Banyaknya Rasa Berwisata Di Dufan....

Sudah seminggu rasanya-pilek dan bersin-bersin ini masih saja gua alami. Gua benar-benar berharap dapat segera sembuh dan bisa hidup bebas seperti burung merpati. Aminkan ya teman-teman semua yang membaca ini.... ^^

Oke, gua masih memiliki hutang berupa tiga kejadian yang harus gua masukkan ke dalam blog tercinta ini, dan sekarang gua ingin menceritakan tentang kejadian yang setting atau lokasinya ada di dalam Dufan. Dimana memiliki beberapa kisah menarik di dalamnya. Semoga kalian semua dapat membacanya sampai habis yaaa :)

Rabu, 4 Mei 2011, Gua dan beberapa teman seperjuangan gua di semester 2 ini, yaitu Gustav, Robin, Leo, Julian, dan Vincent, memutuskan untuk mencoba sesuatu yang seru, menakutkan, dan menegangkan di Dufan. 

Gua sendiri pun sangat excited saat pergi kesana dengan alasan, belum mencoba semua wahana yang dari dahulu pengen gua naiki. Dan Kora-kora atau perahu ayun adalah salah satu wahana tersebut. 



Pada hari tersebut, cuacanya mendukung sekali, yaitu panas membara! Benar-benar membuat gua selalu menutupi kepala dan leher gua dengan jaket karena saking menyengatnya matahari siang. Pengunjungnya pun ternyata lumayan banyak juga, padahal kami datangnya pada waktu lagi tak ada diskon. Ckckck....

Wahana pertama, kami menaiki "Halilintar", yang dimana ada salah seorang dari kami yang sangat takut untuk menaikinya. Yaitu Gustav. Walau memiliki badan besar, tapi ternyata pikirannya sudah memiliki banyak sekali asumsi negatif. Mungkin saja dia pernah nonton film "Final Destination 3" yang dimana memiliki sebuah kejadian berupa kecelakaan pada wahana tersebut. Hahaha... tapi nyatanya tak terjadi apa-apa saat itu. 

Namun sayangnya, dia kurang beruntung juga, karena pertama kalinya ia menaiki wahana tersebut yaitu pada saat ia duduk di kursi yang paling belakang. Padahal kan yang paling menakutkan itu adalah pada kursi yang paling bontot. Soalnya pada saat kereta mulai melintasi lintasan pertama yang menurun cukup tinggi, di kursi belakang lah yang akan mengalami rasa ngeri yang paling luar biasa karena akan sangat cepat saat melaju ke bawahnya. Jadi, jika ingin menaiki wahana ini, memang yang paling baik adalah di kursi paling depan. Coba saja....

Wahana kedua, "Ontang-Anting" lah yang kami naiki. Di wahana ini, si Leonardy memutuskan untuk tak menaikinya sebab trauma masa lalunya, yaitu menjadi pusing dan muntah sehabis menaikinya. Memang cukup bikin pusing juga sih, soalnya wahana ini bekerja dengan memutarkan semua bangku dalam jangka waktu yang tak sebentar juga.

"Swing swing swingg...." 



Setelah wahana tersebut akhirnya berhenti, beberapa dari kami memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah halaman dekat wahana tersebut, sebab kepala terasa cukup pusing. Sedangkan dua orang yang lainnya, yaitu Leo dan Julian malah menaiki wahana "Halilintar" lagi karena kata mereka berdua kalau wahana tersebut sangat seru. Mereka berdua pun mencoba untuk duduk di kursi yang paling depan, dan kenyataannya memang tak terlalu seram jika duduk di kursi itu.

Selanjutnya, setelah mereka berdua selesai menaiki wahana tersebut, kami semua memutuskan untuk ke wahana "Perang Bintang" yang menurut gua adalah wahana yang harus segera digusur karena mainannya cuman tembak-menembak banyak sinar kecil yang masih berwarna kuning hanya untuk mendapatkan score. Kami juga memainkannya dengan alasan ingin ngadem saja, soalnya memang tambah panas keadaan di luar.

Di wahana keempat, akhirnya "Histeria" lah yang kami naiki. Tapi hanya empat dari kami saja yang berani mencoba wahana baru tersebut, yaitu Gua, Leo, Julian, dan Vincent. Sedangkan Gustav dan Robin benar-benar sudah stuck saat melihat cara main dari wahana ini.

Awal masuk Dufan sih sebenarnya kami ingin menaiki wahana ini dahulu, tapi karena terlalu ramai antriannya, ya sudah deh, di delay. Tapi sewaktu kami berempat sudah berada di dalam antrian dan sebentar lagi akan menaikinya, hampir saja kami tak jadi lagi sebab kami melihat kalau wahana ini dimulai dengan sangat menyeramkan sekali. Bayangkan saja saat kalian sedang duduk, tiba-tiba saja mau tak mau harus ikut meluncur ke atas, seperti ke lantai 10, dengan cepat sekali!

Namun, kenyataannya ternyata tak semenakutkan itu. Waktu gua sudah duduk di wahana ini sih sebenarnya kaki gua sudah terasa lemas dan jantung gua terus saja berdegup cepat. Mata gua pun rasanya ingin gua tutup saja terus. Tapi "Wow!!" asik sekali!! Gua memutuskan untuk terus membuka mata dan benar-benar sangat menikmati cara main wahana tersebut. Walau harus merasakan ngilu juga sih di perut waktu turun ke bawahnya, yang bisa sampai buat kedua kaki gua jadi ikut melayang ke atas sambil teriak-teriak saking cepatnya. Yang pasti, jangan sampai orang yang naik itu adalah orang yang takut ketinggian deh. Tinggi banget soalnya! But over all-seru sekali! 

Habis itu kami memasuki rumah miring, rumah kaca, dan rumah makan.... Lanjut bernarsis-narsis ria....




Sedihnya, botol minum kami banyak yang habis, sehingga mau tak mau-jika tak ingin dehidrasi karena panas yang menyengat tersebut, kami harus membeli aqua botol yang memiliki harga goceng per botolnya. Hhh... memang harus siap-siap membawa botol ukuran paling besar jika ingin ke Dufan mah. 

Wahana kelima, kami menaiki "Ombang-Ombang", yang dimana lagi-lagi akan membuat kepala kami pusing karena cara mainnya ya putar-putaran lagi. Tapi kali ini lebih cepat dan lebih menakutkan(khusus yang duduk di dekat pagar ^^).

Dengan terus memaksa yang tak mau main wahana seperti ini, seperti Leo, akhirnya kami semua bisa bersama-sama merasakan gilanya wahana tersebut. 

Alhasil sih, setelah turun, ada salah seorang dari kami yang tak kuat, yaitu si Robin, dan memutuskan untuk muntah juga. Muntahnya pun terjadi sebanyak dua kali. Yang pertama.... hmmm... sepertinya tak usah gua ceritakan ya deskripsi muntahannya. Hahaha.... 

Yang pasti, kami semua jadi harus menemaninya beristirahat dahulu dalam jangka waktu kurang lebih setengah jam. Tapi ternyata tak berhenti sampai di situ deritanya, setelah ia akhirnya bisa bangun dan berjalan, ternyata di tengah perjalanan menuju ke wahana berikutnya, tiba-tiba saja kaki kirinya keram dan ia pun jatuh kesakitan. Semua ini terjadi karena katanya ia tak terbiasa terlalu banyak jalan. Kasihan sekali kau Robin... hehehe....

....

Setelah kakinya yang keram tersebut sudah betul kembali, kami pun lanjut jalan ke wahana yang dari dahulu ingin gua naiki, yaitu "Kora-Kora". Dan untuk wahana yang satu ini, gua benar-benar tak berani melihat sewaktu perahunya sedang meluncur ke bawah. Apalagi gua duduknya di barisan ketiga dari ujung. Rasanya itu badan gua hampir terangkat sewaktu posisi perahunya hampir mendekati 90 derajat. "Waaaaaaaa....!!!!"

Namun ternyata tak gua sendiri yang merasa ngeri sampai tangan gua menekan lengannya si Julian yang duduknya di sebelah gua, si Gustav dan Leo pun juga sama seperti gua. Malah mereka berdua sampai menaruh kepala mereka ke lengan sebelah kanan dan kiri mereka, yang sudah pasti si Vincent dan Julian. Kalau si Robin, yang duduknya paling ujung sih-gua tak tahu dah. :)

Selain merasakan kengerian, gua juga merasa menyesal karena gua tak jadi mencetak foto yang di potret oleh seseorang yang ada di bawah sewaktu kami sedang menaiki wahana tersebut. Padahal saat itu kami pas sekali sedang duduk berderet, dan tak ada buram-buramnya di foto tersebut. Cuman, memang lumayan agak mahal sih, sekitar 25 ribu sampai 35 ribu kalau tidak salah. Seandainya saja gua bawa uang lebihan waktu itu. Ckckck....




Lalu, last wahana adalah "Bianglala". Wahana yang sewaktu gua kecil itu sangat gua sukai, ternyata jadi sedikit menakutkan juga. Karena ada teman gua, Julian, yang selalu iseng, seperti menggoyang-goyangkan tempat duduk kami saat sudah mencapai atas. Takutnya bisa lepas aja dan kagak tau dah jadi apa nanti setelah jatuh di atas tanah. :s

Oh ya, waktu di antrian, si Robin lagi-lagi muntah yang ketiga kalinya. Namun ada seorang perempuan yang gua rasa masih SMA, yang tiba-tiba saja memberikan tisue untuk Robin. Ia berkulit putih, memakai kacamata besar dan topi, lalu juga memakai baju biru. Kalau dilihat sih, ia bisa dikatakan cukup cantik dan stylish. Sudah begitu, sifat baiknya bisa memberikan nilai plus dah untuknya. Andai saja waktu itu bisa berkenalan dengannya hohoho... (ngarep). Tapi ia sendiri pun terlihat terus melirik salah seorang dari kami, dan yang pastinya bukan gua :( hiks... (contoh orang pesimis). Mungkin saja ia juga ingin berkenalan tapi tak kesampean juga sama seperti kami. Lupakan saja deh.... ^^

Setelah turun, Robin telah mendapatkan piring (khayalan) karena sudah muntah yang ke empat kalinya. Makan siangnya pun bisa dikatakan sudah keluar semua dah.... 

Selesai sudah perjalanan kami yang akhirnya tak jadi ke pantai karena sudah gelap, yaitu jam 6 lewat, yang berarti juga sebagai waktu tutupnya Dufan. Benar-benar seru dan memiliki cerita-cerita yang menarik! :D



***

Kejadian-kejadian lainnya:

1. Di hari kami ke Dufan ini adalah juga hari dimana terdapat teror bom buku bohongan di kampus tercinta kami, ubm. Sampai-sampai datang penjinak bom dan masuk berita. Mantap dah!

2. Waktu sudah keluar dari Dufan, gua lupa kalau tak ada angkutan umum yang menuju ke arah ubm! Alhasil, mereka semua menjadi menderita gara-gara gua, yaitu jalan kaki sampai ubm!!!! Hhh... bodohnya gua, dari awal malah mengusulkan untuk naik angkutan umum saja, dan memarkir motor mereka masing-masing di ubm sebab jika parkir disana akan gratis karena sudah menjadi member, dan agar tak membayar uang parkir di Dufan yang cukup mahal. Tapi gua benar-benar sama sekali tak terpikir waktu pulangnya.... Ckckck.... Sorry ya kawan.... :(

3. Kalimati adalah tempat makan malam kami setelah sudah berhasil sampai di ubm dengan kaki yang rasanya hampir lepas.

***



Dufan itu memang adalah salah satu tempat yang sangat menyenangkan untuk jalan-jalan. Semoga saja memiliki wahana yang baru lagi dan pastinya harus lebih menegangkan. ^^

Besar terima kasih gua untuk mereka yang telah memberikan pada gua sebuah pengalaman yang menyenangkan dan menarik di Dufan....



Terima kasih readers....
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath