Tentang Film "Real Steel"

Ternyata lama kelamaan gua memang akan lupa tentang apa saja yang bakal gua tulis di blog tercinta gua ini. Ini lah akibatnya jika gua malas untuk menulis sesuatu dimana ide-nya itu sudah benar-benar mantap di dalam otak. Ckckck....

Namun sekarang atau hari ini gua akan memberikan empat post sekaligus. Gua akan menuliskan empat cerita dari sekian banyaknya cerita yang telah terlupakan. 

Dan ini lah post gua yang pertama: *JENG GRENJENGG!!*

Hari Kamis kemarin adalah hari yang cukup memusingkan dan menyenangkan untuk gua. 

Pusingnya, gua habis mengerjakan UTS yang dimana soal-soalnya itu sama sekali belum pernah dibahas di dalam kelas!! Untungnya 30 menit sebelum UTS dimulai gua bisa belajar dahulu dengan cepat, tapi tetaplah banyak jawaban dari gua adalah mengarang indah. Benar-benar membuat gua pasrah akan mendapatkan nilai berapa nanti UTS di semester 3 ini.... :(

Dan untuk menyenangkannya, setelah UTS selesai, gua akhirnya bisa pergi bersama teman-teman gua semasa di semester 2 kembali. Leo, Gustaf, Julian, Kevin, Budi, Angga, dan Robin lah untuk yang kemarin pergi bersama gua. Kami memutuskan untuk nonton di bioskop dan makan bubur di Ta Wan.

Sayangnya gua tak akan membahas lebih detail tentang kepergian kami. Tapi gua akan menceritakan film yang kemarin kami tonton. Soalnya film ini sudah mengambil hati gua, sehingga gua benar-benar ingin menuliskannya di dalam blog tercinta gua ini.... ^^

"Real Steel"

Pada tahun 2020 ternyata pertandingan tinju antar sesama manusia sudah tiada di bumi ini. Karena banyak orang menginginkan yang lebih ekstrim, ganas, dan seru-maka dibentuklah pertandingan tinju antar robot-robot besar yang terbuat dari baja yang kuat.

Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah salah seorang yang memiliki robot tersebut. Sejak ia pensiun dari pertandingan tinjunya, ia benar-benar memfokuskan dirinya untuk dapat memiliki robot yang kuat untuk bertarung di dalam ring. Bahkan sampai ia rela meninggalkan keluarganya selama 11 tahun lebih.

Sayangnya, kekalahan demi kekalahan terus ia rasakan. Hutang pun menumpuk hingga ia memiliki seorang musuh yang siap untuk membuatnya babak belur saat waktunya tiba.

Hingga muncul lah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, bernama Max (Dakota Goyo) yang ternyata adalah anaknya sendiri. Ibunya sudah meninggal, dan pengadilan sedang memutuskan siapakah yang akan memiliki hak asuhnya. 

Sewaktu Charlie tahu kalau bibi (adik dari mantan istrinya) sangat menginginkan anaknya itu, dan suaminya adalah orang kaya, ia pun mengambil kesempatan untuk dapat memerasnya. Ia rela memberikan hak asuhnya kepada bibinya Max kalau ia diberikan uang sebesar 100ribu dollar. Suaminya menyetujui hal tersebut dengan syarat Max harus Charlie rawat dahulu selama beberapa minggu karena mereka berdua akan pergi jalan-jalan.

Max bisa dibilang hampir memiliki sifat seperti ayahnya, yaitu keras kepala dan berani. Bahkan awal bertemunya ia dengan ayahnya itu, Max dengan beraninya berkata,"kau dibayar berapa?!" Saat itu Charlie dengan kesal menceritakan semuanya tanpa adanya rasa bersalah.

Hubungan ayah dan anak yang sudah lama tak bertemu selama 11 tahun ini cukup lah menegangkan seperti setiap pertandingan tinju antar robot yang sedang berlangsung.


Seperti pertandingan sewaktu anaknya tersebut datang di kehidupan Charlie. Dengan uang hasil menjualnya hak asuh Max, akhirnya Charlie berhasil membeli robot yang baru kembali. Nama robot ini adalah Noisy Boy, salah satu robot yang dibilang pernah memenangkan kejuaraan tinju antar robot beberapa tahun yang lalu. Bentuknya pun keren, seperti pendekar samurai di Jepang dengan banyak bahasa kanji di tubuhnya.

Namun sayangnya Charlie harus merasakan kekalahan kembali sewaktu ia memutuskan untuk melakukan pertandingan dengan lawan yang ia kira dapat ia menangkan. Anaknya sempat berkata di akhir pertandingan,"kau tak pernah berpikir sebelum bertindak!"


...

Sebenarnya film ini tak terlalu memfokuskan pada pertandingan antar robot. Tapi juga pada kisah antara ayah dan anak. Yang ternyata cukup mengharukan kalau kita menontonnya hingga habis.

Walau Charlie dan Max memiliki awal hubungan yang tak baik, tapi lama kelamaan ternyata mereka berdua akhirnya bisa menemukan suatu perasaan yang seharusnya dimiliki oleh ayah dan anak, yaitu kasih sayang.


Sejak kekalahan robotnya Charlie, malamnya itu Max berhasil menemukan sebuah robot yang terkubur di dalam tempat yang berisi banyak suku cadang robot. Nama Robot itu adalah Atom. Dan dimulai dari saat itu lah Charlie dan Max makin dekat.

Apalagi ternyata robot tersebut masih berfungsi setelah diperbaiki, dan bahkan mampu memenangkan banyak pertandingan. Mereka berdua pun makin saling mengenal dan sulit untuk dipisahkan.

Seperti pada kejadian sewaktu Charlie meminta bibinya Max kembali membawa anaknya itu pulang. Max merasa kesal pada Charlie dan berkata,"aku hanya ingin kau berjuang untukku." 

Charlie merasa tersentak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berubah dan ingin memperbaiki segalanya di keesokan harinya. Dan dengan datang ke rumah Max sambil membawa robotnya, Atom, ia berkata,"ya-aku ingin memperjuangkanmu. Dan kita berhasil mendapatkan pertandingan melawan Zeus!" Charlie yang sebelumnya masih merasa kesal langsung berubah menjadi gembira dan semangat kembali.

Zeus adalah robot terkuat yang tak pernah kalah di dalam setiap pertandingan. Dan Max sempat menantangnya ketika pemilik robot Zeus dengan sombongnya merendahkan Atom dan bahkan ingin membelinya untuk digunakan sebagai partner latihan Zeus. Diakhir sekuel, akhirnya tantangan tersebut diterima dan terjadilah pertandingan yang sangat menarik yang pernah ada.

Banyak yang mengira kalau Atom akan kalah di ronde pertama, tapi ternyata tidak! Ia masih tetap bertahan. Bahkan sampai di ronde ke dua, ketiga, dan keempat, ia masih bertahan walau keadaannya sudah cukup parah. Hingga akhirnya di ronde kelima, dengan mode peniru gerakan, robot tersebut meniru gerakan Charlie yang akhirnya menunjukkan kemampuan bertinjunya. Dan Zeus pun kewalahan sampai tenaganya habis. Lalu pukulan demi pukulan dari Atom terus mendarat di tubuh Zeus yang kuat.

Akhir cerita, tak ada dari kedua robot tersebut yang K.O. Tapi dengan perolehan skor yang sangat tipis membuat Zeus tetaplah yang menjadi pemenangnya. Namun ternyata semua penonton yang sudah terlarut dengan kekuatan dari Atom lebih memilih untuk menganggap kalau Atom lah yang memenangkan pertandingan tersebut. Semuanya bertepuk tangan untuk Atom, bukan untuk Zeus. Dan semua itu berkat hubungan antar ayah dan anak pemiliki robot tersebut yang akhirnya telah menemukan sesuatu yang paling berharga dan bernilai di dalam kehidupan mereka berdua.

....

Wow! Cukup panjang juga tulisan gua di post pertama ini. Semoga tak terlalu bosan ya kalian semua membacanya hehehe....


Terima kasih....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath