Lautan Noktah

Malam-malam berlalu terbungkus lautan noktah nan pekat. Kuingin berada disampingnya, yang sudah tak mampu lagi memberikan sinar pagi hari yang menyejukkan itu.

Walau tiada lagi harapan, entah, ku masih menginginkan dirinya. Dirinya yang tiada terduga itu. Yang mampu menghancurkan segala gundah, bahkan kesenanganku tiap harinya.

Mungkin memanglah aku tak pernah cocok. Aku tak pernah disukainya. Dan aku pun tak pernah dipikirkannya sedikitpun di setiap waktu kehidupannya.... Yang ada hanyalah, aku terbungkus dalam luka kebodohan yang setiap hari menjalar hingga ke denyut nadiku ini.

Seandainya... andaikan ia tahu.... Aku sanggup menahan lapar, sanggup tak terbangun hingga di siang hari yang panas. Hal tersebut hanya untuk memikir dan bermimpi tentangnya. Yang mampu memberikanku selintas kenangan yang ada dan tak pernah ada. Yang pastinya adalah indah dan menyedihkan....

Memanglah aku bodoh. Tak pernah bisa tahu isi hatimu yang terasa terus menyatakan,"gua gak suka elu!" Tapi mau bagaimana lagi. Aku memang yang memilih hal ini. Dan aku memanglah tahu konsekuensinya yang sudah terjadi sekarang.

Hahahahahaha.....

Pergi, pergi, dan pergi. Baiklah, pergi jauh pasti dapat menutup luka....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath