Cerpen: Bis Perpisahan (Part 1)

Melihat datangnya bis dari kejauhan ketika aku sedang duduk di kursi panjang depan pintu masuk sekolah, serasa membuat tubuh ini ingin segera kabur menuju kemana saja, jauh dari sekolah.

Aku tak menyangka kalau hari ini akan terjadi juga. Setelah tiga tahun sudah kehidupan SMA berhasil aku jalani, kini semua kisah di belakangku itu akan diakhiri dengan kepergian kami menuju satu tempat yang memiliki banyak pegunungan dan udara yang sejuk. Aku hanya bisa berkata,"wow!"

Namun yang paling terpenting saat ini adalah, ketika aku akan meninggalkan seseorang yang paling aku sukai selama tiga tahun di sekolah. Dimana hati ini benar-benar sudah sangat terikat dengan segala senyuman dan tatapannya yang begitu indah. 

Oh Tuhan... mengapa Raisa harus pergi dari hidupku....

...

Dengan hanya membawa tas ransel yang sudah sangat penuh karena sudah diisikan pakaian ganti untuk tiga hari, peralatan mandi, obat alergiku, balsem, dan tentu saja minyak angin, aku pun menaiki bis yang sudah tiba sebagai orang pertama. Seluruh teman-teman seangkatanku masih di luar, melakukan kegiatan mereka seperti biasanya, yaitu foto-foto. Namun aku tak peduli dengan mereka. Aku tak butuh kenang-kenangan seperti foto-foto tersebut. Yang terpenting sekarang hanya sebuah headset yang sudah tertempel di telingaku, diikuti Handphone yang sudah kumatikan sinyalnya selama perjalanan agar batrei-nya masih tetap full.

Aku rasa, duduk di belakang di kursi sebelah kiri dimana hanya untuk dua orang adalah keputusan yang tepat. Karena selain dekat dengan pintu keluar, aku pun bisa melihat sesuatu dari kejahuan. Sesuatu yang sangat penting, yang bisa memberikan kepuasan untuk mata ini.

"Wei Kenny! Duduk sendiri aja lu!" Tegur teman sekelasku dari IPA, Wanto, orang kedua yang masuk ke dalam bis, tapi diikuti dengan geng-nya di belakang.

"Kayaknya ada autis nih di belakang duduk sendirian. Hahaha...." Lanjut Ferry yang selalu suka meledek teman-temannya.

"Biarkan gua sendiri aja yah...." Kataku sambil tersenyum tipis. Memberikan tanda kalau aku tak ingin diganggu. Namun pertanyaannya adalah, apakah anak-anak seperti mereka bisa mengerti??

"Yehh autis! Nanti di bis gua kasih tau rahasia lu ya! Hahaha...." Kembali Ferry ngejawab, tapi kali ini ia memberikanku sebuah tanda bahaya.

Sebelumnya, perlu diketahui kalau Ferry lah satu-satunya temanku yang tahu kalau aku suka sama Raisa. Pada waktu siang hari, ketika aku sedang tertidur di kelas, tak kusangka kalau ia berani merogoh tas-ku dan berhasil menemukan "buku pengakuan" milikku. Dimana semua rahasiaku sudah dibaca olehnya dengan semangat, namun ia putuskan untuk tak memberitahukan ke orang lain-kecuali aku mau membelikannya makanan seminggu sekali selama enam bulan. Dan yaa..... terpaksa sekali, aku berhasil diperbudaknya. Tapi tetap, karena ia suka lelucon, kadang ia suka ceplas-ceplos meledek Raisa seperti,"Raisa! Tau gak si lu kalau ada cowok cepak yang kulitnya sawo matang, yang suka sama lu!" Untunglah ia tak pernah memberitahukan tentang bentuk tubuhku yang cukup gendut ini. Malu sekali jika sampai ketahuan.

"Yasudah yuk, kita biarkan dia sendirian dengan headset-nya." Ajak Redo. Ia adalah ketua kelas yang memang pantas menjadi ketua kelas!

...

Hhhh... setelah sudah cukup banyak anak-anak yang masuk dan duduk dengan berisiknya di dalam bis. Akhirnya datang juga permaisuri dari kelas kami. Dengan kaos putih bergambar panda dan celana jeans hitam panjangnya, Raisa berjalan bersama geng perempuannya sambil kelihatan tertawa bahagia.

Hhhh... andai saja aku bisa memiliki wanita seperti dia, dimana memiliki tinggi sekitar 170 cm sama sepertiku, dengan tubuh kurus dan kaki jenjang bak model Hollywood. Aku benar-benar ingin merasakan kibasan rambut hitam panjang lurusnya ke kepalaku....

Dann.... cukup dengan khayalannya. Sekarang lah saatnya melihat sebuah mimpi buruk. Seorang laki-laki bertubuh atletis yang adalah anak dari kelas IPS akhirnya masuk setelah Raisa. Ia pun duduk di kursi paling depan bersama geng bola basketnya. Serasa kalau dirinya memang selalu berada di depan seperti pangeran yang bodoh dan tak berotak.

Dari awal aku sudah mengira kalau menaiki bis ini adalah sebuah keputusan yang buruk. Aku pernah mengalaminya sekali, ketika kelas kami sedang mengadakan study tour ke pabrik keju yang letaknya di puncak juga. Aku benar-benar gondok saat melihat dari belakang, waktu Raisa dan laki-laki sialan itu sedang duduk berdua menikmati hubungan menjijikkan mereka di kursi paling depan. Canda dan tawa mereka bak racun tersebut telah membuat pengalaman study tour-ku saat itu menjadi sangat kacau!

Walau memang kali ini kelihatan cukup baik, karena mereka berdua sudah putus, sehingga detik-detik dimana mereka sedang duduk berdua tak kelihatan lagi dari kacamata minusku ini. Namun.... tunggu.

Apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki busuk itu?!

Tiba-tiba ia mendatangi kursinya Raisa yang sedang duduk di bagian tengah bis bersama teman-temannya. Laki-laki itu pun terlihat tersenyum sambil memberikan sebungkus biskuit langsung ke Raisa. Entah apa yang dikatakannya, sama sekali tak terdengar karena berisiknya dalam bis ini, tapi yang kulihat-Raisa menerimanya, walau ku tak bisa melihat mukanya yang sedang duduk tersebut.

What?! Ia menerimanya!!

Segera kurogoh tas milikku, dan langsung kuambil buku pengakuan. Dengan cepat, aku tulis,"Aku sudah gila! Melihat wanitaku menerima biskuit dari laki-laki berengsek itu!! Sialan!!"

Benar-benar mimpi buruk! Kebodohan yang sungguh menyedihkan! Bis itu memang sebuah malapetaka, kesialan batin, kiamat hidup, dan rantai masalah!! 

Gua ingin keluar dari sini! Gua ingin keluarrr!!!

Namun semuanya terlambat. Disaat tubuhku sudah berdiri dan sedang memegang ranselku, suara mesin bis ini terdengar menyala. Supir pun langsung mengganti gigi dan menggas, membuat tempat sempit penuh kengerian ini berjalan. Membiarkanku ditelan mentah-mentah di dalam perut monster penuh bisa ini!

"Ken, woi Ken...." Tiba-tiba suara bisik Ferry memanggilku. Ia ternyata sedang duduk di depanku, aku sama sekali tak memperhatikannya.

"Apa??" Tanyaku.

"Kembali mesra ya mereka. Hahaha...." Ledeknya lagi.

"Peduli amat ah!"

"Tenang-tenang, gua bakal ngebantu lu kok entar. Sabar ya Ken...." Setelah ia mengucapkan kata aneh tersebut sambil mengedipkan sebelah kanan matanya, aku pun langsung tersentak. Merasakan kembali sebuah tanda bahaya yang dapat membuat kedua bola mataku membelalak.

"Eh, elu mau ngapain?!"

"Kita liat aja ya nanti. Hahaha...."

"Serius Fer! Awas ya kalau lu berani macem-macem!!" Kataku dengan cukup marah.

"Udah lu sana lebih baik dengerin aja musik kampung dari headset lu. Hahaha...." Kemudian ia balik badan dan membiarkanku menjadi ketakutan serta penasaran bukan main.

Namun kurasa ia tak akan berani melakukan hal yang gila sesuai dengan pikiran burukku. Toh, aku sudah membelikannya makanan selama enam bulan ini tanpa henti. Memangnya siapa dia, hanya seorang anak kecil dengan lelucon idiotnya yang tak berarti. Walaupun ia bocor, siapa yang akan percaya dengannya lagi? 

Hahaha... Kuharap....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath