Tentang Film Lars and the Real Girl

Bulan Juni ini adalah Bulan yang paling ngebuat gua jadi merinding bukan main! Karena ada satu hari yang dimana gua akan merasa menjadi sangat sensitif ketimbang di hari-hari yang lainnya. Dan hanya terkabulnya sebuah harapan saja lah yang dapat menyembuhkan diri yang sedang dikuasai oleh emosi ini.

...

Paragraf awal barusan seharusnya dipakai untuk menyambungkan ke isi dimana gua akan bercerita tentang hari ulang tahun gua pada tanggal 4 Juni minggu lalu. Tapi tengah malam ini gua tak ingin mengisi blog gua dengan cerita yang paling unik tersebut (buat gua) dahulu. Melainkan gua akan bercerita tentang apa yang telah gua tonton tadi di laptop di kamar cc gua.

Yah, entah napa hari ini gua jadi ingin menonton film-film yang bernuansa roman. Film-film yang bisa membungakan hati dan membangkitkan emosi gua menjadi lebih dalam dari yang biasanya. Oleh karena itu, Video Ezy yang letaknya berada di dekat perapatan Tegal Alur, tempat gua biasa turun dari angkot dan naik ojek untuk pulang ke rumah, pun kembali gua masuki. Dan empat kaset langsung gua embat tanpa pikir panjang lagi.

Untuk film pertama, gua menonton film yang memiliki judul "Lars and the Real Girl". Sebuah film yang bisa gua bilang cukup manis dengan isi cerita yang sangat lah aneh.



Ada seorang pria yang bernama Lars (Ryan Gosling), dan ia bisa dikatakan termasuk ke dalam kalangan "anti sosial", sebab ia memiliki masa lalu yang buruk sampai-sampai disentuh oleh orang lain pun ia tak mau. Lalu pada suatu hari, ia tiba-tiba saja terkena delusi (ekspresi kepercayaan salah yang dimunculkan ke dalam kehidupan nyata). Menyebabkan sebuah boneka seks yang memiliki anatomi tubuh yang percis seperti wanita biasanya menjadi dibeli olehnya untuk dijadikan sebagai pacar.

Karin dan Gus yang adalah saudaranya dan tinggal di depan rumahnya pun langsung membawanya ke psikiater dengan berpura-pura kalau boneka seks-nya yang bernama Bianca tersebut yang akan dirawat. Di saat itu pun Lars mulai bersahabat dengan sang dokter, Dagmar (Patricia Clarkson) yang malah menganjurkan kedua saudaranya untuk membiarkan semua itu terjadi. 

Hebatnya, semua orang yang ada di kota turut membantunya dengan berpura-pura kalau Bianca itu memang ada. Karena ketika ada Bianca, Lars mulai berubah menjadi lebih terbuka dengan setiap orang. Mereka semua terus mendukungnya untuk bisa sembuh.

Disaat yang bersamaan, ternyata Lars juga menyukai seorang wanita nyata yang adalah teman sekerja di kantornya. Ia bernama Margo dan sebenarnya ia pun menyukai Lars sudah sejak lama. 

Dan dimulai lah kisah cinta yang manis di antara mereka berdua....

***

Lagi-lagi Ryan Gosling kembali memukau gua dengan aktingnya yang mantap. Kalau yang dulu ia sudah berhasil menjadi suami yang keras kepala dan suka marah-marah (Blue Valentine), dan untuk kali ini ia menjadi laki-laki single yang pendiam dan benar-benar terlihat terkena delusi. Bahkan sampai ada adegan dimana ia sangat sedih sampai mencium bibirnya Bianca yang terbuat dari plastik tersebut karena dikatakan kalau ia sudah mati (untuk Lars). Alhasil banyak penghargaan yang ia dapat dari aktingnya di film ini selain si penulisnya, Nancy Oliver, yang juga telah menjadi nominasi di ajang penghargaan OSCAR. ( http://www.imdb.com/title/tt0805564/awards )

Patricia Clarkson pun sangat memukau gua saat dirinya harus menjadi dokter yang siap untuk menjadi sahabatnya Lars. Begitu sangat terlihat kalau ia adalah seorang psikiater yang handal. 

Film yang melarutkan emosi ini memiliki beberapa makna untuk gua. Salah satunya adalah kalau sikap saling mendukung dari orang-orang yang ada di lingkungan sekitar itu memang sangat lah diperlukan. Seperti tetap memperlakukan seseorang yang terlihat aneh dengan normal. Dan hal tersebut pun benar-benar bisa menyembuhkan penyakit atau mungkin penderitaan seseorang!

^^

Terima kasih....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath