Trip To Bandung At 25 Dec 2010

Tengah malam ini gua akan menceritakan apa yang sudah terjadi pada tanggal 25 Desember tahun 2010 kemarin. Gua harus menceritakannya, karena sangat menarik sekali kejadiannya. Berhubung juga sekarang sedang tak ada bahan untuk diceritakan, jadinya gua akan musiumkan saja disini.

Kenapa gua gak buat di tanggal 25 Desember tersebut? Di akhir cerita nanti, kalian juga akan mengetahuinya.

Gua menulis ini pas sekali sedang mendownload tiga video dari YouTube yang isinya adalah sebuah lagu Natal yang dibawakan oleh seorang Public Figure yang luar biasa, Agnes Monica. Kalian bisa check videonya di sini: http://www.youtube.com/watch?v=iG4bUflDfDk&feature=related (ini salah satunya. Dua yang lain, bisa kalian cari di suggestionsnya ^^)

Ya, Natal tahun 2010 kemarin, tak disangka-sangka, keluarga gua memutuskan untuk jalan-jalan ke Bandung. Nyokap, cici, gua, ade, dan pacar cici gua akan pergi kesana dengan menggunakan mobil kepunyaan pacar cici gua yang bernama Toni. Dan ada supir yang tinggalnya di dekat rumah saudara-saudara dari nyokap gua, yaitu bernama "Kampung Belakang", yang gua lupa namanya siapa. 

Awalnya sih agak bingung juga pingin ikut atau tidak, karena sudah pasti ada ibadah di Gereja gua untuk menyambut Natal. Tapi untungnya, langsung keluar bohlam lampu di malam harinya, setelah gua abis keliaran bersama Yoel, Kelvin, dan lain-lain (malam hari raya pasti pengennya keliaran melulu haha). Gua sadar kalau gua itu belum pernah pergi bareng sama keluarga gua. Jadinya, gua langsung mencoba untuk tidur cepat-cepat setelah melihat jam yang ternyata sudah jam dua pagi! Karena jam lima harus sudah siap-siap semuanya.

Dua jam gua tidur, dan ngantuk sekali rasanya. Bersyukurnya gua, karena perjalanan yang begitu lama, gua bisa tidur lagi di kursi mobil yang ada di bagian belakang, yang khusus buat gua seorang saja.

Dan ini lah tempat-tempat yang gua dan keluarga gua kunjungi di Bandung, setelah gua bangun dari tidur yang tak nyenyak:

1. Ciater

Tempat wisata yang terkenal dengan pemandian air panasnya ini adalah kunjungan pertama kami. Kata nyokap gua sih, didatengin pertama kali karena sugesti dari banyak orang yang pernah berwisata ke Bandung juga.

Di Ciater ini, tempatnya sangat berbeda dari apa yang pernah gua khayalkan. Ternyata adalah sebuah tempat seperti di taman bermain. Masuknya saja harus bayar. Cuman memang cukup sejuk sekali, karena letaknya di dataran tinggi, dan di kelilingi banyak pegunungan hijau pula.

Disana itu terdapat: Kolam renang yang pastinya menggunakan air hangat, danau kecil yang memiliki perahu-perahu kecil sewa-an untuk yang mau bersantai mengitarinya, Rumah Hantu 4 Dimensi (main tembak-tembakan pake laser), Panggung Pertunjukan tarian-tarian daerah, Flying Fox, orang-orang berjualan, dan yang terakhir adalah sungai hangat yang di kiri kanannya ditaruh tiker-tiker sewa-an, untuk wisatawan-wisatawan yang ingin menikmati hangatnya air tersebut. Sangat laku waktu gua lihat, dan memang banyak yang rela memakai pakaian renang untuk berendam di sungai tersebut. Sayangnya, gua gak bisa mencobanya karena tak bisa berlama-lama juga di Ciater. Jadinya cuma mencelupkan tangan sebentar aja deh.... Hiks....

Tapi akhirnya, gua bisa juga bermain "Flying Fox". Yaitu suatu permainan dengan cara meluncurkan badan kita yang sudah diikat rapi,  ke bawah secara diagonal, di tali yang kuat sebagai lintasannya. Cici sama nyokap gua sih awalnya mempertanyakan keberanian gua untuk bermain. Dan gua pun menjawab dengan tegas kalau gua suka hal-hal yang menantang seperti itu. Lucunya, setelah gua mendatangi Pos "Flying Fox" yang buat gua harus naik tangga terus, ternyata yang kebanyakan main tuh anak kecil coy! Hahaha.... Gua yang paling tua sendiri waktu itu. Dan kalau gua sampai teriak sih, bisa memalukan banget dah. 

Lintasannya sih memang kurang panjang, dan kurang tinggi pula sebenarnya. Tapi waktu meluncur, berasa sekali adrenalin yang tiba-tiba mengacu. Yang bisa buat gua jadi pengen nyoba lagi! Namun sayangnya, harus bayar sebesar lima belas ribu rupiah lagi. Cape dehh....

Setelah itu, kami tak melupakan yang namanya "foto-foto". Ini dia beberapa foto dari kami:




Kami pun tak mau lama-lama, karena satu hari itu kami harus mendatangi tiga tempat. Dan saat kami sedang keluar menuju ke parkiran mobil, pas-pas-an sekali, tiba-tiba gerimis mengguyur. Untungnya setelah gua membeli kenang-kenangan berupa gantungan kunci seharga RP 7500, yang adalah sebuah kayu hiasan kecil, dan bisa ditulis nama gua, dan tanggal pada hari itu dengan menggunakan suatu benda panjang seperti pensil, tapi bercahaya di ujungnya.

2. Gunung Tangkuban Perahu

Sekitar jam satu siang, gua sampai disana. Dan tak salah kami cepat-cepat meninggalkan Ciater, karena macetnya di jalanan memutar untuk sampai ke puncak gunung, sudah sangat menyebalkan.

Tempat wisata yang satu ini, walau hanya melihat sebuah kawah yang masih aktif, tapi bisa membuat gua menjadi begitu takjub! Dari ketinggian, gua bisa melihat suatu karya Tuhan yang benar-benar luar biasa. Kawah yang sedemikian besarnya memang dapat dibilang dapat membuat banyak orang menjadi tak apa-apa berada tak sebentar di puncak gunung. Karena pemandangan yang menyeramkan, tapi indah tersebut bisa memuaskan mata soalnya.

Selain melihat kawah, disana kami akhirnya bisa makan siang juga. Bakso yang dimahalin oleh penjualnya lah yang menjadi makanan kami waktu itu. Ckck... memang banyak sekali yang dimahalin disana. Sebungkus Energen coklat saja dijual dengan harga goceng. Gila kali!

Setelah itu kami foto-foto, dan salah satu fotonya itu berasal dari penjual foto keliling. Yang kerjaannya adalah menawarkan memotret dengan kamera digitalnya, lalu langsung dicetak lewat mesin cetak kecilnya. Hasilnya lumayan bagus.

Adek gua, Silvia Ranti, mendapatkan keinginannya disana untuk mempunyai topi berbulu. Susah payah meminta sama nyokap gua, yang berakhir indah untuknya. Hihi....

Tak lupa, disana juga gua bertemu dengan salah seorang teman semasa SMA gua, yang bernama Wahyudi. Ia juga pergi berwisata bersama keluarganya. Benar-benar tak disangka.

3. Kampung Daun

Perjalanan menuju ke tempat ini bisa dibilang paling lama. Gua pun jadi pengen tiduran lagi di jok belakang. Yang nyatanya bukan buat gua jadi santai, tapi tak damai. Pusing kepala waktu itu.

Awalnya sih gua kira nih tempat wisata dipenuhi dengan daun-daun yang beraneka-ragam jenisnya. Siapa tau ada daun yang biasanya dijadikan sebagai kokain (obat terlarang cuy!). Tapi ternyata adalah sebuah tempat wisata kuliner yang uniknya tuh dikelilingi oleh dedaunan yang hijau.

Sempat kecewa juga, karena cuman bisa melihat dedaunan dan orang-orang yang lagi makan di pondok-pondok sewa-an yang terpencar-pencar. Apalagi sewaktu kami memutuskan untuk mencoba makan disana. Ternyata sudah banyak sekali orang yang mengantre! Ada sekitar sebelas orang yang sedang menunggu. Tidak mungkin lah kami mau menunggu mereka. Sehabis makan saja, rasanya masih betah duduk-duduk di pondok. Khususnya di pondok yang dekat dengan air terjun mini. Jujur dah, tempat makan yang enak banget tuh.


Mau tak mau, cuman gua sendiri aja yang sibuk foto-foto. Yang lainnya udah pada malas. Lalu, kami langsung menuju ke tempat parkiran. 

Tapi, tiba-tiba muncul sebuah peragaan pantonim yang bisa membuat banyak orang menjadi berhenti untuk melihatnya sejenak. Peragaan tersebut dilakukan di jalanan-jalanan dalam Kampung Daun tersebut, bukan di panggung. Dan cuma ada tiga orang yang beraksi dengan menjadi Santa Claus, Iblis, dan orang biasa bertopi putih(sepertinya). Sesuai jenisnya yang adalah pantonim, jadi mereka hanya mengandalkan komunikasi non verbal. Kurang jelas sih atraksinya, tapi anak-anak pada demen waktu itu.

Gua ingat kalau disini gua banyak sekali mengambil foto-foto, karena sebenarnya ingin gua jadikan sebagai berita untuk genre wisata kuliner (tanpa makan). Ckckck....

4. Saung Balibu Sunda

Ini bukan tempat wisata. Tapi adalah tempat makan khas Sunda, yang dijadikan tempat untuk dinner kami. Kalau di Kampung Daun kami susah mendapatkan tempat duduk karena harus mengantre dahulu, disini malah mudah sekali mendapatkannya. Sekali datang, langsung mau duduk dimana saja suka-suka kami. Karena waktu itu yang makan tak begitu banyak.

Tempatnya bertingkat dua, dan bisa dibilang cukup untuk tempat makan orang menengah. Terlihat dari harga-harganya yang minimal kurang lebih adalah dua puluh lima ribuan. Dan paling mahal bisa sampai seratus ribu lebih.

Nyokap, si supir, gua, dan adek pun memesan sama yang gua lupa namanya apa (sebalnya!). Yang pasti isinya adalah nasi, ikan asin (cuma dikit), tempe, tahu, dan ayam yang ditaruh di atas piring yang seperti anyaman dari kayu-kayu tipis sehingga enteng sekali, dan sudah tertutupi daun kelapa. Bersyukurnya, gua tak pesan yang isinya daging ayam, tapi sapi yang tipis sekali karena ingin mencoba yang berbeda (bersyukur banget gua!). Sedangkan cici gua dan pacarnya, mereka memesan ikan goreng kering terbang, yang waktu gua coba, rasanya benar-benar maknyos!! Namanya juga menu andalan sih.

Untuk minumannya, dikasih gratis berupa air teh hangat nan pahit, yang boleh ditambah terus. Tapi untuk gua, adek dan pacar cici gua sih mau yang lain. Gua pesen cappuccino hangat (karena tambah sore tuh tambah dingin), yang telah membuat adek gua menjadi menginginkannya juga. Kalau pacar cici gua, dia pesen minuman yang gua lupa namanya apa, tapi bisa menghangatkan tubuh.

Disana, tak ketinggalan ada perempuan sebagai penjual minuman yang mendatangi kami. Pertama, kami diperbolehkan mencicipi minuman madu yang sudah tercampur sesuatu di gelas kaca kecil. Rasanya manis sekali. Dan dikatakan olehnya kalau vitamin yang terkandung sangat banyak, dan bisa membantu proses penyembuhan penyakit seperti sariawan, panas dalam, dll. Nyokap gua pun membeli tiga botol kecil. Dan gua sudah meminum dua botol setelah pulang. Habisnya enak banget sih!

Yang penting disana tuh gua kenyang habis deh.... Enak banget makan di tempat yang letaknya di sekitar pegunungan.... Setelah itu kami pulang juga.

***

Di perjalanan pulang, tak puas kalau tidak membeli makanan-makanan puncak yang murah-murah. Tapi itu hanya dilakukan oleh nyokap gua dan yang lainnya. Gua mah tiduran aja di dalam mobil karena terlalu kekenyangan, sampai rasanya pengen muntah juga.

Perjalanan pergi sama pulang itu beda habis. Perjalanan pulang lebih lama dari yang gua kira. Saking lamanya, kira-kira 4 jam, gua pun menjadi tambah pusing dan gak kuat, walau udah tiduran. Waktu itu gua sama sekali gak bisa tidur. Dan pusingnya tuh disebabkan karena kebanyakan tiduran, jadinya kepala udah gak nyaman banget nyentuh sesuatu.

Setelah sudah mau sampai rumah, dikiittt lagi nyampe rumah... gua muntah! Apa yang gua makan, keluar lagi, tapi gak semuanya (rasanya). Dan gua pun jadi sakit. Sebalnya, waktu sudah sampai rumah, dan gua mencoba untuk tidur. Ya Tuhan... SAMA SEKALI GAK BISA TIDUR!! Kepala juga mati rasa. Jadinya gua duduk aja dah waktu itu malam-malam. Hiks....

Tapi tak apa-apa.... Pengalaman yang tak akan pernah gua lupakan ini (pastinya). :')

Terima kasih my fam....
Terima kasih readers....

Merry Christmas!! (udah lewat abis ya... hehehe)
Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath