Akhir Lomba yang WoW!

Apa yang sudah terjadi kemarin, adalah sebuah KEKECEWAAN yang besar. Lebih besar saat aku menyadari kalau sampai sekarang, belum ada sepeda yang dibawa ke rumah oleh ibuku. Untuk aku dapat belajar mengendarainya lebih maksimal, hingga motor pun dapat aku tunggangi. Oh... benar-benar KECEWA!

Lepas dari kedewasaan yang orang lain ingini dari tiap orang-orang yang telah mengalami sesuatu yang buruk, aku benar-benar melepaskannya. Aku tak peduli orang mau bilang kalau aku adalah anak kecil atau apapun. Karena kali ini sangat berbeda, dari kejadian-kejadian yang telah menimpaku.

Tepat jam delapan pagi aku tiba di sekolah dengan membawa tas berisi lemon tea di sebuah botol, dan juga aqua botol yang airnya diisi dari galon isi ulang punya keluargaku. Aku pun masuk ke ruang multimedia di gedung SMAku, lalu latihan selama tiga jam-menunggu keberangkatan.

Semua sudah lengkap. Kostum dan semua properti sudah kami siapkan. Walau ada yang tak terbawa, kami tetap sudah siap. Segalanya tentu bisa direkayasa, bukan? Hey para pemain.

Jam sebelas lewat, kami berangkat. Kali ini dengan dua mobil. Dengan kurang setuju, aku menaiki mobil carry yang berwarna merah-menduduki tempat duduk yang ada di tengah-tepat di tengah-tengah dua perempuan yang masih kelas sepuluh, bernama elyna dan lady. Dan aku pun menidurkan diriku. Karena aku suka keadaan yang ramai, walau sempit-sempitan. Jadinya waktu pulang, waktu kami menerima penghargaan seperti minggu lalu, kami dapat bersukacita dan bercandaria bersama-sama. Asik kan?? Menurutku sudah pasti seru sekali.

Namun, singkat cerita. Kami kalah. Tak mendapatkan juara satu, dua, dan juga tiga.

Perasaanku benar-benar kacau. Rasa gugup yang gila yang tiap aku rasakan sebelum pentas, rasa malu yang sudah aku matikan-hanya untuk membuat semua orang tertawa terbahak-bahak, rasa senang karena mendapatkan pujian dari ketiga dewan juri, dan rasa bahagia karena kelompokku juga sudah bermain dengan gila-gilaan, hingga para penonton dan juri menyukai kami karena benar-benar lucu, menjadi tak terbayar. Semua karena dewan juri memutuskan untuk memilih pemenang secara 'dewasa' alias secara teoritis yang lebih bagus, walau pentasnya agak membosankan. Jadinya yang menghibur sekali seperti kami ditiadakan saja. Aku benar-benar sangat kecewa, peduli aku seperti anak kecil atau apapun yang sudah aku bilang sebelumnya.

Tapi kalau pementasan dari UI, aku setuju mereka dapat juara satu. Malah aku ingin masuk dalam kelompok mereka. Itu sudah pasti! Karena yang mereka tampilkan kemarin adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan, menyentuh, dan pas. Lawakan ada, serius pun ada. Kurang apa coba??

Hhh....

Sekarang aku hanya ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada :
- Ma'am Yulie
- Randy Fransiscus
- Lady
- Ira
- Cintia
- Nitto
- Crista
- Steven
- William
- Kevin
- Elyna
- dan terakhir untuk Universitas Lia, yang telah memberikan kesempatan untuk sekolah kami

Terima kasih...

GBU

Anton Suryadi

Independent but not a sociopath