Cerpen: Gina di Dufan

Pagi hari, sekitar pukul 10, akhirnya aku beserta kawan-kawan dan para guru dari sekolahku tiba di suatu tempat yang sudah lama aku nantikan. Tempat ini adalah sebuah toko mainan yang memiliki banyak sekali game yang besar-besar. Apa lagi kalau bukan Dufan....

Hari Sabtu di Bulan Mei ini adalah hari terakhir aku akan bertemu dengan teman-teman SMP-ku. Ini adalah acara perpisahan yang sudah disepakati oleh para anak kelas sembilan dan orang tua mereka masing-masing. Walau ada beberapa anak yang sangat kecewa dengan keputusan yang ada, tapi untung lah masih lebih banyak anak dan orang tua yang lebih memilih Dufan sebagai tempat perpisahan untuk kami semua. Aku benar-benar menyukai keputusan akhir ini!

Setelah sekian lama aku bermimpi-mimpi ria untuk dapat cukup umur menaiki wahana yang seram-seram seperti Halilintar, Tornado, dan Kora-Kora, akhirnya hari ini semuanya itu dapat tergapaikan. Aku akan menghajar semuanya nanti! Hahaha....

“Kelas 3-2!” panggil wali kelasku dengan kencang. “Jangan mencar-mencar dulu ya! Sekarang kalian ke kelompok kalian masing-masing. Masih pada ingat kan?”

“Masih ibuuu....”jawab semua anak kelasku.

Untuk kali ini, tiap kelompok dibagi menjadi 10 dari 40 siswa, dan pastinya diberikan salah seorang guru di tiap kelompoknya untuk yang bertanggung jawab. Pembagiannya secara acak, tapi masih saja ada beberapa anak yang memohon-mohon untuk dapat berkelompok dengan orang-orang yang mereka mau, yang tentunya adalah teman-teman dari geng mereka masing-masing.

Sedangkan aku, terjebak diantara salah satu kelompok yang dimana mereka ini sudah sangat dekat, sehingga aku kemungkinan besar akan menjadi lebih pendiam nantinya. Namun bakal sama saja sih kalau aku masuk di kelompok yang lain juga, orang aku memang tak punya teman....

“Yahh... kenapa coba ada nih anak cupu di dalam kelompok kita?” kata salah seorang dari kelompokku. Perkataan yang memanglah menjadi makanan mereka sehari-hari, tanpa hati nurani-karena mereka memanglah binatang!

“Maklumlah... Namanya juga tak punya teman. Kerjaannya mojok terus mikir bokep. Hahaha....!”

Tiba-tiba semuanya tertawa. Dan aku seperti biasanya, hanya diam saja tak berdaya, walau rasanya ingin sekali merobek mulut mereka satu-persatu pakai capitan rambut ibuku yang biasanya digunakan untuk meluruskan rambut.

“Waduh-waduh... lagi pada ketawain apa ini anak-anak...?” tanya Ibu Yanti, seorang wanita tua aneh yang kira-kira sudah berumur 50 tahun dan siap-siap akan menjaga kami serta pastinya bakal kembali dipermainkan oleh anak-anak. Apalagi kali ini ia memakai topi bundar yang lebar, pasti akan disembunyikan oleh anak-anak seperti sepatu ber-hak tingginya minggu lalu.

 “Lagi ketawain Sandi nih bu. Dia tadi katanya ingin berak.” Jawab salah satu mereka sambil cekikikan.

“Beneran Sandi, kamu ingin ke kamar mandi sekarang?”

“Enggak Bu.... Mereka bohong....” kataku menunduk.

“Dasar kalian yah.... Tak boleh bercanda kayak gitu. Nanti teman kalian kan jadi malu....”

“Dia mah gak punya kemaluan bu! Hahahaha....!!!”

Semuanya tertawa terbahak-bahak kembali.

“Hush! Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita langsung cari permainan saja ya. Kelompok lain sudah meninggalkan kita nih....”

“Main Halilintar dulu bu!”

“Iya bu... Halilintar aja duluan yuk....”

“Yasudah, sekarang kita kesana ya....”

Akhirnya kelompokku akan jalan juga ke salah satu wahana. Dan senangnya, wahana tersebut memang lah yang benar-benar ingin aku pertama kali naiki. Rasanya hati ini terus bergetar... Asyik!

“Sandi, gua minta air dong. Haus nih.” Kata Norman yang dari tadi memang sudah meminta minum kemana-mana tapi tak ada yang mau kasih.”

“Botol air gua kan kecil....” kataku polos dan tak lupa sambil menunduk kembali.

“Bawel ya lu! Gua emangnya mau habisin apa! Lu mau gua panggil pelit terus-terusan ya?!”

“Eh iyaa... ya sudah nih. Tapi jangan dihabisin ya....” Akhirnya aku memberikan botol air ku yang Cuma 20 liter saja. Aku benar-benar tak mau dipanggil dengan kata-kata seperti itu terus-terusan. Membuat kupingku sakit rasanya. Hhhh....

Seteguk, dua teguk, tiga teguk, hingga sampai setengah botol ia minum air minumku. Kemudian ia berhenti dan mengelap mulutnya, lalu berbuat hal yang sangat lah tak tau diri.

“Nih ambil! Hahaha....!!” Tiba-tiba ia lempar begitu saja botol minumku. Cukup jauh karena ia melemparnya dengan kencang ke depan. Aku pun mengejarnya.

Botol minumku ini seakan seperti sedang bermain polisi maling denganku. Terus saja menggelinding yang memang disebabkan karena jalanannya yang cukup miring ke bawah. Tanganku yang sudah menjulur ingin meraihnya saja benar-benar tak sampai-sampai juga .... Hhhh....

Hingga akhirnya botolku itu berhenti di depan tumpuan sepatu seseorang. Yang dimana orang tersebut langsung mengambilnya.


“Ini punyamu?” tanyanya. Orang ini ternyata adalah seorang perempuan yang manis ketika aku menatapnya sekilas. Saat mata besarnya melihatku, kepalaku pun cepat-cepat menunduk. Aku sangat takut kalau ia sampai menyihirku dengan matanya itu, atau mungkin memang sudah ya??

“Iya...” kataku malu.

“Nih...” Ia pun memberikan botolku tersebut. “Jangan sampai jatuh lagi yah botolnya” katanya sambil tersenyum. Aku meliriknya sekilas lagi.

“Makasih.” Kemudian aku balik badan dan lari.

Aku lari sekencang-kencangnya hingga menemukan sebuah toko kecil-menjual minuman-dan aku bersembunyi di baliknya. Lalu aku mencoba mengintip, untuk melihat terakhir kalinya perempuan yang seperti bidadari tadi.

Wow.... Tubuhnya ternyata putih dan memiliki tinggi sepertiku, rambutnya pun berwarna hitam keriting-diikat menjadi buntut kuda. Kaos putih dan rok panjangnya seakan memperlihatkan dirinya yang begitu simple dan polos. Oh Tuhan, aku ingin bertemu dengannya lagi....

Hahaha... penakut sepertiku sih cuma bisa bermimpi dah.

Setelah akhirnya perempuan itu sudah pergi menjauh hingga tak kelihatan lagi dari pandanganku, segera aku kembali ke tempat kelompokku. Dan sayangnya aku terlambat. Sebuah hal yang paling aku takut-takuti pun terjadi. Aku ditinggal!!!!!!!
...
 Bersambung....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath