Tentang Film "Young Adult"

Gua sudah menonton film ini beberapa kali sejak kira-kira tiga bulan yang lalu, tapi entah kenapa gua tak pernah bosan dengannya. Ya maksud "bosan" disini adalah, gua tak membuang sia-sia film ini (tak akan pernah menontonnya lagi atau cukup sekali nonton saja habis itu dihapus), tidak, melainkan-gua akan tetap menontonnya hanya ketika gua butuh untuk menontonnya. Yup, ada faktor kebutuhan di kata-kata gua ini, yang bakalan ribet banget kalau gua lanjutin hahaha.... Yang penting, gua suka dengan film yang sutradaranya adalah seseorang yang pernah membuat sebuah film bernama Juno, yang kalian semua para maniak film tahu lah ya-kalau film tersebut sudah memenangkan penghargaan bahkan sampai Oscar dalam hal penulisan terbaik.

Oke, kita langsung saja menuju ke sasaran!


Hmm... Young Adult, diawali dengan langsung memperlihatkan siapakah tokoh utama dalam film ini. Dan dia adalah Mavis Gary, seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis cerita remaja (young adult), yang dimana ia tinggal seorang diri hanya bersama anjingnya, Dolce, di dalam sebuah apartemen yang ada di Kota besar bernama Minneapolis. Setiap harinya, Mavis menghabiskan waktu dengan gaya hidup yang kurang sehat, sehingga terlihat sekali dari mukanya yang sangat muram.



Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang menuliskan naskah dengan menggunakan Laptopnya, ia pun kedapatan sebuah email yang cukup membuatnya terkejut. Yaitu sebuah undangan dari mantan suaminya untuk menghadiri pesta kelahiran anak pertama istrinya tersebut. Dan dengan banyak mengolah pikiran di dalam benak Mavis, ia malah mengira kalau mantan-nya tersebut seolah menginginkannya kembali yang mungkin karena kehidupan pernikahannya yang begitu membosankan bersama istri barunya tersebut. Yang lalu, keesokan harinya, Mavis segera pergi ke Kota kelahirannya, di Mercury, Minnesota untuk mendapatkan kembali hati mantannya itu.


Walau di tengah rencana gelapnya tersebut ia bertemu dengan seorang laki-laki gembul bernama Matt Freehauf, yang tiba-tiba menjadi teman cukup akrabnya disana sampai-sampai selalu memberikan Mavis banyak nasihat untuk menghentikan hal tersebut, tetapi Mavis tetap pada pendirian dan kepercayaannya untuk memulai sebuah ajang kegilaan penuh ambisi dan harapan di dalam Kota yang sebenarnya sangat ia benci itu.


....

Seperti Juno, gua sangat menyukai film terbaru dari Jason Reitman ini. Khususnya adalah dari naskahnya yang selalu unik dan menyegarkan otak gua. Dimana untuk kali ini, rasanya Jason ingin mengatakan kalau kota tempat tinggalmu yang dulu itu adalah yang salah atas semuanya ini. Hahaha... hal tersebut mengena gua sekali. Dan rasanya menyenangkan untuk mengalami menjadi penonton yang melihat sebuah alur yang begitu mempesona tersebut. Apalagi untuk di akhir ceritanya, akhirnya jelas juga mengapa seorang tokoh Mavis ini bisa menjadi begitu gila dalam mengejar kembali hati mantan suaminya yang sudah mempunyai anak tersebut walau umurnya sudah 37 tahun. Di momen yang memilukan sekaligus pemecah suasana tersebut telah membuat gua menjadi sangat bersimpati kepada Mavis Gary, dan malah jadi ikut-ikutan turut mempersalahkan Kota tempat tinggalnya sejak kecil tersebut.



Namun bukan hanya itu saja yang membuat gua menjadi sangat terpukau. Karena lagi-lagi Charlize Theron telah memenangi hati gua. Entah, seperti yang sudah pernah gua katakan dalam review film yang bernama "Monster" sebelumnya, memang Charlize ini adalah seorang aktris sejati. Ia selalu bisa memerani berbagai macam tokoh yang kelihatannya sulit sekalipun. Dan untuk kali ini, walau ia mungkin hanya menunjukkan wajah juteknya saja untuk memperlihatkan kehidupannya yang kurang sehat, tetapi menyenangkan sekali ketika melihatnya memerani tokoh yang agak sedikit gila ini. Yup, agak sedikit gila tetapi walau bagaimanapun juga, ia tetap fashionable, yang dimana selalu memperhatikan penampilannya ketika sedang bertemu dengan orang yang penting di dalam kehidupannya. Great!!



Oke, mungkin perlu diakui, kalau Film "Young Adult" ini tak sehebat Juno, sehingga untuk tahun ini, Oscar pun tak sampai bahkan sebagai nominatornya sekalipun. Namun untunglah, Charlize Theron, aktris kesayangan gua ini masih bisa menjadi nominator dalam ajang penghargaan Golden Globe, sebagai aktris terbaik.

Akhir kata,


Mavis : Kebanyakan orang disini hidup bahagia dengan gaji kecilnya. Sepertinya bahkan mereka tak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka.
Sandra : Itu karena tak masalah bagi mereka. Mereka tak berarti. Lebih baik mati. Mercury sialan.


"Life, here I come."
Thanks
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath