Cerpen: Apalah Arti Menunggu

“Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggumu disini sampai kamu mau menerima cintaku!!”tegas Ryan saat aku menolaknya dengan kasar di depan rumahku. 


Entah mengapa tiba-tiba saja malam ini ia nekad me-nembak-ku, padahal di hari-hari sebelumnya aku sudah memberikan banyak tanda kalau aku tak suka padanya.


“Tunggu aja sana sampe bego!”kasarku padanya, lalu aku masuk dan menutup pintu dengan kencang.


“Aku serius Vina!!” teriaknya yang makin keras karena aku sudah masuk. “ Aku akan diam disini walau harus sampai besok!”


 Dengan muka tak peduli dan sambil berjalan menuju ke kamar, aku hanya berkata,”BODO AMAT!” kepadanya.


...


“Kasihan dia Ci....”celoteh adikku saat kami berdua sedang ada di lantai dua kamarku,”Ko Ryan sudah menunggu selama tiga jam dan sekarang dia lagi duduk-duduk di halaman rumah kita. Kayaknya sih dia juga lagi kegatalan karena nyamuk.”


“Ih bodo amat. Siapa suruh sok kayak di sinetron-sinetron gitu. Udah tau gua gak suka, masih aja nekad.”


“Lagian kok cici ga suka si. Dia kan ganteng, putih, terus cowok idaman di SMA kita lagi.” Ya, memang benar kata adikku yang umurnya setahun di bawahku ini. Si Ryan memang lah tampan, tapi sayangnya dia bukan seleraku.


Di kelas tiga SMA ini, aku benar-benar ingin belajar buat UN. Aku sudah tak mau pacaran lagi karena memang akan membuat nilai-nilaiku menjadi anjlok. Sungguh punya pacar itu tak dapat mendukungku sama sekali untuk belajar. Walau mungkin kadang aku berpikir, jika bisa berpacaran dengan Ryan ini akan membuat aku seakan menjadi Ratu SMA yang Wah banget! Tapi bodo amat deh.... Sudah cukup aku berpacaran sama cowok-cowok yang tak aku suka.


...


Tengah malam akhirnya tiba. Aku sudah terbaring lemah di kasurku yang empuk dan hangat. Tapi tiba-tiba saja muncul dentingan-dentingan musik yang menghancurkan suasana nyamanku.


“Dirimuu di hatikuu.. Tak lekang oleh... waktuu... Meski kau bukan milikkuuu.... huoo...”


“Gila nih cowo ya!”kataku sambil beranjak dari tempat tidurku lalu melihat Ryan yang sedang bernyanyi dengan gitarnya di balik jendela. Bagus juga sih suaranya, hampir sama seperti Sammy. Tapi sayangnya tak membuat hatiku tersentuh sekalipun!


Dengan cepat aku mengambil salah satu boneka Teddy Bear yang besar berwarna coklat, dan langsung saja aku lempar ke kepalanya.


“Adohhh..!!!”teriaknya terjatuh. Gagang gitarnya pun terlihat patah.


“Emang enak! Hahaha... mangkanya jangan berisik tengah malem! begini Sakit kann....”


Sambil tangan kanannya mengelus-eluskan kepalanya, dia berkata lirih,”sakit seperti ini... sama sekali tak dapat mengalahkan sakit... saat aku menunggu balasan cintamu selama ini Vin...”


“Ihh najiss!” Setelah itu aku membuang mukaku dan kembali ke kasurku yang empuk. Lalu berusaha tidur dengan cepat. Melupakan orang bodoh yang ada di bawah sana.


...


“Drrrsssshhhh....”


Suara desiran hujan yang begitu kencang mulai terdengar di telingaku. Awal tahun baru di tahun 2012 ini memang hujan sering turun. Aku tak menyangka kalau pas-pas-an sekali hujan yang ditemani oleh petir-petir ini turun disaat Ryan yang bodoh sedang melakukan tindakan nekad di bawah sana.


Gila, akhirnya menjadi percis seperti di sinetron-sinetron dah. Dan mungkin selanjutnya aku akan beranjak dari tempat tidurku, lalu melihatnya di balik jendela. Kemudian aku terenyuh hingga mengeluarkan air mata yang menandakan kalau aku mulai mencintainya....


Tidaaakkkk!!!! Aku tak mau melihatnya! Aku akan tidur sekaranggg!! Pokoknya tidurrr!!!


“Duk duk duk” tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuatku kaget.


“Masuukkk!”


“Ci, Ko Ryan lagi hujan-hujanan tuh di depan!”serunya.


“Terus kenapa?!”


“Masukin aja yuk ci ke dalam rumah. Kasian kan entar bisa sakit dia.”


“Jangan! Biarin aja. Itu kan resiko dia nekad ngelakuin hal gila kayak begitu.”


“Duh, coba deh cici liat dulu dari jendela. Dia keliatan sangat menggigil sambil meluk boneka teddy bear yang cici lempar ke dia tadi.”


“Ah bodo amat dehh.... Udah, lebih baik kamu keluar ya dari kamar cici. Sekarang cici mau tidur.”


“Cici jahat!”katanya. Lalu ia keluar dari kamarku dan menutup pintu dengan keras.


Dasar adik yang sok perhatian banget. Padahal selama ini dia yang jahat kepadaku. Bahkan kadang aku benar-benar sangat membencinya. Tapi apadaya, dia tetap adik kandungku. Terserah hidupnya mau melakukan apa....


...


Esok harinya. Aku terbangun dengan segar. Hujan besar semalam pun sudah berhenti, menyisakan embun pagi yang begitu sejuk saat aku membuka jendela. Yaa... walau yang sebenarnya sih malah membuatku makin sangat menggigil oleh karena AC kamarku yang masih belum aku matikan.


Tapi yang terpenting, saat aku melihat ke halaman rumahku, ternyata si bodoh itu sudah tak ada loh.... Hahaha... Ia akhirnya sadar dan pulang juga. Memang dasar dodol. 


“Lalala... kau begitu bodohh... dan tak sempurna untukkuuu....”nyanyiku sambil menuju ke lantai bawah untuk mencari santapan pagi hari. Namun tiba-tiba aku tersentak sambil melotot, “Wowww!!!”


“Vinn....”suaranya terdengar hampir habis diikuti oleh mukanya yang pucat dan bibirnya yang kering. Ryan yang sakit sedang tiduran di sofa ruang tamuku. Aku kaget sekali saat melihatnya.


“Kok?!”


“Dia aku paksa masuk ke dalam ci tadi sebelum cici bangun.”jelas adikku sambil membawa segelas susu putih dan sepiring roti gandum. Yang lalu ia menaruhnya di meja dan menatapku tajam-tajam. “Sekarang aku biarin cc berdua aja ya sama dia.”


Aku tahu maksud dari tatapan adikku yang melihatku seakan ingin menerkamku jika aku tak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan tersembunyinya tersebut. Perasaanku sekarang benar-benar bercampur-aduk. Saat aku melihat Ryan juga, seakan tembok tebal dan tinggi yang sudah lama aku bangun menjadi runtuh seketika. Ada apa ini???


“Vinn.. uhuk-uhuk....”panggilnya ketika aku masih berdiri saja tak tahu harus gimana.


Kemudian aku memutuskan duduk di kursi sebelah kursi panjang dimana Ryan tidur. Aku duduk di dekat kepalanya.


“Ya Ryan....”


“Akuu... aku ingin minta maaf sama kamu sebelumnya. Karena aku... sampai nekad seperti ini dan membuat kamu menjadi risih terhadapku. Aku cuma... jujur-tak tahu lagi harus bagaimana untuk dapetin cinta kamu....”


Mungkin sekarang kamu sudah berhasil Ryan.... Hhhh...... aku bilang sama dia apa tidak ya....?


“Kamu kok diam aja Vin.... Kalau kamu marah sama aku, sekarang lebih baik aku benar-benar pergi dan tak ganggu kamu lagi....”


Dengan terenta-renta ia berusaha untuk berdiri, hingga akhirnya sebelum ia berdiri aku langsung cepat-cepat berdiri duluan dan memegang kedua pundaknya. “Ryan... kamu tiduran lagi aja ya....” Dengan halus, aku membuatnya menjadi tiduran kembali. Namun kali ini ia tidur di pangkuanku, yang akan memberikannya kesenangan seketika di dalam ke-pria-annya.


“Hari ini kamu disini saja ya Ryan. Aku akan merawat kamu....”


“Hah?! Maksudmuu... aku sudah berhasil????”tanyanya penuh harap.


“Ya mungkinn.... Kita lihat saja berikutnya gimana ya.”kataku sambil tersenyum dan memegang kepalanya yang begitu panas. 


“Huaaaa.....!! Akhirrrnyyaaaaa....!!!!!”teriaknya gembira.


“Sudah-sudah, nih kamu minum dulu ya susunya”


“Kamu ambilin dulu dong gitarku yang ada di belakang kasur. Aku ingin mainin satu lagu buat kamu....”


“Hahaha... kan udah ruu...”aku tersentak dan melotot. Saat aku melihat ke belakang kursi, tiba-tiba aku melihat sebuah benda yang seakan masih baru. Gagangnya tertempel rapi, bahkan seakan barang yang baru dibeli. Begitu bersih, sehingga warna coklat mudanya terlihat masih mengkilat. Ada apa ini?!


Lalu dengan cepat, Ryan bangun dan mengambil gitar tersebut. Dan diikuti dengan sebuah senyuman, ia memetik dan bernyanyi....


Telah lama aku bertahan
demi cinta wujudkan sebuah harapan
namun ku rasa cukup ku menunggu
semua rasa kan hilang


sekarang aku tersadar
cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
apalah arti aku menunggu
bila kamu memang tak cinta


dahulu kaulah segalanya
dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
namun sekarang aku mengerti
tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu


sekarang aku tersadar
cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
apalah arti aku menunggu
bila kamu memang tak cinta


....


Di pagi hari yang dingin ditemani oleh embun putih samar-samar, aku terbangun dari bunga mimpiku. Dengan muka murung tak bersemangat, aku melihat halaman rumahku di balik jendela. 


Lagi, aku memandang sepasang kekasih yang sedang duduk bergembira di bawah sana. Yang perempuan sedang melantunkan lagu dengan suara merdunya, dan yang pria mengikutinya sambil memetikkan senar gitar coklat mudanya. Mempersatukan suatu melodi nan indah, dengan mata saling menatap-penuh kebahagiaan dan cinta....


Memandang mereka ini hanya membuat hatiku sekarat tak bersyukur tiap harinya. Namun sekarang sebuah keputusan yang dapat mengubah segalanya akan segera kuambil.... 


“Apalah arti menunggu.... bila kamu memang tak cinta padaku, Ryan....”kataku dengan lirih walau liriknya sedikit ku-ubah. 


Berbahagialah dengan adikku.... Selamat tinggal....

....

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath