Tentang Film "Melancholia"

Baiklah, sekarang gua akan menulis kembali setelah tujuh hari gua sia-siakan segala inspirasi yang seharusnya sudah gua masukkan ke dalam blog tercinta ini kemarin-kemarin itu ckckck. Dan kali ini gua akan me-review sebuah film yang cukup fenomenal karena penghargaannya dan juga kontroversi yang dibuat oleh sutradaranya.

Here it is....


"Melancholia" adalah sebuah film yang menceritakan tentang sepasang kakak adik yang sedang siap-siap menghadapi yang namanya ancaman dari akhir dunia. Dan untuk akhir dunia versi sutradara Lars Von Trier ini, kita akan melihat kalau kehidupan di bumi akan berakhir oleh karena sebuah planet yang besar, bernama Melancholia, yang sedang siap-siap akan menabrak bumi. Namun uniknya, alur dari film ini seakan dibuat cukup cantik, sehingga dapat memanjakan mata, memutar otak dan pastinya-mengkerutkan hati. Khususnya adalah awal mulai film ini, yang menampilkan beberapa potret sebuah seni slow motion yang sangat indah tentang detik-detik akhir dunia.

Untuk bab pertama, film ini memberikan sekilas kehidupan dari seorang tokoh bernama Justine (Kirsten Dunst) yang cukup kelam saat dirinya sedang menghadapi pesta pernikahannya di rumah besar nan mewah milik kakaknya, Claire (Charlotte Gainsbourg) dan suaminya, John (Kiefer Sutherland).

Mungkin setiap orang yang melihat adegan pertamanya akan mengira kalau pernikahan Justine ini akan berjalan baik-baik saja. Ia akan bahagia dan memiliki keturunan yang cantik dan manis. Tapi sangat disayangkan, setelah adegan-adegan yang berikutnya, ternyata Justine sama sekali tak bahagia. Ia terus memakai topeng dengan selalu tersenyum pada banyak orang, bahkan pada suaminya sendiri untuk menutupi penyakit depresinya. Dan menyedihkannya, pada malam pertama mereka berdua ini-Justine lebih memilih untuk menolak suaminya dan "bermain" dengan laki-laki lain di sebuah lapangan golf yang sepi. Akhir cerita,  walau suaminya tak tahu akan perlakuan hina istrinya tersebut, ia tersadar kalau Justine sama sekali tak mencintainya, dan ia pun pergi pulang ke rumahnya, sedangkan Justine tinggal menetap di rumah kakaknya itu.


Itu adalah kejadian yang ada di bab pertama, dimana pada waktu itu juga planet Melancholia baru mulai menampakkan dirinya walau masih terlihat sangat kecil seperti bintang-bintang lainnya, namun memiliki warna yang berbeda dari yang lainnya.

Bab berikutnya sekaligus yang terakhir adalah kisah dari Claire beserta hari kiamatnya itu sendiri. 

Claire adalah seorang ibu yang begitu hangat dan penyabar. Hal ini dapat dilihat dari saat ia sedang merawat anaknya, Leo, bahkan adiknya, Justine, yang tiba-tiba harus tinggal menetap di rumahnya karena keadaannya yang sudah sangat kacau. Namun Claire ini juga adalah seorang wanita yang sangat paranoid. Ia sangat ketakutan bahkan kadang sampai sulit bernafas saat mengetahui kalau Planet biru tersebut makin mendekati bumi.



Pernah ada kejadian pada waktu malam hari, saat para ahli planet mengatakan kalau Planet Melancholia akan segera menjauh dari bumi. Yang membuat Claire beserta suami, anak dan adiknya menjadi berkumpul di teras rumahnya untuk melihat hal tersebut. Saat itu ternyata memang benar, Planet tersebut terlihat menjauh dari bumi dan melegakan hati seluruh umat manusia. Tapi keesokan harinya, suaminya yang adalah seorang ahli planet juga menjadi terkejut ketika sedang meneliti planet tersebut dengan menggunakan teleskop. Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, ia tiba-tiba menghilang atau pergi entah kemana, meninggalkan istri dan anaknya. Claire pun saat mengetahui kalau suaminya sudah menghilang, menjadi shock dan sangat penasaran, kenapa? Dan saat ia mencoba mengetahui kembali apakah planet biru itu masih menjauhi bumi dengan menggunakan suatu alat khusus, alhasil ketakutannya makin menjadi-jadi. Planet tersebut tiba-tiba malah makin mendekati bumi.

Planet ini seakan sedang menari-nari, mengerjai siapapun yang melihatnya, yang intinya tetap berujung membunuh seluruh kehidupan yang ada di bumi. Benar-benar memilukan....


Di adegan terakhir, dengan sangat berani dan siap menghadapi klimaks dari akhir kehidupan, Justine dengan kuat mencoba menenangkan ketakutannya Claire akan kematian. Dan untuk anaknya Claire yang masih kecil, ia justru memberikan sebuah dongeng dengan berkata,"masih ada pintu ajaib". Lalu dengan semangat terakhir, Justine dan Leo memutuskan untuk membuat sebuah ruangan kerucut dari beberapa kayu panjang di halaman depan rumah Claire yang luas. Setelah itu mereka bertiga saling berpegangan tangan dan menunggu sinar kebiruan yang makin lama makin membesar dan membuat segalanya menjadi abu tak berguna di lautan angkasa.

....


Dari beberapa website yang gua lihat, banyak yang bilang kalau film ini adalah film yang paling sopan buatan dari Sutradara Lars Von Trier. Karena di film-filmnya yang sebelumnya, seperti AntiChrist dan Dancer in the Dark, ada banyak sekali adegan yang keji dan dapat membuat mata menjadi sakit. Namun walau dikatakan sebagai film yang paling sopan dan sudah cukup banyak mendapatkan penghargaan, ternyata sang surtradara ini masih membuat sebuah kontroversi yang tak bisa dilupakan oleh para penyelenggara Festival Film Cannes.

Ia dengan santainya memberikan kata-kata sekaligus candaan kalau ia adalah pengagum dan pendukung Hitler beserta nazinya. Yang akhirnya membuat banyak pihak yang menjadi tersinggung dan malah memberikan status "Persona Non Grata" padanya yang berarti "seseorang yang tidak diinginkan". Sungguh disesalkan sekali tindakannya tersebut....


Selain itu tak lupa untuk kemenangan yang diraih oleh Kirsten Dunst sebagai aktris terbaik di Cannes. Mantan pacar Peter Parker dalam Film Spiderman trilogy ini, untuk film barunya-ia benar-benar telah menunjukkan kemampuannya berakting. Ia bahkan berani menunjukkan tubuh polosnya di film ini yang ditampilkan dengan sinematografi yang cantik.


Selamat atas kontroversi dan kesuksesannya ya!!
^^
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath