Cerpen: "Renata: Ulang Tahun"

Banyak teman-temanku yang selalu menanyakan siapa laki-laki yang lagi aku sukai. Dan karena aku masih tetap menjadi seorang anak perempuan yang sulit untuk mempercayai orang lain, jadinya aku hanya bisa tersenyum saja dan merahasiakan hal seperti ini ke mereka. Soalnya aku takut, masa lalu kelamku kembali lagi. Yaitu dimana pernah ada salah seorang temanku yang akhirnya membongkar salah sebuah rahasia terbesarku sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ia, Tania, adalah temanku tersebut. Ia pernah membuat aku menjadi sangat malu di kelas sewaktu tiba-tiba saja ia keceplosan bilang kalau aku pernah tak naik kelas, dan orang tuaku akhirnya menyogok pihak sekolah untuk tetap meluluskanku. Saat itu adalah masa kecil paling gila yang pernah ada, karena aku pun di cap sebagai anak bodoh oleh teman-temanku. Dan di masaku itu, anak bodoh akan sangat sulit untuk berteman dengan yang lainnya. Memang kejam si Tania, ia pun sejak saat itu tak pernah bicara apa-apa lagi kepadaku hingga lulus SMA. Ckck... sampai sekarang aku masih berpikir, apakah nih anak pernah merasa bersalah ya atas apa yang sudah ia lakukan dulu???

Mungkin aku akan mendengarkan jawabannya sebentar lagi. Soalnya pada sore hari ini, sekitar pukul tujuh, Tania akan mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 20. Ia beruntung, semenjak lulus SMA, impiannya untuk menjadi artis pun tercapai. Dan dimulai dari umurnya yang ke 18, ia selalu saja merayakan hari jadinya tersebut di restoran-restoran yang cukup mahal. Ia pun selalu mengundangku. Yang mungkin saja hal tersebut ia gunakan sebagai bentuk permintaan maafnya untuk diriku.

Hhhh... aku masih belum tahu....

....

Dengan gaun berwarna putih cerah plus deburan butir-butir permata di sekujur gaunku ini yang sudah tertata dengan cukup indah, hasil dari apa yang sudah kutabung selama setahun ini, aku pun serasa sudah siap untuk menghadapi Hari Ulang Tahun mantan temanku tersebut.

Senangnya, ternyata Frontier juga dikabarkan akan hadir disana. Membuatku merasa ingin tampil sangat cantik, dan tentu saja membuatku menjadi ingin cepat-cepat sampai di restoran tersebut agar aku bisa bersama dengan dia sepanjang acara dimulai. Oleh karena itu, sepeda motorku yang berbentuk skuter pun aku pakai agar bisa lebih cepat sampainya. Membuatku pada akhirnya memakai jaket tebal dan membawa peralatan untuk mengatur rambutku saat sudah sampai disana nanti. Soalnya sudah pasti lah nanti ketika sampai-rambutku akan terlihat sangat berantakan sekali!

Kemudian, berangkatlah aku menuju ke tempat tujuan sekitar pukul lima sore. Semoga saja dapat sampai jam setengah enam, agar aku bisa merangkai rambutku selama satu setengah jam di toilet restoran tersebut.

....

Dan akhirnya! Dengan segala doa yang terus-terusan kupanjatkan, ternyata Tuhan ingin berkata hal lain terhadapku! Ternyata Ia ingin berkata,"AnakKu, tak apalah jika rambutmu berantakan. Jangan marah ya, jika Aku memberikanmu kemacetan yang luar biasa...."

Huuuuuaaaaaaaaaaa.......!!!!!

Jam tujuh lewat waktu aku sampai di acara yang sudah ramai ini. Dan, harus kuterima sudah segalanya. Saat aku sedang berada di parkiran, tiba-tiba saja teman-teman SMA-ku mendatangiku, lalu tentu saja, mereka menertawakanku sebab penampilan burukku ini.

"Hahaha.... Renata Renata.... Dari dulu, lu selalu tampil beda ya.... Hahaha...." Kata Gina sambil cekikikan melihatku.

"Gara-gara macet nih! Resek dah!!" Jawabku sambil segera menyisir rambutku yang terlihat aut-autan di kaca spion motorku.

"Elu lagian, kenapa enggak naik mobil aja Ren. Percuma lu pake gaun bagus begitu dah." Kata Hardian.

"Iya, aturan mah elu BBM gua tadi, biar lu bisa naik mobil gua. Masih kosong tuh kursi belakang mobil gua soalnya." Lanjut Yovita. Sekarang malah mereka merasa iba melihatku.

"Sory, gua ga kepikiran sampai kesitu." Jawabku yang masih nyisir sambil buang nafas panjang juga.

Dan terdengarlah suara MC yang begitu mengaung sekali dari dalam. Menandakan kalau acara sudah dimulai.

"Waduh, Renata! Yuk buruan masuk!! Sayang banget kalau kita lewatin awal acaranya!!" Seru Hardian yang sudah tak sabar.

Dengan isi otak yang sepertinya sudah terdapat ribuan kata, hasil dari kepenatan sebab penampilanku ini, akhirnya pun, sebuah keputusan besar aku ambil.

"Yodah, yuk deh!" Jawabku diikuti dengan senyuman lebar dan air muka yang pasrah.

Huuuuaaaaaaaaaaaa......!!!!

...

Ya, harus kuakui, ternyata memang, pesta ulang tahun orang berduit itu sangatlah mampu membling-blingkan mataku. Restoran Seafood ini sudah berhasil diubah menjadi sebuah kotak besar yang di dalamnya terdapat banyak sekali hiasan warna-warni, beserta lampu disko, yang sudah pastinya akan seperti tahun lalu, yaitu bakal ada hiburan malam seperti di club waktu acara sudah selesai.

Namun, aku tak terlalu peduli akan hal itu. Aku pun tak peduli akan yang berulang tahun. Aku hanya ingin bertemu dengan Frontier, yang dari tadi aku cari kemana-mana, tapi ternyata tak kutemukan sedikitpun batang hidungnya. Membuatku pada akhirnya duduk saja sambil minum soda.

"Renata!" Tiba-tiba saja salah seorang perempuan yang sepertinya sangat kukenal suaranya memanggilku. Dan pada waktu aku menolehnya, ternyata memang benar, Tania yang sudah berdandan cantik itu sedang berdiri di belakangku.

"Wei Tan! Happy Birthday yaa...." Kataku yang masih duduk dan minum, diikuti dengan sedikit senyuman agar terlihat lebih indah raut mukaku yang sebenarnya ingin menghiraukannya saja.

"Iya, thanks ya.... Waduh, udah lama nih ga ketemu sama lu hehehe...."

"Iya, udah lama ya. Btw, elu kaga di panggung tuh? Kan kayaknya tadi acara udah dimulai deh." Semoga anak ini sadar, kalau aku sedang mengusirnya dari hidupku!

"Nah, begini Ren. Sebenarnya ada masalah. Dan gua lagi merasa kacau banget nih...."

"Masalah apa emang?"

"MC-nya tiba-tiba aja pingsan! Dan EO yang ngurusin acara gua ini ternyata ga ada MC cadangannya. Haduh Renn...... oleh karena itu gua datengin elu sekarang."

"Maksud lu, gua gantiin MC-nya??" Dengan cepat aku mengerti maksud dari kata-kata Tania tersebut. Sejak aku SD, memang aku berkeinginan untuk terjun di dunia entertain sama seperti dia. Dan memang juga, selama ini, aku terus-terusan belajar menjadi MC bahkan model di perkuliahanku yang dimana aku mengambil jurusan Broadcasting. 

"Iya Renn.... Nanti fee-nya MC yang lagi dirawat di belakang panggung itu bakal gua kasih aja ke elu deh."

"Hah? Emangnya berapa fee-nya??"

"Tiga juta Ren.... Mau ya...."

Eh buset!!! Bisa kebeli BB baru dah ni!!! Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung berkata, "Yodah, yuk deh!" Hahahaha...!! Kesempatan yang sangat bagus nihh!! Tetapi dengan cepat, aku tersadar akan sesuatu. "Oh iya Tannnn...... Lu liat deh rambut gua. Gimana nih??"

"Oh kalau soal itu mah tenang aja. Udah ada yang urusan make-up kok. Nah, jadinya bakal di-delay nih acara ultah gua selama setengah jam, itu buat elu didandanin nanti. Oke?"

"Oke dehh... Yuk!" Tanpa basa-basi lagi aku langsung meng-accept permintaannya itu. Hahaha....

Waduh.... Ini adalah bentuk permintaan maaf yang paling bagus deh. Makasih ya Tania.... Aku sudah memaafkanmu.... Pikirku sambil tersenyum lebar sekali. Ini adalah kebahagiaanku yang kedua setelah jika aku berhasil mendapatkan Frontier. Hehehe....

...

Setengah jam kemudian.... Seorang putri cantik dari Kerajaan nan jauh disana pun berdiri di atas altar yang sungguh mewah. Dan dengan memegang sebuah alat bernama "mike", putri ini pun mulai mengaung!

"Malam semuanyaa!!!!"

"Malammm!!!" Serentak semua orang menjawabnya.

"Siapa yang lagi ultah hari ini???!!!!"

"Taniaa!!!"

Bla bla bla.... Sampai sudah di acara tiup lilinnya. Dan seperti biasa, sebuah doa terlebih dahulu dipanjatkan sebelum meniup dua buah lilin yang berbentuk angka 20, yang sedang tertempel di atas kue yang begitu lebar dan lezat.

Hingga pada waktu sudah selesai lilin ditiupkan, semua orang pun bertepuk tangan dengan sangat meriahnya.

Plok plok plok plok....!!!

"Elu berharap apa Tan?" Tanyaku penasaran kepadanya dengan tanpa menggunakan mike, dan tentunya sambil tersenyum.

"Hmm... elu mau tau nih? hehe"

"Iya la. Gua selalu penasaran sama harapan orang di tiap ulang tahun mereka soalnya."

"Oke dehh...." Lalu, kepala Tania pun mulai mendekati kepalaku, hingga akhirnya ia membisiku sesuatu dengan suaranya yang kecil sekali itu.

"Gua ingin Frontier nyatain cintanya ke gua Ren...."

...

Malam yang begitu dingin, lalu ditambah dingin dengan AC yang terus menyala di dalam restoran tertutup ini. Aku pun berkeputusan untuk membuat kepalaku menjadi sangat dingin juga, dengan meminum banyak sekali soda yang kali ini ada hiasan di atasnya, yaitu: berupa ice cream putih yang lezat. Hingga detik ini, sudah ada kira-kira 10 gelas kuhabiskan. 

"Elu demen banget ya Ren sama minumannya?" Tanya Tania yang sedang duduk di sebelahku. Saat ini acaranya adalah makan-makan, dan Tania memutuskan untuk terus berada di sebelahku.

"Oh jelas Tan. I like it very much!!"

"Yah, kalo kayak gini mah-elu gak makan deh ya. Padahal enak-enak loh."

"Gak apa-apa dah. Gua lagi males makan nasi sama ayam sama sayur itu.... Hahaha...."

Kemudian, tiba-tiba saja aku menjadi mengeluarkan banyak pertanyaan ke Tania.

"Btw, elu kok bisa harapannya seperti itu Tan? Memangnya ada sesuatu ya diantara kalian berdua?"

"Hahaha..... ini sih kisah sejak kita lulus SMA Ren. Lumayan panjang sih...."

"Persingkat aja. Gua penasaran nih hahaha...."

"Oke deh. Jadi begini. Sebenarnya itu, sejak kita lulus SMA, Frontier tiba-tiba aja mulai mendekati gua. Ia langsung BBM gua, nanyain banyak hal, kayak kabar, udah makan belum, ya you know lah saat laki-laki lagi deketin cewek tuh gimana."

Dan tiba-tiba saja jantungku serasa menjadi berhenti berdetak . "Terus?!"

"Terus, ya gitu. Si Frontier mulai ngajakin gua makan, nonton film, ya pokoknya nge-date gitu dah. Tapi intinya sih, kami ngerahasiain hal ini dari dunia luar. Ia meminta gua untuk gak bilang ke siapa-siapa kalau ia lagi kejar gua. Yaa... udah lama banget sih sebenarnya ia kejar gua. Udah dua tahun loh Ren! Resek dah sampai sekarang tu anak gak nembak gua!"

"Oh begitu.... Terus-terus??"

"Ya terus, gua lagi keki banget nih! Ia soalnya gak dateng dari tadi!!! Katanya di BBM, ia lagi disuruh temenin Nyokapnya ke Mall. Resek!!"

Hahahaha.... Pikiran buruk pun akhirnya datang. Sebuah naluri dimana kalau bakal ada kejadian buruk yang akan menimpaku sebentar lagi-telah membuat pikiranku menjadi tak tenang sekarang. 

Oh Tuhan.... Jangan bilang kalau Frontier bakal nembak Tania disini!! Harapku dengan penuh sangat.

"Eh, udah jam segini Ren. Sekarang waktunya acara ambil doorprize nih!"

"Oke-oke...."

Pada waktu akhirnya aku bersama Tania sudah kembali di atas panggung. Aku pun segera mengambil buku kecil yang isinya adalah run down acara yang ada. Walau aku sudah diberitahu kalau habis ini akan ada acara doorprize, namun tak ada salahnya jika aku memastikannya lagi.

Dan, saat kubuka di bagian sehabis makan-makan, ternyata acaranya memang berbeda! Dituliskan dengan begitu jelas, kalau habis ini adalah "acara kejutan". Aku pun merasa 'pasrah' dan mulai bergeming, "Oke semuanya. Sekarang kita akan menyaksikan sebuah kejutan! Kejutan yang saya sendiri pun gak tau apaan."

Sejenak, aku terdiam, dan Tania sendiri langsung menoleh ke mukaku dengan ekspresi kebingungan. Ia sendiri sama sekali tak tahu bakal ada kejutan apa yang akan terjadi di hidupnya habis ini. Padahal, aku sendiri sudah sangat mengetahuinya dengan jelas.

Klik! Tiba-tiba saja lampu padam.

...

Tak pernah kusangka kalau malam hari ini adalah puncak dari segala ekspetasiku akan yang namanya "kebahagiaan". Karena, sewaktu lampu sudah padam, dan tiba-tiba saja Frontier diikuti dengan teman-temannya muncul begitu saja di tempat paling ujung restoran yang dimana ada lampu tembak yang menyorot mereka, lalu, dengan suaranya yang merdu-ia menyanyikan lagu cinta sambil diikuti dengan adegan ia berlari ke atas panggung sambil memegang setangkai bunga mawar merah, kemudian menembak Tania dengan romantisnya, itu adalah akhir dari impianku untuk bisa hidup bersamanya. Aku merasa sangat lemas sekali sekarang....
"Selamat ulang tahun Tania. Aku sangat mencintaimu...." Kata Frontier sambil memeluk Tania yang make-up-nya sudah luntur karena tangisan bombay-nya itu. 

"Aku sudah menunggu hal ini lama sekali Fronttt....!!" Kata Tania yang memeluk Frontier dengan begitu kencangnya.

Yaa.... ini adalah akhir hidupku. Menyaksikan pertunjukan ajaib seperti ini dengan sangat dekat sekali benar-benar membuat air mataku menjadi sangat ingin untuk segera keluar, memberikan kelegaan sedikit dari rasa sakit yang sedang kurasakan sekarang. Tapi tak boleh! Aku harus kuat sampai akhir acara nanti!!

"Selamat ya untuk kalian berdua.... Benar-benar sebuah pasangan yang sangat serasi. Saya merasa iri dengan mereka berdua ini." Kataku ke audience, dengan terus memasang topeng yang berupa: 'turut berbahagia....'

...

Jam setengah sepuluh waktu tugasku selesai. Kurasa, aku sudah menunjukkan ke-profesionalitasan-ku malam ini. Hahaha.... Dan apa yang harus kulakukan sekarang. Ya tentu saja segera menuju ke parkiran, dan pulang ke rumah!

"Ren, elu mau pulang??" Tanya Tania yang sekarang sedang sendirian.

"Iya nih. Gua duluan ya Tan...."

"Tunggu-tunggu.... Gua mau kasih tau elu soal fee-nya. Kalau gua transfer bisa?"

"Iya, nanti gua bakal SMS elu nomor rekening gua. Nomor lu masih yang lama kan?"

"Iya Ren." Ia pun terdiam sejenak seperti berpikir ingin ngomong apa ke aku. Yang lalu, sebuah kata-kata yang sangat menancap hatiku pun keluar dari mulutnya itu. "Oh iya, makasih ya atas bantuan lu hari ini. Gua benar-benar senang loh! Apalagi sewaktu Frontier nembak gua! Waduh, seneng banget deh gua Ren sumpah!!"

Tiba-tiba saja aku merasa panas. Otakku seakan sudah ngebul mendengar kata-katanya barusan!

"Tan, elu emang berengsek yah." Tania kaget mendengar kata-kataku ini, terlihat dari raut muka bodohnya itu.

"Ke-kenapa sama elu Ren? Elu masih marah soal dulu...." Katanya dengan memasang muka polos dan sedikit takut.

"Iya! Gua masih marah! Dan sekarang gua benar-benar gak bakal maafin elu Tan! Elu tuh manusia sial yang paling gua benci seumur hidup gua!!! Elu udah ngambil masa-masa SD gua dengan ngebuat semua orang menjadi jauhin gua!! Dan sekarang, elu akhirnya ngambil pria yang dari dulu gua suka! Berengsek!!"

"Rennn... Gua sama sekali gak tau kalau elu suka sama Frontier, sumpah Rennn..... Gua minta maaf buat semuanya...." Katanya yang sekarang terlihat sedikit sedih.

"Seharusnya gua tau, dan seharusnya juga gua belajar dari pengalaman. Ya, gua harusnya pindah sekolah dan gak ketemu sama elu lagi semenjak kejadian dulu itu. Ternyata emang, gua ini sangat bodoh! Masih mau satu sekolah sama manusia pembawa sial kayak elu!!"

Tiba-tiba, Frontier keluar dari restoran juga dan dari raut mukanya, ia seperti merasa aneh dengan apa yang sedang dilakukan aku dengan Tania berdua.

"Ada apa ini? Ada apa Tan? Kok elu nangis?"

Tak tahan aku memandang pertunjukkan bodoh ini. Aku pun segera menuju ke tempat parkiran, lalu dengan sedikit ngebut, kukendarai motorku untuk segera pulang ke rumah.

...

Tak ada yang menyadari dan tak akan ada yang mengerti kalau aku sedang tersakiti sekarang. Di jalanan yang cukup jauh ini, aku hanya bisa menyetir sambil menahan air mata yang ingin keluar dari kedua bola mataku. Sebisa mungkin aku mencoba memikirkan kejadian-kejadian lucu tentang teman-teman kampusku yang sering membuatku tertawa. 

Yup, sebenarnya aku ini mempunyai banyak teman, khususnya teman di kampus. Namun memang, kenyataan pahit harus aku terima saat ini. Sama sekali tak ada yang bakal tahu ketika aku sakit dan sangat membutuhkan kuping untuk mendengarkanku. Salahku juga, masih sulit untuk percaya dengan orang lain. Tapi, kalau aku percaya dengan hal macam 'friendship' bullshit seperti itu, mungkin bakal ada Tania-Tania yang lainnya. Yang akan selalu membuat nafasku serasa sesak, seperti di malam yang begitu dingin ini....

Aku selesai....

...

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath