Cerpen: Gina di Dufan (2)

Aku tak menyangka kalau mimpi buruk terbesarku malah kejadian di tempat seperti ini. Di tempat yang begitu luas dan dikerumuni oleh banyak orang. Jantungku serasa ingin meledak-ledak dengan keringat dingin yang terus bercucuran keluar. Dimana semua itu akhirnya membuat tubuhku menjadi lemas, hingga aku pun memutuskan duduk di pinggiran jalan depan wahana Kora-Kora.
Ketakutan sungguh menyelimutiku sekarang. Pikiranku acak adul tak tahu harus berbuat apa dengan terus berpikiran negatif. Apakah aku bisa pulang ke rumah?? Apakah aku akan menjadi anak hilang yang segera menjadi pengemis di jalanan?? Apakah aku akan dibunuh??
Oh Tuhan........ aku memang tak punya teman, tapi aku tak ingin berada di tempat dimana tak ada orang-orang yang kukenall..........
Tiba-tiba air mataku mulai keluar. Hidungku yang mulai memanas akhirnya mengeluarkan cairan getah beningnya. Makin lama makin tak tertahankan untuk pita suaraku mengeluarkan desiran suara yang terdengar suka terhambat-hambat. Aku menangis lirih, namun sambil menunduk menaruh kepalaku di atas kedua kaki dan tanganku, karena malu jika dilihat oleh banyak orang.
“Halo” Tiba-tiba suara yang tak asing di telingaku terdengar sangat dekat. Apakah aku harus menyahutinya?? Tapi aku malu sekali jika orang tersebut melihatku yang sedang menangis ini. Laki-laki seperti apa aku??
“Laki-laki seperti apa kamu?!” cetusnya dengan nada yang cukup kencang. “Masa ada laki-laki yang menangis di tempat seperti ini?! Kayak anak kecil aja!”
“Pergi saja kamuu....” Kataku yang masih tetap menunduk dan menangis.
Dengan cepat, tiba-tiba aku terkejut karena tangan kananku dipegangnya dengan kencang dan menarikku untuk berdiri.
“Hey, kamu mau apaa??” Tanyaku sambil tetap menunduk dan menutupi mataku dengan tangan biar tak ada orang yang melihat sesosok muka yang sedang hancur ini.
“Ikut aku!”
Ternyata tenaganya kuat sekali. Aku seakan tak berdaya saat ia menarikku dan membawaku pergi ke suatu tempat.
...
“Sudah, jangan tutupi mukamu lagi. Sekarang sudah tak ada orang di tempat ini.”
Perlahan kulepas tanganku dari mukaku, dan mulai melihat ke sekeliling walau masih agak buram karena aku agak lama menutup mataku yang sedang berair ini dengan kencang.
“Dimana ini?”
“Kita ada di dalam Istana Boneka. Sekarang kamu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”
Ow wow.....! Aku terkejut  saat mataku mulai jelas melihat. Ada banyak sekali boneka besar yang bergerak-gerak di dalam sebuah ruangan yang redup dan dingin, yang juga diiringi dengan lagu khas istana boneka. Di depanku pun bisa kulihat sebuah rel kereta api yang terendam air, yang aku tahu untuk nantinya akan dilewati oleh perahu-perahu. Tapi aku tak di atas perahunya. Aku ada di pijakan tempat boneka-boneka itu tertempel. Bagaimana bisa??
“Kalau kau heran, kau bisa lihat di belakang kita. Ada pintu  yang dapat membuat kita masuk ke dalam sini.”
“Bu-bukannyaa terkunci??”
“Aku anak dari salah satu pekerja disini. Aku mempunyai kunci duplikatnya....” Jelasnya sambil men-silangkan kedua tangannya. Sedangkan aku masih malu-malu untuk berbicara padanya. “Oke, kamu kenapa tadi menangis?”
“Aku ditinggal oleh kelompokkuu.... Dan sekarang aku tak bisa pulannggg....!! Aku akan menjadi anak hilangg.... huaaa....!!” jawabku yang akhirnya kembali menangis. Aku sungguh sedih ketika mengingat aku akan sendirian, berada jauh dari rumah....
“Berhenti menangis! Temukan solusinya, jangan malah pake acara kayak anak kecil!” tegasnya padaku diikuti dengan pukulan kerasnya ke bahuku. Aku menjadi terdiam sesaat.
“Tolong akuu....”
“Hmm... ya sudah, ayo kita ke pos polisi sekarang.”
Saat ia memegang tanganku dan mau membawaku keluar, tiba-tiba aku kepikiran sesuatu.Apa jadinya jika teman-temanku tahu kalau aku tersesat disini? Aku yang sudah 3 SMP akan merasa malu sekali jika mereka nantinya akan mengenangku sebagai anak yang hilang di Dufan!
“Tunggu-tungguuu....”
“Ada apa?”
“Aku tak mau. Aku tak mau ke pos polisi....”
“Kenapa memangnya?”
“Aku tak mau kalau teman-temanku tahu kalau aku sedang tersesat sekarang. Mereka saja dari tadi tak ada yang mencariku di tempat dimana aku ditinggalkan oleh mereka.”
“Hmmm... jadi kamu maunya apa sekarang?”
“Aku juga tak tahu....”
Keadaan menjadi hening sekarang. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu sambil membelakangiku. Perempuan putih manis, berambut hitam panjang ikal yang diikat buntut kuda, yang telah mengambil botol minumanku ketika dilempar oleh temanku beberapa puluh menit yang lalu ini, seperti sedang mencari akal untukku. Terlihat dari caranya yang terus berjalan pelan-pelan dan melihat ke segala arah.
“Hey!” panggilnya, tapi aku kembali menunduk. “Aku akan membantumu menemukan kelompokmu itu. Tapi sekarang, kamu harus menemaniku selama beberapa jam!”
“Maksudmu??”
“Aku akan menjadi tour guide-mu. Ikut aku kemanapun aku pergi.”
Aku berpikir sesaat. Baru kali ini aku akan berjalan dengan seorang perempuan. Aku benar-benar kebingungan, apalagi aku itu lebih grogi ketika akan sedang bersama manusia berambut panjang seperti ini. Tapi akhirnya keputusan pun aku ambil, memperhitungkan keuntungan yang kudapat, yaitu aku bisa menemukan kelompokku dan aku bisa kencan untuk pertama kalinya disini.
“Aku ikut....”
“Baiklah! Tapi ada beberapa peraturan yang harus kamu patuhi!”
“Ya?”
“Pertama, jangan menunduk terus! Kamu harus melihat mukaku ketika kita sedang berbicara!”
Aku terkejut ketika mendengar peraturan pertamanya itu. Namun aku berusaha untuk mengikutinya. Rasanya sungguh aneh waktu kucoba mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya yang memang begitu manis. Agak gemetaran pastinya... tapi aku akan mematuhinya.
“Bagus.... Kedua, jangan menangis seperti tadi lagi!”
“Hmm... bagaimana kalau beberapa tetes saja??”
"Jangan! Pokoknya jangan menangis deh....!"
"Oke-oke...."
Setelah kesepakatan yang kedua dan terakhir tersebut, kami berdua pun entah napa menjadi sama-sama tersenyum. Dan ia mulai menjulurkan tangan kanannya ke aku, menandakan kalau ia ingin bersalaman.
“Aku Gina.”
“Aku Sandi....” Balasku dengan keadaan diri yang lebih tenang sekarang, sekaligus sedikit tak sabaran sebab aku telah memandang sebuah petualangan seru yang masih misteri, bersama Gina di Dufan.
...
Bersambung....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath