Cerpen: "Renata: Cinta Buta"

Jangan nangis disini Ren! Gua mohon jangan lakukan hal bodoh ini disini!! Pikirku yang penuh dengan kebimbangan akan hal yang sudah terjadi pada pukul sembilan malam tadi. Dan pada waktu aku yang sekarang sedang menyetir motor dengan sedikit ngebut untuk cepat-cepat sampai di rumah, mataku serasa akan pecah sebab jantung dan pikiranku seperti terus-terusan ditekan oleh batu-bata yang banyak sekali.

....

Hal yang paling menyebalkan saatku sudah sampai di rumah adalah, aku masih harus mempertahankan ekspresi mukaku ini menjadi terus-menerus datar walau yang sebenarnya terjadi adalah sangat berbeda dengan apa yang sedang kurasakan sekarang. Namun, apa daya jika aku ini memanglah salah satu dari segelintir anak perempuan yang berbeda dengan teman-teman perempuanku lainnya. Dimana kebanyakan dari mereka itu sudah pasti selalu saja bisa curhat dengan keluarga, khususnya ibu mereka dengan bebasnya. Berbeda dengan aku, sejak diriku berada di Sekolah Dasar, serasa benar-benar aku harus survive menghadapi hidup ini hanya seorang diri (dalam hal masalah pergaulan, pendidikan, dan tentunya percintaan).

Tapi aku sekarang sudah berumur 20 tahun, jadi jangan pernah menganggap kalau aku sangat membutuhkan atau iri sekali seperti orang bodoh ke semua teman-teman perempuanku soal hal yang tak bisa aku dapatkan itu ya. Karena pola pikirku sudah berubah banyak, yang intinya adalah aku sangat menerima semua keadaanku ini.

Oke, kembali ke saat aku sedang memasuki rumahku....

Seperti biasa, aku parkir motor tercintaku ini di bagasi, dan seperti biasa juga, ibuku tiba-tiba ngoceh banyak hal.

"Pintunya langsung dikunci! Kebiasaan lu suka lupa kunci pintu!" Seru ibuku yang sedang duduk nonton tv di dalam rumah.

"Iyaaa...." Dan ini lah jawabanku yang biasanya.

Namun itu hanyalah permulaan dari segala hal yang bakal terus dibahas oleh Ibuku. Dan daripada aku terus-terusan meresponi, aku pun cepat-cepat masuk ke dalam kamar pribadiku, dan menghiraukan segala ocehan-ocehan yang ada. 

Kemudian, di dalam ruangan yang sudah didinginkan dengan AC ini, aku segera merebahkan tubuhku dan menutup semua badanku dengan selimut. Memberikan sebuah nuansa kesendirian yang sejak tadi aku idam-idamkan.

...

Aku suka berada disini. Kegelapan yang membawaku terjun langsung ke harapan paling dalam di hidupku. Dan pada waktu seakan sudah tak ada gangguan dari luar lagi, aku pun teringat akan Frontier. Yang dimana baru saja membuat jantungku serasa berhenti berdegup, hingga detik ini, dimana untuk nafas saja sangat sulit aku rasakan. Dan itu tentu saja, karena tangisanku ternyata sama sekali tak bisa berhenti, menutup pernafasanku dengan cairan yang paling aku benci.

Ya Tuhan.... ini adalah momen yang paling aku benci....

Sekarang aku sudah berada di titik dimana kemampuanku untuk bertahan hidup dari masalah percintaan ini seakan sedang berada di ujung tanduk. Dan yang aku harus lakukan untuk melanjutkan kehidupanku ke depannya adalah, membiarkan diri ini terjatuh dari tanduk tersebut, dan kembali memulai segala sesuatunya dari bawah lagi.

Mungkin kata orang, aku sudah dibutakan oleh yang namanya cinta. Dan aku itu akan dipanggil sebagai perempuan paling bodoh yang pernah ada. Apalagi kebutaanku ini sudah terjadi selama empat tahun. Ya, silahkan hujat aku dengan sadis....

...

Satu jam kemudian, ketika aku sudah selesai melakukan semua bentuk kebodohanku dari cinta buta yang sungguh menyedihkan itu, aku pun tanpa pikir panjang lagi memulai keputusan yang selama ini sangat sulit untuk aku ambil.

"Ma...." Panggilku ke ibuku yang masih saja menonton televisi bersama kakak perempuanku. Memang, pada jam 11 malam ini, ada acara favorit mereka berdua, yang sebenarnya paling tak kusukai, yaitu drama lebay korea.

"Apa? Udah cuci kaki belum? Kayaknya lu belum deh."

"Renata mau pergi malam ini ke Bali."

Serentak, Ibu dan Kakakku kaget bukan main. Apalagi sewaktu akhirnya mereka memperhatikanku yang sedang membawa koper.

"Elu udah gila ya?! Pasti gara si Vino sial itu ya!" Kata Kakakku yang mengira kalau aku mengikuti ajakan Vino (salah seorang teman seumuranku yang sudah tinggal di Bali sejak SMA).

"Bukan. Bukan gara-gara Vino. Disana Renata pengen cari duit Kak. Soalnya udah ada pekerjaan yang pas banget sama cita-cita Renata." 

"Renataa.... Udah deh, lebih baik lu masuk kamar aja. Jangan buat Mama tambah pusing!"

"Gak Ma. Soalnya Renata udah pesen tiket. Dan jam keberangkatan Renata itu jam 1 pagi nanti. Renata harus cepat-cepat ke bandara sekarang."

"Ih! Ni anak udah gila ya! Lu rela ya ninggalin gua sama Mama sendirian di rumah?! Lu kayak robot yang ga ada perasaan tau gak!!"

Mendengar pernyataan menyakitkan dari kakakku itu, membuatku akhirnya berani mengungkapkan banyak hal.

"Ga ada perasaan ya kata lu Kak? Emangnya selama ini elu ada perasaan? Emangnya elu, sebagai Kakak yang udah berumur 24 tahun, udah bisa kasih gua kebutuhan, yang orang-orang sering bilang, hmm apa itu?! Kuping!!"

Tiba-tiba mereka berdua terdiam....

"Udah! Percuma debat segala macem soal yang namanya 'perasaan'! Ma, Renata udah sering hidup sendiri. Jadinya, lebih baik Renata pergi sekarang juga. Bye!" 

Dan kemudian,  dengan sedikit mengeluarkan air mata, aku pun segera keluar dari rumah untuk masuk ke dalam taxi yang sudah aku pesan selama di dalam kamar pribadiku tadi. Tetapi, saat koperku sudah dimasukkan ke bagasi mobil, tiba-tiba Ibu dan Kakakku keluar dari rumah dan mereka menangis. Hingga akhirnya mereka berdua memelukku dengan sangat erat. Membuat sebuah momen yang paling tak ingin aku rasakan. Perpisahan....

"Kalau ada apa-apa, langsung balik aja ya Ren. Mama gak bakal marah sama Renata kok...."

"Ren, terus kasih kabar ya.... Jangan suka gonta-ganti nomor waktu lagi disana...."

Oh Tuhan.... Aku benci hal seperti ini....!! Pikirku sambil menangis tersedu-sedu.

....

Ketika aku sudah memasuki Taxi dan lalu Taxi ini berjalan, aku pun memutuskan untuk melihat ke arah kaca belakang. Memandangi kedua orang keluarga tercintaku yang terus melihat ke arah Taxi ini dengan seakan mereka masih menangis....

Ini memang lah keputusan paling tergilaku yang pernah aku ambil. Namun, memang ini lah yang sudah aku pikir dan rencanakan sejak empat tahun yang lalu. Sebuah perpisahan yang akan mengubah segalanya. Dimana aku siap untuk menjadi nothing kembali, di sebuah Pulau yang cukup menyenangkan bernama Bali tersebut. Untuk meraih cita-citaku menjadi model, dan mungkin, nikah sama bule disana. Hehehe....

Akhir kata, Good bye my old life! Aku sudah sangat terlalu siap untuk hidup baru, yang dimana sudah tak akan ada lagi untuk mencintai seorang pria dengan butanya. Frontier adalah yang pertama dan yang terakhir....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath