Cerpen: Hari Ini Untuk Joko

Tidak ada yang bisa menandingini kemampuan dari Joko dalam hal fotografi. Ia adalah salah satu yang terbaik di antara teman-temannya yang sudah tergabung ke dalam kelompok pecinta "mengambil suatu momen dalam bentuk gambar".Tapi sayangnya, hari ini ia sedang mengalami sebuah masalah yang cukup besar ketika ia habis bertengkar dengan kekasihnya.

"Dimana laptop gua?!!!!!" Teriak Joko di kamarnya yang cukup berantakan. Dan tambah dibuatnya berantakan ketika sedang mencari laptop kesayangannya.

"Ada apa Jok? Malam-malam gini kok ribut sih?!" Tanya ibunya yang sudah memakai daster dan siap-siap ingin tidur.

Perlu diketahui sebelumnya, kalau Joko adalah anak semata-wayang ibunya. Ayah Joko sudah pergi sejak Joko masih di dalam kandungan ibunya. Atau bisa juga dibilang, "tidak bertanggung jawab karena sudah menghamili Ibunya Joko."

"Laptop Joko Mak.... Ilang!!"

"Bah, memangnya kamu taruh dimana tadi?"

"Di meja belajar Joko. Selalu disituuu.... Kok tiba-tiba bisa hilang sih?!"

"Coba kamu ingat-ingat lagi, dan cari pelan-pelan. Apalagi tadi kan banyak teman-teman kamu disini, mabok-mabokan lagi!"

Sebuah pesta kecil-kecillan telah Joko buat dari pukul sembilan malam tadi atas keberhasilan Joko karena sudah memenangkan sebuah lomba fotografi dengan tema "Human Interest di dalam Busway". Dan sudah pasti hanya kelompok fotografinya yang bernama "The Beraniz", dengan jumlah sepuluh orang saja yang diundangnya.

"Aduh Mak.... Cuma minum bir bintang doang kok. Itu mah gak masalah...."

"Gak masalah darimana?! Tadi itu ampe Pak Tanu dateng tau gak ke rumah kita, bilang jangan terlalu berisik. Kamu gak inget ya?!"

"Hmmm...." Pikir Joko sejenak. "Kayaknya enggak deh Mak. Tapi yang terpenting sekarang dimana Laptop Jokoooo...?! Disitu ada semua hasil foto-foto Joko selama lima tahun ini...!!" Tiba-tiba Joko serasa ingin menitikkan air mata.

"Hhhh... Sudah-sudah.... Sekarang kan udah jam dua pagi, lebih baik besok aja dicarinya ya. Tidur dulu."

"Aduhhh Emakkk.... Yaudah deh, emak kalo emang udah ngantuk, tidur duluan aja. Joko masih mau cari."

"Besok ya baru emak bantu cari." Kata Emak-nya sambil menguap dan lekas pergi dari kamar Joko.

Joko yang sudah berambut ikal tebal berwarna hitam, seperti rasanya ingin botak. Kepalanya yang masih pusing karena mabok, sekarang malah tercampur dengan rasa stress yang luar biasa. Apalagi ia juga baru bertengkar dengan Rini, kekasihnya, yang dimana Joko sendiri lupa mereka berdua ini bertengkar karena apa sewaktu di dalam pesta tadi. Benar-benar malam terindah untuk Joko bisa terjun dari lantai sepuluh menuju ke neraka.

Huuuuaaaaaaaaa...............!!!!!

"PING!!"

"PING!!"

Tiba-tiba terdengar nada tanda ada BBM masuk dari Blackberry Joko yang berwarna hitam.

"Elu mau Laptop lu balik ga?!" Tanya Rini di BBM tersebut. Joko kaget bukan main.

"OH JADI ELU YA YANG NGAMBIL LAPTOP GUA!!!!!!! BALIKIN SEKARANG!!!!!!"

"Eh badan triplek, elu masih mabok ya. Ato elu udah makin tambah bego sekarang?!"

"BODO AMAT! YANG PENTING BALIKIN LAPTOP GUA SEKARANG, CEWE MACAN!!!"

"Gak usah pake capslock segala kali dodol! Kan tadi elu sendiri yang kasih ke gua!! Inget gak?!"

Joko kembali kaget. Ia pun langsung teringat sekilas akan kejadian dimana ia sedang bertengkar dengan kekasihnya tersebut.

...

"Hahay! mampus lu kartu gua tinggal dua nih!" Teriak Joko kegirangan disaat ia sedang bermain capsa dengan teman-temannya, yaitu empat orang dari "The Beraniz" dan dua lusin kaleng Bir Bintang yang ikut memeriahkan keadaan.

"Waduh, ini sih Joko dah yang bakal menang." Kata temannya yang juga ikut main capsa, tapi terlihat seperti sedang meledek.

Hingga akhirnya pada giliran Joko lagi, ia pun langsung mengeluarkan kedua kartunya. "Nih dua babon sama empat jelek! Mampus lu pada! Hahahaha.....!!" Maksudnya adalah dua sekop dan empat daun.

"Eit tunggu dulu donk badan triplek, sebelum lu keluarin tuh empat jelek, gua ada ini nih!" Temannya itu pun langsung mengeluarkan "kartu boom!" atau empat kartu yang memiliki angka yang sama. "Huahahahaha....!!!"

Joko pun terdiam, dimana semua temannya pada tertawa dengan ngakak-nya.

"Huaahahahahahahaa.......!!!!"

"Berengsek!" Dan Joko tiba-tiba geram, diikuti mengacak-acak meja tempat kartu-kartu tersebut terkumpul. Tapi semua temannya tak peduli. Mereka tetap tertawa lepas.

Dengan cepat Joko segera beranjak dari tempat tersebut sambil membawa dua kaleng bir dan pergi ke kamarnya. Mukanya kali ini benar-benar terlihat sumpek, karena sudah kalah dua puluh kali berturut-turut. Kalau saja mereka bermain dengan uang, sudah pasti uang hasil kemenangan lomba fotografi tadi pagi akan terkuras besar.

"Sudah, jangan marah kayak gitu dong sayang." Kata Rini dengan lembut yang juga ikut masuk ke dalam kamar, sambil memeluk badan Joko dari belakang.

"Seharusnya ini pesta buat gua. Seharusnya dari tadi gua yang ketawain mereka!"

"Duh, kamu ini kayak anak kecil aja sih, beda sama mantan aku yang dulu. Walau kalah, yang penting tetap hepiii...."

Tiba-tiba Joko kembali geram. Ia pun langsung melepaskan pelukan Rini dan mendorongnya sampai terjatuh dekat pintu.

Gedubrakkk!!!

"Heh berengsek!! Masih untung ya gua mau jadi cewe elu!!!"

"Maksud lu apa?!" Tanya Joko dengan galaknya diikuti matanya yang sudah membelalak.

"Asal lu tau ya! Gak ada dari kita semua yang suka sama fotografer bego kayak elu! Elu itu belagu! Sombong! Udah kepala dua tapi sifat masih kayak anak kecil!! Inget! Gara-gara siapa elu bisa jadi sejago ini sekarang!!!" Rini mengambil nafas sejenak, dan melanjutkan ucapan gilanya lagi. "Gua sendiri juga bisa jadi cewe elu itu karena kalah taruhan sama yang lain tau gak!!! Jujur, gak sudi badan gua mau nempel sama cowok kurus, rambut keriting kayak elu! Tadi aja gua meluk elu gara-gara dipaksa sama yang lain!! Taik!!"

Suasana kini sudah semakin memanas. Pengaruh alkohol telah membuat Rini meledak-ledak bagai bom api. Joko pun terkena ledakannya yang benar-benar sangat besar sekarang. Membuat hatinya serasa tercabik-cabik ribuan samurai.

"Jablay! Oke! Kalau emang semua kemampuan gua gara-gara elu semua, sekarang ambil nih laptop gua." Ia pun langsung mengambil laptop-nya yang ada di atas meja, dan menyodorkannya ke Rini yang masih di lantai. "GUA KASIH SEMUANYA KE ELU PADA!! BANGKE!!!"

...

"PING!!"

"PING!!"

Kembali bunyi tanda BBM masuk terdengar oleh Joko yang sekarang memasang muka penuh sesal.

"Woi!!!!!" Tegur Rini di dalam BBM tersebut.

"Eh iya iya. Gua udah inget semuanya kok. Sekarang gua mau laptop gua balik pokoknya. Elu lagi dimana?"

"Gua masih di depan rumah lu! Buruan kesini!!"

Langsung Joko pergi ke depan, dan ketika ia sudah membuka pintu rumahnya, sudah berdiri sesosok wanita kurus, berkulit putih, dengan memakai kaos putih pendek bergambar panda dan celana jeans mini berwarna biru. Wanita itu sedang memegang laptop dengan raut muka cemberut.

"Nih! Laptop kesayangan elu!"

"Hmm... Thanks ya...."

Tiba-tiba mereka berdua terdiam sejenak, seperti tak tahu harus ngomong apa lagi setelah kejadian gila diantara mereka berdua tadi malam.

"Gu-gua...." Dan Joko ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit sekali untuk mengeluarkannya.

"Apa?"

"Rin, gua pengen minta maaf soal tadi ya...." Katanya yang lalu menundukkan kepalanya karena agak malu.

"Hmm.... Yasudah gua maafin. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi sayangnya gua udah omongin semuanya tadi. Itu beneran loh."

"Tenang aja, nanti gua bakal minta maaf ke semuanya. Yang terpenting, elu masih mau kan jadi cewek gua?"

"Aduhhh Jokooo.... Gua kan udah bilang kalo tadi itu gua udah bilang semuanya. Gini-gini, sekarang gua saranin ke elu ya. Lebih baik elu sekarang pergi ke kamar, terus tidur, dan besoknya cari kelompok fotografi yang lain. Soalnya tuh semuanya memang pada gak suka sama elu. Kayak tadi aja, sebenarnya waktu lagi main capsa, kita pada tuh pada kongkalikong buat elu kalah. Okeh. Dan sekarang gua mau ke cowok asli gua yang udah nunggu dari tadi di dalam mobil, yang selama ini selalu gua bilang sebagai mantan gua. Bye...."

Kemudian Rini lekas pergi meninggalkan Joko tanpa membiarkannya mengucapkan apa-apa lagi. Membuat Joko menjadi seperti patung rapuh tak berdaya, yang lalu akhirnya muntah.

Tamat

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath