Cerpen: "Tania: Aku ini Setan!"

Sepanjang hidupku, sebenarnya sudah ada banyak sekali kesalahan yang sering kuperbuat. Seperti sewaktu aku kecil, Ibuku sering marah terhadapku karena aku selalu gagal dalam hal mengepel rumah, masak indomie, bahkan cuci baju. Walau lama-kelamaan aku bisa, tetapi tetaplah-sudah banyak orang yang kecewa terhadap diriku ini.

Dan Renata adalah salah satu orang tersebut. Perbuatanku yang sangat bodoh waktu kami berada di bangku Sekolah Dasar adalah hal yang paling membuatku terus kepikiran hingga sekarang.

Mengapa bibir bodohku ini bisa mengeluarkan kata-kata penghancur seperti ituuuu?!

Waktu SD dulu adalah masa-masa tersulitku kalau boleh aku bilang. Kesulitanku untuk bergaul dengan orang banyak, membuatku malah menjadi ingin sama seperti teman-teman perempuanku saat itu. Yaitu, dengan memiliki kebiasaan: 'bergosip'. Entah, dari dulu itu di kalangan mereka, bergosip adalah hal yang paling menyenangkan, yang sanggup membuat mereka menjadi puas ketika sudah mengetahui rahasia orang lain, yang kadang juga bisa direkayasa.

Nah, bodohnya aku, malah bibir ini kasih tau soal kebenaran tentang kehidupan Renata agar aku bisa masuk ke dalam pergaulan mereka. Padahal, sebenarnya Renata itu adalah sahabat pertamaku sejak aku berada di SD dan sekelas dengannya. Hanya dia yang mau menerimaku apa adanya, walaupun aku sangat pendiam dan begitu ceroboh. Dia terus saja mau datang ke rumahku dan main karet serta barbie bersamaku....

Dan pada waktu itu, parahnya, tiba-tiba aku menjadi takut untuk berbicara dengannya. Walau dalam hati rasanya aku ingin terus meminta maaf, tapi mulut ini seakan sudah di-steples oleh sesuatu. Membuatku akhirnya menjadi tambah sangat menyesal ketika kuketahui kalau ia menjadi orang yang tak pernah jujur lagi ke orang lain. Hhhh.... ternyata aku sudah menghancurkan kehidupan seseorang dalam jangka waktu yang lama....

Ya. aku ini setan....

...

9 tahun kemudian....

Masa-masa SMA adalah masa-masa dimana aku berusaha untuk meraih impianku. Dan sebenarnya itu, apa yang kuimpikan adalah sama seperti cita-citanya Renata, yaitu menjadi model atau artis. Soalnya tubuh kami bisa terbilang proposional dengan tinggi 170 cm. Menjadikan kami selalu berimajinasi menjadi artis nantinya. Yup, artis yang cantik dan terkenal. Hahaha....

Oke, nah, sejak SMA, bisa dibilang aku harus terus-terusan minta ijin pada pihak sekolah karena aku musti mengikuti banyak casting dimana-mana. Dan, sama seperti waktu kecil, aku ini masih menjadi orang yang suka melakukan kesalahan. Karena sudah ada kira-kira hampir 50 kali aku gagal casting. Menyebabkan uang tabunganku habis banyak!

Tapi, beruntunglah aku, karena setelah ke sekian kalinya, pada waktu aku sudah merasa sungguh hopeless sekali, tiba-tiba saja ada yang menelponku dan bilang kalau aku keterima untuk bermain menjadi figuran di sebuah sinetron. 

Huuuaaaaaa....!!! Benar-benar sebuah kejutan yang sungguh indah!! beneran deh!!

Hingga lama-kelamaan, ternyata aku menjadi punya banyak koneksi, dan syukur sekali, akhirnya aku menjadi berkali-kali dipanggil oleh banyak sutradara untuk bermain di sinetron mereka masing-masing. Ya, tetap menjadi figuran hehehe....

Dan hal ini berlangsung selama 3 tahun. Soalnya, masa-masa dimana aku dibayar hanya 100 - 200 ribu itu akhirnya berhenti juga. Karena setelah lulus sekolah, yang dimana aku bahkan tak datang ke acara perpisahannya (dulu aku sama sekali tak peduli untuk semua urusan yang ada di sekolah), akhirnya seorang sutradara bernama Tomi Indrawan menelfonku, menginginkan aku untuk menjadi icon utama di sebuah iklan minuman, yang malah itu ternyata adalah kunci utamaku untuk menjadi terkenal!

Ya, sejak saat itu, followers di twitterku terus-terusan bertambah hingga mencapai 800 ribu lebih!! Bahkan facebook-ku pun harus aku buat menjadi dua, karena yang meng-add friend-ku itu sudah melewati batas.

Benar-benar rasanya seperti semua keringatku telah menjadi berlian semuanya. Ternyata semua jerih payahku akhirnya membuat hidupku menjadi bisa menyimpan uang yang banyak sekali di Bank untuk ke depannya nanti.

Bahkan lucunya, sering ada banyak pria yang mengirimiku banyak surat cinta. Baik lewat e-mail (yang entah mereka bisa tahu e-mailku itu dari mana. Padahal sudah kubuat yang baru.), atau secara surat kertas, seperti pada waktu valentine, saat aku keluar rumah itu sudah ada banyak sekali surat yang isinya coklat bertebaran di lantai.

Hahaha... tapi itu sangat tak terlalu kupikirkan karena job terus menantiku atau bahkan memburuku. Seperti sekarang yang dimana aku sedang dikontrak untuk bermain di sebuah sinetron selama 8 bulan.

Bayarannya itu lumayan, sama seperti kondisi tubuhku yang sangat lumayan mampus! Karena jujur deh, seperti ditimpa banyak batu-bata! Soalnya sering aku menginap di lokasi syuting dan tidur hanya dua atau tiga jam. Bahkan, di Hari Minggu pun aku beberapa kali terpaksa ikutan syuting karena dikejar deadline!

Oh God.... semuanya itu memang seimbang....

Dan lebih seimbangnya itu karena walau aku sedang bekerja sampai mampus, pikiranku ini masih terikat kencang dengan rasa bersalahku untuk kasus yang ada di masa lalu. Ya, kasus Renata sering membuatku menjadi berkali-kali mendapatkan mimpi buruk, karena tiada pernah kami ngomong sedikitpun kata untuk dapat membaikkan hubungan kami.

Sungguh menyebalkan untuk hidupku yang kini sudah berubah. Sehingga membuatku pun menjadi memutuskan untuk banyak melakukan aksi permintaan maaf untuk dirinya. Dan karena aku masih pemalu untuk lewat kata-kata, jadinya aksinya tersebut adalah dengan mengundangnya ke pesta ulang tahunku sejak aku berumur 18 hingga sekarang 20 tahun. Aku selalu mengiriminya surat undangan lewat pos dari dulu itu.

...

Dan, hingga waktu ulang tahunku yang ke-20 lah, akhirnya aku punya ide untuk membuat dirinya menjadi sesuai apa yang ia inginkan sejak dulu. Yaitu menjadi artis. Dan menjadi artis itu kan sama halnya menjadi MC. Jadinya aku meminta EO kebangganku untuk membuat skenario kalau MC-nya tiba-tiba aja pingsan, dan membuat aku menjadi akhirnya berani ngomong ke Renata, untuk mengajaknya menggantikan MC tersebut.

Widih! Ternyata berjalan baik di awalnya, dan sangat 'hancur lebur' di akhir....

Jujur, aku tak pernah menyangka kalau Renata sangat menyukai pria yang sejak kami lulus SMA, pria tersebut malah terus mengejar-kejarku, yang pada akhirnya aku juga malah menyukai pria yang bernama Frontier ini.

Dan hal ketika Frontier tiba-tiba menembakku di acara ulang tahunku itu benar-benar telah menghancurkan hati Renata. Hingga ia pun marah besar terhadapku. Membuatku menjadi sedih dan merasa bersalah sekali.

Ya, aku sangat merasa bersalah. Karena memang aku lah penyebab Renata menjadi tak bisa terbuka ke semua orang. Aku sudah membentuk sebuah sifat jelek di dalam kehidupan seseorang....

Aku ini memang setan....

....

04 Juni 2012, malam itu aku akhirnya membuat keputusan yang sangat besar dan bisa menghancurkan diriku ketika Renata sudah pergi dari restoran tempatku mengadakan pesta ulang tahunku.

"Ada apa Tan? Ayo kasih tau ke aku...." Tanya Frontier yang sambil kedua tangannya memegang pundakku, dimana kini aku sedang menangis tersedu-sedu.

"Aku ini setan Front.... Aku sudah berbuat hal yang sangat kejam...."

"Maksud kamu apa? Jangan bilang kayak gitu dong Tan."

"Kamu gak tau soalnya. Walau kamu sudah mengejarku selama 2 tahun, tapi kamu belum tau tentang kelakuanku yang paling buruk."

"Aduh, kamu tau kan kalau aku ini sangat cinta kamu. Aku tak peduli kalau kamu itu pernah bunuh orang, atau nyuri di Bank. Aku tetap sayang kamu siapapun kamu Tan."

"Tapi sepertinya...." Aku diam sejenak, hingga akhirnya ketika aku mengingat perkataan Renata yang menyatakan kalau aku ini pembawa sial, aku pun berani untuk berkata hal yang sama sekali tak ingin kukatakan. "Hmm... sepertinya kamu harus stop mencintai aku Front..."

"Hah?! Kenapa?!" Tiba-tiba Frontier menjadi kaget sekali.

"Aku tak ingin hidup seperti ini. Selalu merasa bersalah ke sahabat terbaikku.... Aku selalu ingin minta maaf ke seseorang yang adalah orang pertama yang menerimaku apa adanya. Dan kini saatnya aku melakukan hal itu."

"Melakukan apa Tan? Aku gak ngerti maksud kamu apa? Siapa sahabat terbaikmu itu??"

"Front.... Renata adalah yang terbaik untuk hidupmu. Ia sangat suka kamu sudah lama sekali. Dan aku tahu hal ini dari semua yang ia katakan ke aku tadi. Dari raut mukanya, ia terlihat sudah benar-benar sangat menginginkanmu. Front... kamu mau coba untuk suka sama dia atau tidak?"

Bodoh! Habis ngomong apa aku?! Pikirku yang benar-benar merasa kalau aku sudah menjadi orang yang sangat mudah melepaskan seseorang yang sangat kucintai. Bahkan menjadi seperti seseorang yang goblok, karena main bilang aja,'kamu mau coba untuk suka sama dia atau tidak?' Bodoohhh....!!!

"Jadi tadi Renata bilang kalau ia suka aku?"

"Iya Front. Tadi dia bilang begitu...."

"Hmm... aku malah menjadi bingung sekarang. Hahaha...."

Kaget aku sewaktu melihat responnya Frontier malah tertawa. Ia pun berhenti memegang pundakku.

"Kenapa memangnya?"

"Jujur, aku sangat senang sewaktu bisa mengejar dan mendapatkanmu. Tapi...." Ia terdiam sejenak dan berpikir.

"Tapi apa Front??"

"Sudah lupakan. Aku tak ingin menyakitimu...."

"Gak. Kalau kamu malah bilang begini, aku bisa menjadi terus gila mencari tahu maksud dari katamu tadi itu apa. Kasih tau ke aku sekarang juga Front...."

"Oke, aku memang tahu sifatmu seperti itu. Tapi gimana ya...."

"Cepet ngomong!"

"Oke-oke.... Baiklah...." Ia kembali diam sejenak, lalu matanya langsung berpusat ke mataku. "Tan.... Sekali lagi aku ingin bilang, kalau aku sangat senang sewaktu bisa mengejar dan mendapatkanmu. Tetapi, sebenarnya... aku terlebih sangat senang ketika cinta pertamaku juga ternyata suka aku.... Maaf Tan...."

Glek. Tiba-tiba saja aku serasa ingin jatuh ke tanah. Tapi kuputuskan untuk bertahan dan menganggap ini sebagai sebuah hal yang baik. Tetap intinya adalah untuk Renata seorang.

"Hahaha... bagus lah kalau begitu Front. Nah, udah, kamu ke rumahnya gih sekarang. Kejar dia yang lagi sakit hati karena kamu barusan tembak aku." Kataku dengan tawa terpaksaku.

"Tan.... Aku sudah menembakmu. Aku sudah menjadi milikmu sekarang. Tak mungkin aku melakukan hal seperti itu. Itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah ada."

"Frontier.... Jangan suka bohongin diri sendiri gitu ya. Aku tak mau kalau nantinya waktu kita masih pacaran, eh kamu malah berubah ke aku karena mikirin terus si Renata. Lebih baik itu dari awal ini."

"Nanti bagaimana dengan nasib kamu Tan? Apa yang bakal kamu bilang ke media yang pastinya bakal tahu akan hal ini? Image kamu akan sangat jelek nanti."

"Udah, kamu tenang saja. Itu masalahku. Sekarang lebih baik kamu pergi. Stop communicate with me!"

Pada waktu aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dan ingin kembali ke dalam restoran, tiba-tiba saja Frontier kembali memegang pundakku dari belakang, lalu memelukku dengan begitu eratnya. Dan ia pun membisikiku.

"Tan, perlu kamu tahu. Aku tetap orang yang akan sayang sama kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa bilang ke aku ya...."

Ya, itu adalah sebuah kata-kata perpisahan darinya yang memang menyatakan kalau ia juga sangat cinta ke Renata, dan siap untuk meninggalkanku nantinya agar dapat bermesraan dengan cinta pertamanya itu.

Oh God! I hate this!!

"Dan perlu kamu ketahui juga Front. Jangan pernah bertemu denganku lagi. Lebih baik kalian berdua pindah ke kota lain agar aku tak pernah sedikitpun memandangi batang hidungmu." Dan ini lah perkataan terakhirku untuk dirinya, yang lalu aku dengan kasar melepaskan pelukannya dan langsung masuk ke dalam restoran.

Dan waktu aku masuk ke dalam restoran, aku mengintip sedikit di pintu untuk melihat apa yang dilakukan Frontier. Dan ternyata, ia segera jalan ke parkiran untuk mengambil mobil miliknya. Membuatku pada akhirnya menjadi terjatuh di belakang pintu dan kembali menangis karena rasa sakit ini....

Selamat tinggal Front.... Hiduplah berbahagia dengan sahabat terbaikku....

....

Sejak kejadian kemarin itu, kini aku kembali ke rutinitas biasaku, yaitu berakting. Dan kurasa, aku sudah cukup profesional karena aku tak menghindari pekerjaanku ini disaat hatiku sebenarnya sedang sangat sakit.

Dan keprofesionalitasanku ini pun juga kubuktikan ketika aku bisa santai menjawab banyak pertanyaan soal putusnya aku dengan Frontier, dari banyak infotainment yang selalu saja memburuku seperti aku ini adalah sumber mata air yang sanggup memberikan kesegaran untuk orang banyak. 

Hahaha... aku hanya menjawab ke mereka,"Frontier itu bukan laki-laki idamanku sebenarnya. Jadinya, daripada lama-kelamaan hubungan kami menjadi sangat renggang, ya sudah deh, lebih baik aku putusin aja. Tapi itu secara baik-baik, karena ia juga sudah dewasa sehingga kami bisa saling sepakat."

Aku tak akan memberitahukan ke mereka tentang kejadian yang sebenarnya, dan sedang berada dimana Frontier sekarang, yang dimana aku sudah dapat kabar kalau ia sudah berada di Bali untuk mendatangi Renata....

Ya... mungkin akan ada banyak orang yang bakal bilang kalau aku sudah melakukan kesalahan yang besar karena telah meninggalkan seorang pria yang sungguh tampan, dan sepertinya memang perfect di mata banyak perempuan yang mencemoohku.

Aku tak peduli. Walaupun aku memang sampai sekarang ini masih sangat menyayangi Frontier, yang pasti-kini aku sudah merasa bebas soal hubunganku dengan Renata. Biarlah sahabat terbaikku itu mendapatkan kebahagiaannya yang sejak dulu ia cari....

Hey! Kini aku bukan setan lagi, tapi sesosok malaikat pemberani yang tentunya, cantik.... Hehehe....

-Tamat-

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath