Faktor-Faktor Atraksi Interpersonal Terhadap Kehidupan Pria Kemayu

Mulai dari sekarang gua akan membagikan tugas-tugas kuliah gua yang bisa terbilang cukup merepotkan ini, dan itu tentu saja untuk bisa menghargai hasil kerja dari tangan (yup, benar-benar dari tangan) gua sendiri... :p


***

Fenomena, atau realita sosial yang akan saya bahas dalam paper kali ini adalah, tentang kehadiran orang-orang yang sering masyarakat panggil dengan sebutan “banci” atau “pria kemayu”, yang dimana mungkin sudah banyak sekali orang yang sering melihat mereka, baik dalam keadaan mereka waktu sedang bekerja, atau hanya sedang ngumpul bersama dengan teman-teman mereka yang sesama.

Di dalam kehidupan saya, para pria kemayu ini sering saya temui sewaktu saya berada di bangku SMA. Soalnya di jalanan luar sekolah saya, yang biasa disebut dengan Jl. Tegal Alur, mereka bisa terbilang sering berkunjung, untuk ngamen di beberapa tempat makan. Dengan memasang dandanan muka yang cukup menor dan memakai pakaian wanita yang seksi, mereka mendatangi para pengunjung di tempat makan tersebut satu per satu, baik itu untuk menggoda mereka, khususnya untuk yang tak mau memberikan uang bayaran setelah mereka selesai ngamen.

Sebenarnya, secara fakta yang sudah terjadi sejak dulu, nyatanya ada banyak sekali orang yang tak nyaman dengan kehadiran para pria kemayu ini. Seperti salah seorang teman saya, bernama (rahasia), ia adalah salah satu pria yang paling tak ingin bertemu dengan banci. Hal ini disebabkan karena ia merasa sangat “jijik” dengan mereka. Dan memang bisa dilihat ketika ia sedang dikerjai oleh teman-temannya sewaktu ia sedang ulang tahun. Pada waktu itu ia diikat badannya dan ditutupi matanya dengan kain, dan langsung saja ternyata ada banci yang sudah disewa oleh teman-temannya untuk langsung mendatanginya dan merayunya. Dengan sangat jijik, teman saya ini mengatakan kalau ia sampai meronta-ronta dan minta ampun ke teman-temannya tersebut. Sungguh malang nasib para banci ini, yang dimana masih ada banyak sekali orang yang melabel mereka sebagai manusia yang “menjijikkan”.

Namun, mengapa mereka (para banci) ini masih terus bisa bertahan melakukan aktivitas mereka disaat ada banyak orang yang sangat menolak kehadiran mereka? Sebenarnya hal ini memang bisa dijelaskan. Jadi, walaupun sudah ada banyak orang yang menolak mereka, komunitas seperti ini pun bisa dikatakan memiliki dasar-dasar yang kuat untuk pada akhirnya bisa bertahan hidup.

Dan secara atraksi interpersonal, saya akan menjelaskan fenomena sosial ini semampu yang saya bisa.

Menurut Drs. Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya “Psikologi Komunikasi”, ia menjelaskan kalau Atraksi Interpersonal itu adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Yang berarti, seseorang itu memang bisa tertarik atau suka dengan orang lain karena faktor-faktor tertentu. Dan disini, saya akan lebih menjelaskan ketiga faktornya untuk realita sosial yang sudah saya sebutkan di atas.

Dan kembali menurut Drs. Jalaluddin Rakhmat, ketiga faktor personal yang dapat mempengaruhi Atraksi Interpersonal itu, yang pertama adalah “Kesamaan Karakteristik Personal”.

Disini, dapat dijelaskan kalau orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, agama, ideologis, mereka cenderung saling menyukai. Nah, untuk para pria kemayu itu, dengan bertemunya mereka dengan orang-orang yang 'sama' dengan mereka, dapat seolah membuat mereka merasa “tidak sendirian” berada di dunia ini, karena dari kelakuan serta cara berpakaian mereka itu sama. Membuat mereka pada akhirnya bisa berteman dan melakukan salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu “keterbukaan” (keterbukaan ini terbukti dapat membuat setiap manusia menjadi merasa lega akan kondisi hidup yang sedang mereka rasakan).

Kedua adalah “Tekanan Emosional”. Dalam hal ini, dapat diartikan sebagai, seseorang akan menginginkan kehadiran orang lain jika mereka sedang menghadapi yang namanya tekanan emosional. Orang-orang yang pernah mengalami penderitaan yang sama akan membentuk kelompok yang bersolidaritas tinggi (menurut Drs. Jalaluddin Rakhmat). Jadi, untuk para pria kemayu, mereka akan memiliki solidaritas yang tinggi setelah mereka sudah bertemu dengan teman-teman mereka yang sama-sama mendapatkan tekanan emosional. Membuat diri mereka merasa masih bisa terus bertahan hidup dengan berprofesi menjadi “banci” karena solidaritas tersebut.

Ketiga, “Isolasi Sosial”, yang berarti, setiap manusia itu memiliki pengalaman yang tidak enak, yang dimana mereka ter-asing dalam beberapa waktu lamanya di lingkungan sosial mereka masing-masing. Dan disini, para peneliti telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial amat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain.

Dalam realita sosial para pria kemayu ini, bisa dikatakan pastinya mereka itu pernah terisolasi secara sosial. Dan sudah tak bisa dipungkiri lagi, jika ada seorang anak laki-laki yang berkelakuan seperti perempuan, kemungkinan besar ia akan terisolasi oleh teman-teman-nya(tak ditemani). Dan hal ini, contoh real-nya adalah di kehidupan saya sendiri, yang dimana pernah pada waktu SD, saya terisolasi, atau sulit berteman karena sifat lemah-lembutnya saya. Nah, pada waktu akhirnya saya pindah sekolah di bangku SMA, bertemu dengan orang-orang yang berbeda, saya merasa senang, karena saya merasa telah terbebas dari isolasi. Soalnya pada waktu itu terdapat komunitas dari kalangan agama yang mau menerima saya apa adanya, membuat saya pada akhirnya menjadi lebih bahagia.

Baik, kembali lagi ke realita sosial yang memang saya harus bahas. Jadi, sama seperti saya, setelah mungkin mereka terisolasi sejak dulu, dan pada waktu akhirnya mereka bertemu dengan sesama mereka sekarang, mereka akan merasa lebih bahagia dengan diri mereka sendiri. Soalnya mereka pun menemui seseorang yang sama, yang sanggup menerima mereka apa adanya.



***

Berikut adalah 7 tradisi dalam teori komunikasi. Dan saya akan menyambungkan salah satunya terhadap fenomena sosial yang saya bahas ini.

Craig menuliskan bahwa seluruh teori komunikasi yang ada benar-benar praktis karena setiap teori adalah respon terhadap beberapa aspek komunikasi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Setiap teori berusaha mempraktekkan bentuk-bentuk komunikasiyang ada. Jadi, dialog di dalam bidang itu, dapat difokuskan pada apa dan bagaimanateori-teori yang bervariasi itu menunjuk kepada dunia sosial dimana manusia hidup.Craig mendeskripsikan 7 hal pokok yang kemudian dianggap sebagai tujuh tradisi dalam teori komunikasi, yaitu : 1.) Retorika, 2.) Semiotis, 3.) fenomenologi, 4.) sibernetis, 5.)Psikologi sosialis, 6.) Sosiokultur, dan 7.) Kritis.


Tradisi Retorika

Dalam tadisi ini teori memandang komunikasi sebagai sebuah seni praktis. Para komunikator sebagaimana pembicara, produser media, dan juga sebagai penulismerasakan permasalahan dan tantangan yang membutuhkan kesepakatan untuk berhati-hati dalam membuat pesan. Lalu, sang komunikator membuat sebuah strategi yang seringmenggunakan pendekatan-pendekatan umum untuk merangsang audiens. Daya tarik logisdan emosional menjadi ciri khusus teori-teori retorika. Tradisi ini memandang bahwa aktivitas seorang komunikator diatur oleh seni dan metode. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa kita itu sangat kuat dan berkuasa. Karena itulah, informasi memang penting dalam pembuatan keputusan sehingga komunikasi dapat dievaluasi dan diperbaiki.


Tradisi Semiotika

Tradisi ini memfokuskan pada tanda-tanda dan simbol-simbol. Komunikasi dipandangsebagai sebuah jembatan utama kata-kata yang bersifat pribadi. Tanda-tanda atau simbol-simbol yang ada mendatangkan sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin dibagi. Tradisi ini memang cocok untuk memecahakan masalah,.kesalahpahaman, dan respon-responsubyektif. Tradfisi ini juga banyak memperdebatkan hal-hal dalam bahasa yangmeliputitanda, simbol, makna, referensi, kode, dan pemahaman.Keunggulan semiotika terletak pada ide-ide tentang kebutuhan akan bahasa umum danidentifikasinya tentang subyektifitas sebagai penghalang untuk memahami. Selain itu, juga kesepakatan yang multi makna dari simbol-simbol teori semiotika sering berseberangan dengan teori-teori yang menyarankan bahwa kata-kata tersebut memilikimakna benar, tanda-tanda yang menunjukkan obyek yang ada dan akhirnya dikatakan bahwa bahasa itu netral!


Tradisi fenomenologi

Tradisi fenomenologi ini berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk bagianindividu-individu yang ada saling memberikan pengalaman satu sama lainnya.Komunikasi dipandang sebagai saling berbagi pengalaman antar individu melalui dialog.Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini. Dan halini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi permasalahan- permasalahan yang timbul yang mengakibatkan terkikisnya hubungan yang sudah kuat.Dalam tradisi ini anda akan menemui wacana yang meliputi hal-hal sebagai berikut : pengalaman, diri sendiri, dialog, asli, sportifitas, dan keterbukaan. Tradisi ini menjadidaya tarik tersendiri sebagai suatu pendekatan teoritis saat tradisi ini membutuhkankontak manusia, penghormatan, pengenalan perbedaan, dan dasar umum. Tradisi inimenentang wacana yang menyatakan bahwa komunikasi adalah semata-mata keahlianyang memisahkan kata-kata dari hal-hal yang ada atau yang memisahkan nilai-nilai dari fakta-fakta yang ada.


Tradisi Sibernetika

Dalam tradisi ini komunikasi dipandang sebagai pemrosesan informasi dan masalah yang banyak ditujukan padanya kebanyakan berhubungan dengan keramaian, kelebihan beban,dan malfungsi. Tradisi ini menjunjung kosa kata yang digunakan oleh pengirim atau penerima pesan, informasi, umpan balik, pleonasme, dan sistem-sistem. Tradisi ini juganampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran, rasionalitas, dansistem-sistem kompleks. Pada umumnya, tradisi ini menentang argumen yangmengatakan bahwa ada perbedaan antara mesin dengan manusia atau juga yang mendudukkan hubungan sebab akibat yang bersifat linier.


Tradisi Sosiopsikologi

Teori-teori ini berkonsentrasi pada aspekaspek komunikasi yang meliputi ekspresi,interaksi, dan pengaruh. Hal-hal yang menjadi tantangan dan masalah pada tradisi iniadalah bahwa hasil harus dimanipulasi. Wacana dalam tradisi ini menekankan pada perilaku, variabel pengaruh, kepribadian dan tingkah laku, persepsi, kognisi, tindak tanduk, dan interaksi. Tradisi benar-benar tradisi yang kuat terutama pada saatkepribadian menjadi begitu penting, penilaian dibiaskan oleh kepercayaan dan perasaan,dan orang menjadi punya pengaruh atas orang lain. Tradisi ini jelas-jelas keras bertentangan dengan klaim bahwa manusia itu rasional dan tiap-tiap individu itu tahutentang apa yang mereka pikirkan dan bahwa persepsi adalah jalur yang jelas untuk melihat apa yang sesungguhnya. 


Tradisi Sosiokultural

Model ini menjadikan tatanan sosial sebagai pusatnya dan memandang komunikasisebagai perekat masyarakat. Tantangan dan permasalahan yang dituju meliputi konflik, perebutan, dan kesalahan mengartikan. Dalam rangka berargumentasi, para ilmuan dalamtradisi ini akan menggunakan bahasa yang mencirikan unsur-unsur seperti masyarakat,struktur, ritual, peraturan dan budaya. Tradisi ini juga sependapat dengan pemisahaninteraksi manusia dari struktur sosial. 


Tradisi kritis

Kelompok teori-teori dalam tradisi ini cenderung komunikasi sebagai suatu tatanan sosialyang menyangkut kekuasaan dan penindasan. Teori-teori kritis menanggapi permasalahan tentang ideologi, kekuasaan, dan dominasi. Wacana kritis meliputi hal-halsebagai berikut : ideologi, dialektika, penindasan, kebangkitan kesadaran, resistansi, danemansipasi. Tradisi ini mendorong pendekatan kepada teori yang meliputi mengekalkankekuasaan diri sendiri, nilai kebebasan antara kemerdekaan dan persamaan, dan pentingnya diskusi yang telah diberitahukan sebelumnya

Sumber: http://ml.scribd.com/doc/44592067/7-Tradisi-Dalam-Teori-Komunikasi


Disini saya akan memakai tradisi psikologi sosial untuk menjelaskan realita sosial para pria kemayu ini. Karena Psikologi Sosial memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial seperti komunikasi antar personal lain. Jadi, dengan melakukan proses komunikasi antar personal dapat membentuk seseorang pada akhirnya menjadi tahu bagaimana mereka harus membuat suatu pesan, dan tentunya adalah pembentukan akan skema pemikiran yang akan terus mereka pegang masing-masing.

Nah, dalam kalangan pria kemayu, aktivitas komunikasi yang mereka lakukan dengan sesama itu sudah membentuk kepribadian yang kuat di dalam diri mereka masing-masing. Secara konsep diri, mereka sudah menerima diri mereka secara apa adanya, dan mungkin bangga akan siapa diri mereka masing-masing, tak peduli dengan penolakan-penolakan yang sudah dilakukan oleh orang lain terhadap diri mereka.

Jadi, di dalam kehidupan sosial ini akan selalu ada komunitas-komunitas yang tentunya berbeda. Dan komunitas “pria kemayu” adalah salah satu contoh dari komunitas yang berbeda yang ada di seluruh dunia. Namun sayangnya, karena mereka ini adalah kaum minoritas, mau tak mau, mereka akan banyak mengalami penolakan dari kelompok mayoritas. Membuat mereka akan terasa terisolasi, hingga mereka akan bertemu dengan “sesama” mereka yang ternyata memiliki karakteristik dan tekanan emosional yang sama. Menyebabkan mereka pada akhirnya akan merasa nyaman dengan konsep diri mereka masing-masing.

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath