengejutkanku?!

"Darimana anak-anak tahu kalau ia hamil, Ibu Juno?!" Tanya Pak Prajoko.

"Kata salah satu dari mereka sih Pak, tadi ada yang mengirimkan sebuah broadcast ke BB mereka semua. Isinya ya soal kehamilan Marta Pak."

Mampus!! Siapa orang berengsek yang sudah sembarangan itu?!!! Pikirku yang sudah seperti ribuan pikiran negatif sedang menusuk-tusuk otakku. Aku sungguh ketakutan....

"Ini gawat Bu. Menurut peraturan dari Dinas, Marta harus dikeluarkan dari sekolah ini. Ia tak bisa lagi belajar disini."

"Lah gimana Pak?! Marta sebentar lagi harus mengikuti lomba cerdas cermat antar dalam tingkat nasional. Ia satu-satunya harapan kita!"

"Saya juga inginnya ia tetap di sekolah. Tapi masalah ini makin dipersulit karena sudah ada yang menyebarkan hal ini sampai ke banyak orang. Mau tak mau, sebentar lagi pasti Dinas juga akan mengetahuinya."

"Ya ampun Pak.... Apa yang sudah dilakukan oleh anak ini....."

Pikiranku sekarang seakan seperti melayang setelah mendengar pembicaraan mereka ini. Aku sudah tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang selain melihat kipas angin di atas sana sedang berputar-putar....


***

Sekitar pukul tiga, waktu jam pulang sekolah, aku pun juga diperbolehkan untuk keluar dari ruang UKS oleh salah seorang perawat. Dan di BB-ku pun, aku barusan mendapatkan BBM kalau kedua orang tuaku sedang menungguku di luar sekolah. Dari kata-katanya, seperti mereka tak marah padaku. Namun kita lihat saja nanti....

...

Saat aku sudah keluar dari ruang UKS dan berjalan di lorong yang kini isinya adalah banyak anak-anak yang sedang lalu lalang berjalan, sesuatu yang tak kuinginkan pun terjadi juga. Yaitu: kalau banyak dari mereka yang menatapku aneh. Bahkan teman-teman sekelasku juga sama sekali tak ada yang menanyai kabarku sedikitpun. Mereka seakan jijik melihatku yang sudah dari tadi terlihat malu-malu di depan mereka.

"Jen...." Panggilku. Yang dimana Jena sedang mengambil sesuatu di dalam lokernya itu.

Namun ia tak membalas panggilanku. Ia hanya menatapku sesaat dengan muka seakan ingin marah itu, yang lalu ia segera menutup lokernya dan berjalan pergi menjauh dariku.

"Marta...." Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang sepertinya dari kelas IPS, memanggilku.

"Hey," Jawabku tersenyum.

"Katanya Kevin, servis elu enak yah?" Bisiknya, yang sangat membuatku menjadi terkejut!

"Anjing! Pergi dari muka gua lu sial!" Bentakku padanya. Membuat orang-orang yang ada di dalam lorong tersebut menjadi makin memperhatikanku.

"Idihh... kok marah siihhh... Ayo lah! Satu malam aja yuk!"

"Eh bangsat! Kalo elu berani ngomong begitu lagi, jangan harap elu bisa punya kelamin lagi ya!!"

"Widihhh.... si jablay ini berani banget ya ngomongnyaa!!" Seru Tania, yang adalah teman sekelasku. Dan memanglah ia ini sejak dulu sangat membenciku. Benar-benar sebuah momen yang pas!

"Elu jangan ikut-ikutan ya!"

"Lu gak tau malu ya blay! Udah gak ada muka ya?! Semua orang disini udah pada tau kali kalau elu udah tidur sama banyak cowok! Dasar cewek najiz!!"

Glek! Setelah mendengarkan kata itu, dengan reflek-kakiku langsung berjalan ke arahnya dan tanganku pun dengan cepat menampar pipinya sampai ia terjatuh.

"Jaga mulut lu ya cewe ga laku!!"

"Hahahaha...." Tawanya yang sudah terjatuh dan sambil memegang pipinya berjerawatnya itu. "Gak apa-apa deh kalau gua gak laku. Dari pada elu. Udah laku, tapi malah murahan habis!!!"

"Bangke!!" 

Sambil melotot kutendang-tendang perutnya. Sampai akhirnya orang-orang yang ada di dalam lorong memisahkan aku dengannya. Tapi sayangnya, aku malah didorong hingga jatuh oleh salah seorang dari pelerai sial tersebut.

"Menjijikkan! Pergi aja lah lu dari sekolah ini!!" Kata teman dari Tania. Yang lalu diikuti oleh beberapa dari mereka yang kini mulai ikut mengata-kataiku.

Aku pun segera berdiri dan lari keluar sekolah dengan amarah yang untungnya masih bisa kutahan. Kalau tidak, bisa saja mereka semua aku lukai dengan alat-alat sekitar!

...

"Mi Pii.... Maafin Marta yaa...." Kataku saat aku sudah sampai di dalam mobil. Yang kini malah aku tiba-tiba mengeluarkan air mata, karena sudah tak tahan jika di depan orang tua-ku.

"Sudah kamu jangan menangis lagi. Gak guna air mata kamu itu." Akhirnya aku mendengar kata-kata ini dari mulut Mami-ku yang biasanya baik padaku.

"Marta, sekarang kamu kasih tau Papi dimana rumah ayah dari anak yang ada di perutmu itu." Kata Papi-ku yang nada bicaranya memang seperti sedang menahan amarah.

"Tapi Pii.... Kalau bisa jangan hari ini...."

"KAMU KASIH TAU ATAU PAPI PUKUL KAMU YA NANTI!!" Bentak Papi-ku dengan kerasnya. 

"Baik Pi...."

Ini adalah pertama kalinya aku merinding dibuatnya....

Setelah itu mobil pun berjalan.... Dan aku hanya berharap kalau semua ini dapat cepat berakhir. Semua kegilaan yang berasal dari dalam diriku ini dapat bisa aku akhiri. Karena ini benar-benar sudah kelewatan batas! Dan orang yang sudah bocor tersebut, pasti akan kubunuh dia nanti!!

Bersambung....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath