Cerpen: "Untuk April: Kisah Indomie"

Cinta itu takkan pernah ada jikalau tak ada orang yang sepertiku di dunia ini. Aku adalah salah seorang yang menunjukkan apa itu cinta pada orang yang sangat kusayangi. April, ia adalah malaikat pencabut hatiku, yang sudah disimpannya begitu lama, dan akan kulakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya juga....

“Jadi, sejak kapan lu mulai suka terhadapnya?” Tanya Billy, setelah kami berbicara cukup serius karena sudah lama aku butuh teman untuk mengetahui apa isi hatiku yang sebenarnya terhadap April. Ia ini adalah salah seorang teman kampusku yang kini kami sudah mulai dekat, seperti sekarang yang dimana kami sedang mengobrol di ruang tamu rumahnya yang lumayan besar pada siang hari.

“Hmm... cerita ini mungkin akan sangat lucu saat lu dengar ya. Oke, waktu itu gua masih SMP kelas tiga....”

...

Waktu itu Aku masih SMP kelas tiga, dan Ibu Heny, Guru Biologiku benar-benar sangat menyusahkan memberikan tugas, sehingga membuatku harus mengerjakannya di warnet pada malam hari, sekitar pukul delapan.

Nama warnetnya adalah BlazeNet. Ketika aku sedang susah-susahnya mencari banyak data dari google untuk membuat makalah, tiba-tiba saja warnet tersebut mati lampu.

“Yaaaaaaahhhhhhhhhh......!!!!!” Keluh semua pengunjung dengan nada yang cukup keras. Saat itu ada yang sedang main game online, dan ada juga yang sedang mengerjakan tugas sepertiku. Aku sendiri pun sangat kesal karena data-data yang sudah kutemukan dan kutaruh di Ms Word belum ku-save! Huaaaa....!!!

“Sabar ya semuanya.... Biasanya PLN bakal hidupin sejam lagi kok.” Kata pemilik warnet. Aku dan beberapa orang akhirnya menunggu sampai hidup, namun juga ada yang memutuskan untuk pulang.

Karena saat itu juga aku belum makan malam, aku sempatkan untuk memesan mie goreng pada pemilik warnet sekalian aqua botolnya. Aku benar-benar kelaparan sekali waktu itu. Beberapa orang pun ikut-ikutan.

...

“Kok lu malah jadi ceritain kejadian di warnet sihh.... Mana si Aprilnya??” Tanya Billy yang tak sabaran.

“Tenang-tenang, sekarang baru dimulai....” Jawabku tersenyum.

...

“Mie-nya dik....” Kata Mbak Suri, pembantu dari pemilik warnet tersebut.

Saat aku melihat mie pesananku, aku cukup terkejut.  “Loh mbak, kok mie rebus?? Saya kan pesannya mie goreng.”

Mbaknya kebingungan. “Tadi kan dipesanannya ditulis mie rebus dik. Nama adik April kan??”

“Iya mbak, nama saya April. Tapi saya pesannya mie goreng loh....”

“Mbaakkkk... kok mie goreng sih yang dibawain??” Tanya salah seorang perempuan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat pesanannya.

“Loh loh loh... tunggu ya. Biar mbak liat dulu daftarnya.”

Sembari menunggu Mbak Suri melihat daftar pesanan di ruangan yang cukup redup sampai-sampai ia memakai cahaya Handphone, aku sekilas menatapi sebentar perempuan yang juga salah diberikan pesanannya tersebut. Walau di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lilin, tapi aku bisa melihat rambutnya yang berwarna hitam keriting panjang, mukanya yang putih bersih, tidak seperti mukaku yang jerawatan karena masih mengalami pubertas yang dahsyat (ckck), lalu tubuhnya yang kurus dan tinggi, yang sepertinya tingginya tersebut hampir sama sepertiku, 160 Cm. Tak lupa juga, selain ia hanya memakai kaos pink polos dan celana bahan berwarna coklat sedengkul, ia juga memakai pita pink di kepalanya sehingga membuatnya menjadi terlihat tambah manis. Membuatku menjadi ingin memanggilnya “pinky girl” hahaha....

“Hmm....  Nama adik juga April ya?”

“Iya mbak, saya Aprilia. Tapi memang saya cuma bilang ke mbak nama saya April tadi waktu lagi pesan.”

“Waduh... nama adik ini...” Mbak Suri menunjukku. “... juga April loh. Hahaha... Maaf ya, mbak tidak liat nomor bangku kalian berdua. Jadi kalian berdua tertukar mie-nya.”

“Yasudah deh, nih mie-nya” Kata April kepadaku. Aku pun memberikan mie gorengnya sambil tersenyum sedikit.

“Maaf ya, kalau begitu mbak pergi dulu.”

Bersamaan dengan perginya Mbak Suri, lampu pun tiba-tiba hidup kembali, yang ternyata tak sampai sejam sesuai kata pemilik warnet ini. April sendiri langsung menuju ke bangkunya yang ada di pojokan dekat jendela.

Sambil menunggu loading dari komputer yang baru nyala dan juga sambil makan mie gorengku, sekilas dua kilas aku memalingkan diri melihat si pinky girl. Ia ternyata terlihat lebih cantik ketika lampu menyala, walau lucunya ada tahi lalat kecil di dagunya, yang mungkin menungguku untuk menyentuhnya suatu hari nanti hehe....

Saat itu hatiku memutuskan untuk menjadikan ia sebagai cinta pertamaku.... Tidakkk!!

...

“Hahahahahahaha.....!!!” Tawa Billy dengan cukup keras.

“Kenapa lu jadi heboh banget??”

“Cerita dodol ah. Hahaha.....”

“Dasar.... Yang penting tetap indah untuk gua.”

“Iye-iye.... hahaha....”

“Mau gua kasih tau ga perjalanan cinta gua ke dia? Jangan ketawa melulu dong....”

“Hahaha... oke-oke, semoga kaga dodol kayak tadi ya, yang nurut gua bisa lu masukin ke cerita untuk iklan indomie tuh. Hahaha...”

“Wei, mau denger ga?!”

“Iya, nih gua lagi denger....”

“Oke, jadi tuh sebenernya cuman sekali kami ketemunya waktu gua SMP....”

...

Saat itu adalah pertemuan yang terjadi hanya sekali waktu gua SMP. Ia tak bersekolah di sekolahku, dan aku sendiri tak tahu dimana ia tinggal. Sempat aku beberapa kali pergi ke warnet itu lagi pada malam harinya, dan bahkan pernah sekali seharian sampai habis lima puluh ribu rupiah untuk paket pagi sampai malam hanya untuk ingin melihatnya. Tapi memang sudah nasib, aku tak pernah bertemu lagi dengannya sampai akhirnya masuk SMA.

Dan disaat aku sudah lupa terhadapnya, Tuhan seakan sedang mempermainkanku. Karena tiba-tiba saja ia muncul kembali pada waktu aku kelas 2 SMA.

Awal masuk pelajaran baru, ia datang ke kelasku pada pagi harinya, dan membuatnya seakan menjadi artis. Soalnya setiap kemunculan wajah baru pasti akan selalu dipertanyakan oleh semua murid di sekolahku.

Ketika aku memandangnya, aku kaget sekali karena wajah baru itu adalah wajah yang sangat kusukai waktu kelas 3 SMP. Walau kini ia tak memakai pita pinknya lagi, tapi entah napa ada sesuatu yang naik di dadaku ini, seakan seperti meluncurnya sebuah kebahagiaan yang indah hingga ke dalam otakku.

Mungkin ini lah kesempatanku untuk berkenalan dengannya dan menjadi teman pertamanya di sekolah. Biar nantinya ia bisa terus bertanya-tanya kepadaku sampai lulus! Hahay....

Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dari kursiku dan berjalan ke arahnya. Dan waktu aku sedang berjalan mendekatinya yang duduk di kursi paling depan, yang juga adalah depan meja guru, yang paling tak mau diduduki semua murid kelasku, tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku makin lama-malah makin terasa tertahan untuk berjalan ke arahnya. Kakiku serasa makin sulit untuk berjalan walau memang terus berjalan ke kursinya, hingga akhirnya sampai-dengan bodohnya aku malah terus berjalan keluar kelas. Dodoooollll.....!!!

...

“Hahahaha....!! Lagi-lagi ngakak loh cerita dari lu ini. Hahahaha....!!!” Katanya sambil terus ketawa.

“Ya namanya juga gua lagi jadi sangat bloon-bloonnya waktu itu....”

...

Entah napa lidah ini kelu saat aku sudah ada di dekatnya. Aku pun tersadar kalau aku sangatlah pemalu untuk mendekati perempuan yang sangat kusukai sejak aku SMP. Benar-benar hal terbodoh yang pernah kurasakan selama ini!

Setelah beberapa menit kemudian aku terus bertengkar terhadap diriku sendiri di luar kelas, aku memutuskan untuk kembali masuk kelas. Dan sedihnya sudah banyak teman-temanku yang mendekati dan berkenalan dengannya.

Hhhh... memang kebodohanku ini telah membuat segalanya menjadi hancur.... Tapi tak apa deh, aku sangat senang dengan kehadirannya kembali di hadapanku yang pastinya setiap hari Senin sampai Jumat kami masih bisa terus bertemu. Dan pokoknya aku harus berkenalan dengannya nanti! Titik!!

Bersambung....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath