Masih Teringat akan Bokap

Waktu terus berjalan. Jarum jam yang biasanya ada tiga, tak pernah berhenti bertugas untuk memberitahukan pada kita tentang sebuah masa. Kecuali kalau batrei jamnya lagi habis, sulit deh....

Gua gak nyangka kalau semenjak meninggalnya bokap gua tercinta, akan terjadi banyak sekali perubahan di dalam hidup gua. Sebuah kehilangan yang besar memang mendatangkan perubahan yang besar juga. Kulkas yang pernah dibelikan oleh bokap gua pun kini sudah berubah menjadi baru. Dan rumah gua juga akan segera berubah. Ya, gua akan pindah rumah setelah cici gua udah menikah. Itu semua karena nyokap gua ingin ikut ngumpul di rumah-rumah saudaranya yang ada di kampung belakang dekat Villa Taman Bandara. Nyokap gua sedih waktu bilang pengen bangun rumah di sana. Karena berarti nyokap gua sedang sadar kalau ia sudah sama seperti beberapa saudaranya, yang sudah tak punya suami lagi karena waktu hidup suami mereka sudah habis juga seperti bokap gua. Perubahan besar ini memang telah memberikan sebuah kehidupan baru yang harus kami terima apa adanya.

Kadang, duka ini suka timbul dikala malam dan pagi hari. Kalau malam mah sudah biasa ya, karena udara dingin yang ada di luar bisa buat kita semua menjadi galau. Apalagi jika diiringi lagu yang super melow, seperti yang sedang gua dengerin sekarang (MYMP's Song), pastinya udah mampus dah nerusin galaunya. Sedangkan di pagi hari, ......... rasanya benar-benar tak mau beranjak bangun. Air mata sudah menjalar sampai basah di ini mata. Karena menjadi sempat bertanya-tanya di dalam benak, "apakah setelah meninggal, papa udah tahu ya rahasia-rahasia Anton?" ; "mengapa gua waktu itu tak ikut papa ke Bandung? (waktu itu gua lagi musuhan sama bokap gua, dan ia ingin memperbaikinya lewat mengajak gua doang untuk menemaninya bekerja di Bandung. Sungguh bodoh gua ini!!!!)" ; Dan ini yang paling menyakitkan, "gua belum ngebahagia-in papa gua!! (Padahal dia sungguh menginginkan gua untuk lahir di dunia ini. Dia ingin punya anak laki-laki setelah cici gua lahir. Tapi gua malah jadi kayak gini.... Tak bandel seperti merokok, dan lain-lain sih, tapi lebih dari itu. Gua jarang ngomong dengannya. Tak pernah membagi apa yang gua rasakan dengannya. Terakhir dan rasanya pertama kali gua dipeluk, gua ingat sekali. Waktu itu gua masih kelas 3 SMA, dan gua sedang sakit parah. Saking parahnya, gua jadi berlaku seperti orang kesurupan, tapi bukan kesurupan sebenarnya. Ada yang salah dengan otak gua waktu itu.... Dan tiba-tiba gua dipeluk olehnya).

Hiks... padahal dia pernah bilang dengan yakinnya, kalau gua akan dibelikan motor, kamera, dan printer, untuk membantu perkuliahan gua. Tapi cepat sekali bokap gua meninggalnya.... Sekarang gua benar-benar butuh dipeluk olehnya. Karena hati gua sungguh sakit untuk menerima kenyataan ini.

Sejak bokap gua meninggal, gua selalu ingin tahu. Apa yang ia lakukan dan pikirkan di tempat tidurnya sebelum jantungnya berhenti berdetak waktu itu. Pastinya ia akan tahu kalau ia akan meninggal, dan sebelum waktunya tiba, menurut gua, ia akan melakukan sesuatu. Apakah ia sedang memikirkan gua dan keluarganya? Apakah ia sedang berdoa untuk gua dan semuanya? Benak gua selalu bertanya-tanya. Tapi tetaplah hanya bokap gua dan Tuhan yang tahu.

Semua sudah berubah sekarang. Sangat berubah.... Persahabatan gua pun juga sudah berubah.... Tapi semuanya sudah pasti akan terjadi untuk semua orang. Tuhan memang sudah merancang sedemikian rupa, untuk tetap membuat emosi kita berjalan, sebagaimana karena kita adalah makhluk ciptaannya yang sempurna. Yang selalu memberikan sinyal kepada kita, kalau kita butuh diriNya dan tak bisa hidup tanpaNya.

Terima kasih Tuhan Yesus.... Engkau adalah Bapa yang paling baik dan sempurna....
Terima kasih keluargaku.... Kalian telah memberikan sebuah sifat, untukku dapat menjadi yang berbeda dari yang lain....
Terima kasih sahabat.... Kau menerimaku apa adanya, dan aku pun menerima engkau apa adanya....

Gbu

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath