Tentang Knocked Up Dengan Tangan Hangat Seorang Ayah

Jarum panjang sedang berjalan ke angka dua belas, saat aku mulai menulis blog tercintaku ini lagi. Sebentar lagi jam satu, dan untung lah aku telah melakukan aktifitas yang membangkitkan semangatku kembali untuk menulis. Apakah itu? Sudah pasti "menonton lah! Hahaha....

Film apakah yang hari ini kutonton, tak kalah serunya dengan film kemarin. Film ini sungguh memberikanku sebuah pelajaran yang sangat penting, tentang keputusan untuk memilih jalan yang benar di usia muda. Dan aku sangat merekomendasikan film ini untuk kalian! Setelah dibaca sedikit ceritanya, buruan beli atau sewa di toko-toko kaset terdekat ya! ^^


Film dengan judul "Knocked Up" ini, adalah sebuah film yang bercerita tentang dua orang(laki-laki dan perempuan) muda, yang telah melakukan kesalahan terbesar mereka. Yaitu: melakukan hubungan badan tanpa menggunakan "K". Menjadikan si perempuan yang diperani oleh Katherine Heighl ini hamil di luar nikah. Padahal mereka berdua sama sekali belum mengenal satu sama lain. Semua ini terjadi pada saat mereka tiba-tiba bertemu di bar.

Saat kita menonton film ini, sangat terlihat kalau paksaan-paksaan dan tuntutan-tuntutan untuk menjadi dewasa harus dapat dijalani secara lapang dada sebelum sang bayi lahir. Memang setiap perbuatan, pasti akan selalu ada konsekuensinya. Tapi, walaupun salah, selalu ada hal baik disaat ada kemauan untuk menempuh kesalahan itu dengan berani dan bertanggung jawab. 

Ya Tuhann... disaat aku melihat akhir film ini, tiba-tiba aku menjadi sangat kangen dengan ayahku. Aku menjadi iri sekali disaat ada adegan seorang bayi lucu yang sedang digendong oleh ayahnya, diikuti dengan mengucapkan kata-kata manis kepadanya. Aku sangat ingin melihat ayahku lagi Tuhan.... Seperti saat ia sedang berkata-kata kepadaku, dan memberikanku uang. Sampai akhirnya suatu hal yang kuimpikan terjadi. Tiba-tiba setiap harinya aku selalu memeluknya sebelum pergi kemana saja, sambil berkata,"aku sayang papa...."

Kenyataan ini masih aku rasakan seperti sebuah mimpi. Tapi mau tak mau, aku harus menghadapinya dengan berani sekarang. Dan aku harus siap untuk menjadi laki-laki yang sepertinya, yaitu: bertanggung jawab. Serta tentu saja aku harus terus menerus menyerupai Bapaku yang ada di Surga. Karena mana bisa hidup aku, jika tak ada Dia yang masih mau memeliharaku dengan tangan hangatNya.


...Terima kasih...
...GBU...

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath