Cerpen: "Renata: Berakhir Di Bali"

SMA kelas pertama, sewaktu aku pertama kalinya melihat sesosok pria yang mampu membuat hatiku terjun ke impian paling terdalam di kehidupanku ini.

Awalnya tak pernah kupikirkan sama sekali, kalau Frontier adalah orang itu. Siswa baru, yang mampu memberikan kehangatan dalam hatiku, hingga aku sendiri merasa sangat nyaman jika aku sedang didekatnya. Membuat banyak waktuku menjadi terbuang percuma hanya karena terus memikirkannya.

Mungkin hal ini bisa dikatakan dimulai sejak sekolah kami sedang mengadakan lomba catwalk dalam genre 'couple'. Saat itu di kelasku sangat kebingungan untuk memikirkan siapakah yang akan mengikuti lomba ini. Hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk memilihku bersama dengan Frontier. Yang pada akhirnya malah membuatku menjadi lebih mengenalnya sebab makin seringnya kami berdua bertemu untuk latihan.

Jika diingat, saat-saat sedang latihan itu memanglah masa-masa terindahku di sekolah. Dimana pada kenyataannya, ia ternyata mau terus menerus mengantarkanku pulang pergi sekolah karena kami benar-benar terasa sudah seperti orang pacaran waktu itu.

Hahaha... aku ingat, ketika ada puluhan kali aku selalu terjatuh waktu memakai High Heels, dan Frontier terus saja memegang erat tanganku agar aku tak sampai jatuh dan melukai tubuhku. Itu sungguh momen yang indah dan selalu kuingat hingga pada kenyataannya, kami sendiri pun memenangkan perlombaan ini. Membuat satu sekolah akhirnya memberikan label ke kami kalau kami adalah 'perfect couple!'

Tapi.... hidup terus berjalan habis itu. Aku pun kembali menjalani kehidupanku seperti biasanya di sekolah, yang langsung saja mungkin kubilang, kalau sejak kami menang-Frontier ini seakan sedikit demi sedikit mulai menjauh dariku. Ia sama sekali tak pernah mengantarkanku pulang pergi lagi. Dan berbicara ke aku pun itu sangat jarang, malah kalau boleh dikatakan-lebih untuk berbicara hal-hal yang penting saja soal urusan sekolah.

Kenapa ia bisa menjadi seperti itu? Ini pertanyaan yang masih terus ada di benakku. Dan bodohnya aku, tak pernah sedikitpun aku tanyakan kepadanya sejak dulu, bahkan seolah-aku itu membiarkan segalanya terjadi begitu saja. Membiarkan batinku menjadi sakit karena terus saja 'namanya' terpanggil di setiap waktu hidupku.

Ini mungkin memang lah kebodohanku. Terus terikat dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, yang mampu mengikis dagingku sedikit demi sedikit. Tapi kalau boleh jujur, Frontier adalah pria pertama yang mampu membuatku menjadi seperti ini. Yup, membuatku menjadi seseorang yang terus merasa kalau suatu hari nanti Frontier akan kembali dekat denganku, bahkan menjadi milikku.

...

Hingga akhirnya aku lulus SMA. Tak kusangka kalau yang terpilih menjadi King and Queen di angkatanku ternyata adalah kembali aku dengan Frontier. Memberikan otakku banyak pertanyaan seputar masalah ini.

Memangnya kami itu cocok ya?? Tanyaku dalam hati saat itu.

Ya, memang pada kenyataannya adalah, untuk teman-teman dan guru-guruku, prestasi kami berdua yang pernah terpilih menjadi pasangan couple 'boongan' di catwalk waktu SMA kelas satu itu masih sangat membekas di benak mereka masing-masing. Bahkan mereka semua berharap untuk kami dapat jadian beneran saja.

Biarlah....

Hmm... aku ingat, saat Frontier sedang duduk di depan panggung bersamaku sewaktu sudah diberikannya mahkota, ia sempat bilang kepadaku,"Ini adalah hal tergila yang pernah gua rasakan!" 

Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya apakah maksud dari perkataannya tersebut. Apakah mungkin ia malu saat dijodohkan ke aku? Ataukah ada hal lain? Yang semoga saja tak terlalu menyakitkanku ketika aku mendengarkannya.

Yang pasti, otak lelaki itu memang masih sangat sulit untuk kuselami. Apalagi untuk laki-laki yang sudah membutakan hatiku ini. Oh Tuhan... aku hanya ingin segera melupakannya....

...

Aku menuliskan ini sewaktu aku sedang berada di pesawat, dimana akan membawaku menuju ke Pulau Dewata, Bali.

Dan sekarang aku merasa galau sekali. Apakah yang sudah kutulis ini harus aku kirimkan ke Frontier atau tidak setelah aku turun dari pesawat nanti? (Soalnya tak mungkin aku menyalakan sinyal di pesawat lewat tablet tercintaku ini.)

Ah, tak peduli deh jika aku kirimkan nanti. Biarkan saja kenyataan hidup mengatakan segalanya. Sudah cukup dengan semua kebohongan yang terus saja menyakitiku ini. Aku benar-benar ingin lepas!

Hahaha...... Menurutku ini memanglah lebih baik disaat aku jujur saja langsung ke orangnya, ketimbang aku jujur ke teman-temanku yang tak akan pernah bisa kupercaya. Ya, semoga saja Frontier tak terlalu bawel dan malah membuat namaku menjadi topik hangat untuk ditertawakan bersama teman-temannya setelah kukirimkan ini.

...

Jadi, ini lah sekilas dari kehidupanku yang akhirnya sekarang malah membuatku menjadi menginjakkan kaki di Bali. Sebuah kehidupan yang gila ya? Atau lepas dari segala bentuk ke-normal-an yang selama ini sangat diagung-agungkan mayoritas manusia di dunia.

Hahaha.... Oke, sekarang aku sudah mengirimkan sedikit tulisanku selama di pesawat tadi langsung ke email-nya Frontier. Kalau begitu, sudah cukup sampai disini. Aku akan menjalani kehidupan baruku dengan sangat bebas sekarang!

PING!! Tiba-tiba saja terdengar bunyi tanda email masuk di tablet yang terus aku pegang ini. Oh, mungkin saja ini Frontier, yang ingin bilang kalau aku sangat menjijikkan kali ya hahaha.... 


***

Renata, aku sudah menanti-nantikan email darimu sejak semalam kemarin. Aku terus saja berada di depan komputer untuk menunggu kabar darimu. Soalnya memang ini adalah satu-satunya jalan kita berkomunikasi selama ini. Memang bodoh diriku yang tak pernah meng-add friend BB kamu sampai sekarang. Tapi yasudah lah, aku akan langsung mengatakan inti dari email-ku ini.

Ren, aku sangat kaget bahkan shock! sewaktu Tania bilang kalau kamu suka aku. Aku tak menyangka kalau perasaanmu juga sama sepertiku. Ya, Renata... aku juga menyukaimu sejak SMA, sejak kita akhirnya bisa ikut lomba catwalk itu yang akhirnya membuat kita berdua menjadi terus bersama. Jujur, sama sepertimu, itu adalah masa-masa paling bahagia di dalam hidupku. Aku benar-benar sangat senang sewaktu bisa mengantarkanmu pulang pergi sekolah dulu.

Dan Ren... disini sebenarnya yang salah adalah aku. Aku lah yang menjadi pengecut, karena tak pernah berani bilang kalau aku suka sama kamu dari dulu. Aku sungguh takut kalau kamu akan menolak atau jijik terhadapku. Soalnya sempat, aku pernah tanya teman-teman semasa SMA-mu dulu, mereka bilang kalau kamu tak lagi suka siapa-siapa, jadinya aku sungguh bimbang, hingga akhirnya kuputuskan untuk mencoba melupakanmu dengan cara mulai menjauhimu saat itu.

Sungguh, aku sangat menyesal dengan semuanya itu. Aku tak ingin penyesalanku ini kubawa sampai mati. Oleh karena itu, sekarang aku bilang kepadamu langsung. Dan aku juga akan bilang langsung, kalau aku akan segera menyusulmu ke Bali. Aku akan menjelaskan lebih banyak lagi kepadamu sewaktu aku sudah sampai disana nanti.

Tunggu aku.... Nanti kamu akan kuhubungi lagi....

N.B: Tolong kirimkan nomor telepon barumu dan Pin BB-mu. 

***

Ngepet!! Pikirku lirih saat aku selesai membaca email dari Frontier ini yang dimana kuputuskan sambil duduk di kursi Bandara. 

Sekarang mungkin aku sedang menjadi sumber perhatian dari banyak orang yang terus-menerus lewat di depanku. Soalnya aku sama sekali tak bisa menahan air mataku yang terus mengalir ini. Yang bedanya, alirannya tersebut tak lagi disebabkan oleh kejadian-kejadian buruk, tetapi diiringi dengan perasaan bahagia yang sangat sulit kuungkapkan seperti apa. Yang jelas, ini seperti puncak dari kebahagiaanku....

Mungkin, ini memanglah pelajaran yang sedang Tuhan berikan untukku. Yaitu untuk lebih percaya terhadap orang sekitarku, yang dekat denganku. Soalnya aku tersadar, apa yang sudah aku lakukan dulu, dimana tak pernah percaya dengan orang lain itu, telah membuat rencana Tuhan menjadi terlihat seperti terhenti sejenak di dalam hidupku ini. Membuat kebahagiaan yang seharusnya kurasakan sejak SMA, pada akhirnya baru tersampaikan sekarang.

Namun, ini lah kehidupanku. Apapun keputusan yang kuambil, aku tak akan pernah menyesal. Karena semuanya selalu ada sebab dan akibat. Tapi tetap, empat tahun itu memanglah waktu yang lama untuk mendiami kebodohanku tersebut! 

Hahaha.... Ternyata memang, everything gonna be ok.... 

Terima kasih Tuhan....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath