Tentang Fireflies In The Garden dan Kehidupan Sejati Kita

Kita tahu kalau kita, sebagai manusia itu, sudah pasti memiliki sifat serta karakter yang berbeda-beda. Kadang ada yang bilang kalau sifat kita itu jelek, dan kadang pastinya, akan membuat kita bisa lebih gembira, jika ada yang bilang kalau sifat kita itu bagus. Indahnya dunia, karena kita semua memiliki hal buruk dan hal yang baik. Sungguh sebuah keunikan yang akan membuat udara-udara sekitar bisa menjadi lebih segar, saat masih ada yang namanya "bertahan diri" atau "struggle" dan "menikmati" atau "enjoying" semua yang ada tentunya.


Apakah kalian pernah menonton film "Fireflies In The Garden"? Jika pernah, kalian bisa melihat dengan mata dan hati kalian, kalau setiap orang itu masih tetap memiliki kekurangan dan kelebihan walau sudah dewasa sekalipun. Ada orang yang kelihatannya buruk sekali kelakuannya, tapi di suatu momen, dimana muncul sebuah kesadaran diri secara tiba-tiba, kebiasaan buruknya itu akan terkikis dan berubah menjadi hal yang paling menakjubkan yang pernah dilihat. Orang-orang biasa menyebutnya adalah sebuah "keajaiban". Lalu, ada juga pastinya seseorang yang enak diajak bergaul. Yang memiliki kemampuan untuk membuat banyak orang menjadi nyaman didekatnya, dan sangat memiliki banyak hal-hal yang paling disenangi oleh banyak orang. Mungkin itu adalah sebuah pengertian yang besar terhadap seseorang, atau penegasan secara lembut, agar banyak orang yang merasa dirinya kekurangan, bisa diberikan sebuah petunjuk dari orang yang enak diajak bergaul ini. 

Aku senang sekaligus sedih setelah menonton film ini. Sebuah kisah yang menceritakan tentang satu keluarga besar yang memiliki kerumitan dan hampir hancur, benar-benar membuatku kagum setelah melihat apa yang terjadi di akhir ceritanya. Film ini pun sama sekali tak membosankan menurutku. Konfliknya sangat banyak, dan tiap adegan memiliki makna yang penting. Sudah semuanya diperani oleh aktor-aktor terkenal, seperti Julia Robert(Eat Pray Love), Ryan Reynold(Blade 3), Willem Dafoe(Spiderman, The Last Temptation of Christ), Emily Watson(Miss Potter, Red Dragon), Carrie Anne Moss(The Matrix), dan lain-lain, yang pastinya mereka mendukung habis isi ceritanya deh.

Bayangkan saja, ada seorang ayah yang otoriter sekali terhadap anaknya. Tapi karena anaknya itu terus bertahan hidup, dengan bantuan dari ibunya juga yang terus mendukungnya, akhirnya bisa timbul sebuah pengertian, dan hal-hal yang tak dapat diduga oleh banyak orang. Hal-hal baik pun muncul dari yang terlihat jahat, dan hal-hal buruk juga muncul serta ketahuan dari yang terlihat baik. Membuktikan kalau semua orang itu sama saja.

Sekarang aku bisa kembali lagi menikmati segala sifatku yang ada apa adanya sekarang. Mungkin keberanianku, bisa membuatku dapat lebih tinggi lagi. Tapi ketakutanku, mungkin bisa membuatku tak melakukan banyak hal-hal bodoh, yang dapat mempermalukan diriku sendiri dan keluargaku nantinya.

Love my God, my family, my days, my friends, and absolutely my best friends.... ^^

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath